Cerita Ironi Dunia Pendidikan dan Harapan Membara Anak-Anak Dusun Bara

Suasana Belajar Mengajar di sekolah kolong di Dusun bara, Desa Bonto Somba, Kecamatan Tompobulu, Maros, Sulsel. (Bakri)
menitindonesia, MAROS – Di Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei, masih tetap menyisakan kisah kelam. Betapa ironis, besarnya anggaran pendidikan termasuk gencarnya program Makan Siang Bergizi Gratis (MBG), sama sekali belum menjamah anak-anak di sebuah dusun terpencil di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Di Dusun Bara, Desa Bonto Somba, Kecamatan Tompobulu, puluhan anak yang sedang mengejar mimpi, justru menelan kenyataan pahit. Mereka terpaksa belajar di bawah kolong rumah bekas kandang ayam, beralaskan tanah, tanpa dinding dan tanpa sekat. Meski demikian, mereka tetap semangat merangkai huruf demi huruf, mengeja harapan dan menganyam cita-cita.
Dusun Bara adalah sebuah dusun terpencil yang berjarak sekitar 50 kilometer dari Kota Maros. Di sana, SD Inpres 238 Bonto Parang membuka kelas jauh, bukan dalam arti lokasi, tapi benar-benar “jauh” dari standar kelayakan.
Di bawah rumah panggung milik warga, yang dulunya kandang ayam, puluhan siswa dari kelas 1 hingga kelas 6, belajar bersama dalam satu ruang. Hanya ada satu papan tulis. Guru mengajar secara bergantian, berbagi suara dan perhatian untuk anak-anak dari berbagai tingkatan.
IMG 1637
Saat Proses Belajar mengajar, terkadang puluhan ekor ayam ikut masuk, seolah sengaja mengusik konsentrasi anak-anak sedang belajar. (Foto : Bakri)
“Kalau ayam berkeliaran sudah biasa. Tapi yang membuat kami terganggu itu karena semua kelas dicampur. Jadi kami yang kelas enam mau tidak mau menyimak pelajaran anak kelas 1 sampai 5. Mereka juga begitu,” kata Mirna, salah satu siswa kelas enam.
Meski demikian, Mirna mengaku tetap betah dan semangat untuk belajar mengejar mimpinya menjadi seorang Polwan. Ia ingin menjadi yang pertama dari kampungnya berseragam Polisi dan tentunya membuat bangga orang tua yang telah rela menyekolahkan dirinya.
“Saya mau jadi Polwan, karena tidak ada tentara di kampungku ini. Saya tiga orang bersaudara, tapi dua orang yang sekolah satunya tidak karena harus bantu orang tua berkebun dan di sawah,” lanjutnya.
Anak-anak seperti Mirna belajar dalam suasana yang bagi banyak orang mungkin mustahil untuk disebut sebagai ‘kelas’. Tidak ada meja belajar ketika mereka mulai. Mereka hanya duduk, menggunakan papan panjang sebagai meja. Baru beberapa bulan terakhir bantuan dari pihak swasta menghadirkan kursi dan meja lipat yang lebih layak.
“Iye agak nyaman karena sudah ada bangku sama meja bagus begini. Tambah semangat teman-teman belajarnya,” ungkapnya.
Mirna dan teman-temannya tidak punya pilihan lain menimbah ilmu. Jarak Sekolah induknya dari kampung Bara mencapai 10 kilometer dengan medan yang sangat sulit dilalui untuk kendaraan. Tidak mungkin bagi anak-anak di dusun itu bisa mengaksesnya setiap hari. kecuali, mereka tinggal di dekat sekolah induk, menumpang di rumah keluarga.
“Tidak diizinkan sama orang tua tinggal di Bonto Parang karena jauh. Terus kalau kami sekolah disini bisa tetap bantu orang tua di kebun atau di sawah kalau pulang sekolah,” sebutnya.
Cerita Guru Penggagas Sekolah Kolong
Sekolah ini berdiri bukan karena proyek negara, melainkan berawal dari tekad seorang pemuda kampung bernama Suryadi. Ia mendirikan sekolah ini tahun 2018 karena tak ingin melihat anak-anak di kampungnya tumbuh dalam buta huruf, seperti banyak orang tua mereka. Ia mengajar sendirian, tanpa digaji, selama lebih dari empat tahun.
Saat ini, Suryadi bersama dua guru lainnya telah diangkat menjadi honorer yang digaji Rp 600 ribu perbulan. Mereka menerima gaji tiga bulan sekali. Meski jauh dari kata cukup, Suryadi mengaku sangat bersyukur atas kehadiran pemerintah membangun pendidikan di dusunnya itu.
“Saya cuma ingin anak-anak di sini bisa baca tulis. Bisa sekolah, bisa punya cita-cita,” ujarnya.
Baru pada 2023, sekolah ini diakui sebagai kelas jauh dari SD Inpres 238 Bonto Parang, dan kini memiliki tiga guru tetap yang tinggal di dusun Bara.
Jumlah murid terdaftar di kelas jauh itu sudah mencapai 73 murid. Namun saat musim panen atau musim tanam tiba, ruang belajar mendadak lengang. Hanya sekitar 20 persen siswa yang hadir, karena sebagian besar ikut membantu orang tua mereka di sawah atau ladang.
“Awalnya 20 orang yang bersekolah. Terus sampai sekarang sudah 73 orang di Dapodik. Tapi kalau lagi panen begini yang hadir hanya 20 persen karena kebanyakan disuruh sama orang tuanya ke sawah atau ke kebun,” paparnya.
IMG 1622
Suryadi, Sosok Guru sekaligus pendiri sekolah kolong di Dusun Bara. (Foto : Bakri)
Tanggapan Pemerintah
Kepala Dinas Pendidikan Maros, Andi Patiroi, mengaku pemerintah telah menyalurkan bantuan berupa tenda darurat, perlengkapan sekolah, hingga buku pelajaran. Ia juga memastikan, penganggaran ruang kelas permanen akan dimasukkan dalam program prioritas pemerintah.
Tenda darurat yang didirikan itu memang masih digunakan. Namun saat siang, suhunya sangat panas dan Ketika hujan datang, tanahnya berubah menjadi lumpur. Kondisi inipun yang membuat guru tetap memanfaatkan kolong rumah menjadi kelas utama bagi para siswa setiap harinya.
“Pak Bupati sudah pernah berkunjung langsung ke sana. Bantuan juga sudah kita salurkan seperti tenda darurat, alat sekolah termasuk seragam. Untuk ruang kelas akan kita anggarkan di perubahan atau di APBD pokok tahun depan,” katanya.
Besar harapan guru maupun siswa, agar ruang kelas yang layak serta fasilitas penunjang lainnya bisa segera ditunaikan oleh Pemerintah. Selain itu, akses jalan dari dan menuju dusun Bara yang seolah terisolir, juga bisa diperbaiki demi peningkatan ekonomi warga setempat.