Dinding Keilahian

Anil Hukma - Penyair.
Oleh Anil Hukma
Pengajar Universitas Islam Makassar
menitindonesia – BILA menyebut kata usia, maka ibarat rel waktu yang terbentang di hadapan kita. Seperti menyusuri suatu jalan, kadang kita berada di dalam jalan yang datar dan lurus, kadang menanjak atau bahkan menurun. Semua itu adalah hal wajar untuk sampai pada ujung tujuan, dimana tiket kepergian kita sudah ditetapkan jadwal berangkatnya dan akan tiba di tempat mana dengan sejumlah nilai nominal tiket, sesuai jauh dan pendek jarak yang akan kita tempuh.
Lalu, seperti pendakian, pekerjaan adalah sepatu paling dasar untuk mengukur tingkat pencapaian. Tetapi di sini kita tidak memilih pekerjaan apa, hanya satu ukuran yaitu pekerjaan yang halal. Sebagaimana lazimnya bekerja adalah kewajiban. Di sini, kita mengambil satu person bernama Pak Durra.

BACA JUGA:
Sajak-Sajak Anil Hukma – Seruling Waktu – Catatan Ramadan

BACA JUGA:
Memaknai keberkahan Ramadan- 14

Durra sehari hari berjualan tempe, dengan motor bututnya berkeliling kota Makassar menjajal jualannya. Karena pembawannya yang ramah dan suka bicara tentang apa saja langgananya banyak terutama ibu-ibu yang tinggal di beberapa kopleks perumahan. Menjadi kebahagiaan tersendiri setiap kali dipanggil untuk singgah atau membawakan bahan makanan pesanan dari ibu-ibu tersebut.
Dari sekian langganannya Pak Durra paling senang bila panggil singgah atau ditelpon oleh Ibu Sima. Ibu Sima adalah istri dari Ustas Saleh. Sering bila sore hari Durra membawakan pesanan tempe Bu Sima. Di rumah itu, ia selalu melihat banyak orang di dapur memasak, katanya untuk makanan jamaah yang sebentar malam untuk zikir.
Sore itu saat Durra mau melangkah ke motornya yang parkir di halaman, Ustas atau Yai Soleh sedang berbincang diteras rumah dengan anaknya. Pak Durra mendekat salaman dan mencium tangan Ustas Soleh.
Saat itulah Ustas Soleh mengatakan, bila sebentar malam sudah tidak ada kerjaan, datanglah kita ngumpul ngumpul dan pengajian. Niat Durra bagai gayung bersambut, hatinya bersorak dari dalam. Malam itu langsung menerima ajakan Yai Shaleh untuk ikut pengajian.
Ternyata dari majelis ini Durra akhirnya bertemu dengan banyak teman yang kemudian menjadi sahabatnya. Di dalam mejelis tak ada sekat, semua sama. Dengan memakai baju putih sebagai symbol niat untuk membersihkan diri secara bertahap. Suatu malam, saat jamaah sebagian sudah pulang, Durra berbincang dengan Yai Soleh.

BACA JUGA:
Pemkot Makassar Raih Tiga Penghargaan Top BUMD Award 2023, Ini Prestasinya

Yai bilang, kamu harus bangga dan senang dengan pekerjaanmu. Seorang ayah yang gigih bekerja dan berjuang untuk keluarganya tempatnya adalah surga. Namun sebagai Ayah harus juga dibarengi dengan usaha beribadah semaksimal mungkin. Jangan hanya sibuk jualan. Dengan sering berada ditempat majelis engkau akan terbimbing. “Semoga kamu juga bisa pelan pelan melepaskan raut wajah salah satu langgananmu dari pikirinanmu itu. Kau pikirkan saja istri dan anak anakmu, sekolahkan mereka sampai semampumu”.
Durra sangat terkejut dengan ucapan Yai Soleh di ujung kalimatnya tadi. “Durra bergumam, kok Yai tahu ya kalau beberapa bulan ini sering membayangkan wajah seorang perempuan kemayu langganannya dan sangat bahagia bila dipanggil singgah dan membeli jualannya. Hati Durra berdegup kencang. Yai Soleh punya kelebihan. Durra lalu berjanji untuk tidak membayang-bayangkan lagi istri orang. Malam itu, Ia meninggalkan rumah Yai Soleh dengan janji akan menjadi jamaah tetap di pengajiannya.
Sejak rajin ke majelis Yai Soleh, pelan pelan dirinya berubah. Dia lebih tenang berjualan dengan doa tulus di dadanya dan lebih gigih bekerja untuk keluarga. Dagangannya juga semakin laris. Durra bahkan sudah berhasil menyewa satu lapak sederhana di pasar Sudiang. Istrinya disewakan lapak dan berjualan berbagai jenis makanan pokok dari pagi sampai sore sehingga keuntungan dan pemasukanya untuk income keluarganya lebih banyak lagi.
Sebagai jamaah tetap dan sudah senior , pelan pelan Durra melihat segala persoalan hidup dengan cara pandang yang berbeda. Dari dinding dinding jiwanya dia menyadari ada keinsafan yang pelan pelan tumbuh . hati kecilnya seakan melebar dengan dimensi tak terukur. Durra merasa dirinya lebih tenang, tidak grasak grusuk dan dewasa. Apa yang dihadapinya setiap hari dalam pekerjaan sebagai penjual tempe kian dinikmati sebagai pekerjaan yang terbaik untuknya . Di rumah Durra tetap sumringah setiap istrinya dan anaknya anaknya meminta segala kebutuhan hidup mereka sebagai suatu kewajiban dari seorang ayah dan sebagai kepala keluarga.
Durra merasa ada dinding dinding gelap yang satu persatu gugur dengan sendirinya dan memperlihatkan banyak dinding dan jendela kenyataan yang terbuka dan dipahami sendiri lewat kesadaran yang terasah. Durra yang sangat jarang menangis karena sebagai lelaki hatinya sudah sekeras batu dan jarang tersentuh kini lebih peka dan kembali menyayangi keluarganya dengan sepanuh hati. Ada ‘dinding dinding’ yang selama ini berkarat dan menempal pelan pelan terkelupas dan memunculkan terang lalu memperlihatkan warna aslinya secara samar. Dalam hal ini, benar seperti dikatakan satu ayat, bahwa Allahlah yang membolak balik hati manusia. Untuk itu kita senantiasa berharap agar selalu berada dalam tuntunan dan bimbinganNya.
Mengenai dinding yang di maksud bukan dinding rumah atau daun pintu yang kita temui setiap hari. Ini adalah istilah bahasa sebagai instrument formal dimaknai sebagai ketersingkapan. Penglihatan mata lahiriah selalu dibatasi oleh dinding dinding penyekat di setiap kita melangkah di semua ruang. Kadar ketersingkapan, lebih menyadari dan memahami sesuatu, yang muncul dari pandangan hati dan diiringi oleh kesadaran akal untuk mengurai menjadi pemahaman atau dengan rasa tercerahkan. Dengan inti bahwa realitas ruhani yang tersingkap itu melampaui konsensus kebahasaan.
Salah satu jalan untuk meraih rasa tercerahkan ini adalah berpuasa. Dengan satu bulan merasakan lapar , kita bisa menerbitkan kesunyian diri secara umum tentang makna lapar jasmani sehingga kita bisa lebih peduli,menyayangi sesama manusia sehingga kita terlahir kembali secara murni.
Mengenai istilah pendakian usia, jenis pekerjaan, majelis hanya menjadi ilustrasi mengenai beragam jenis manusia yang berjuang menjadi lebih baik dalam tataran perkembangan perbaikan diri jasmani dan rohani dengan korelasi bagi perjuangan diri personal untuk meraih kualitas dalam menjalani petak petak hari. Dalam tirai waktu, dimana manusia sebagai pelaku dan pemakna peristiwa sesungguhnya dari dalam diri kita ini, tersimpan semua kunci dinding dan pintu.Gerak perubahan rohani itu nisbi dan nir logika. Namun sebagai fenomena eksitensial diri sangat nyata dan jelas jika sudah tersibak. Tirai pemahaman ini bisa muncul bila dinding ke-IlIahi-an menuntun kita dalam selimut hidayahNya.