HMI Dituding Tak Tumbuh dari Bawah, Arief Rosyid Sentil Cak Imin: Pernyataan Menyesatkan

Arief Rosyid (eks Ketum PB HMI) tanggapi pernyataan kontroversial Cak Imin (Menko PMK) soal HMI dan PMII dalam polemik sejarah organisasi mahasiswa Islam.
  • Pernyataan Cak Imin soal HMI dinilai menyesatkan oleh Arief Rosyid. Eks Ketum PB HMI itu menegaskan HMI lahir dari rakyat, bukan elit kekuasaan. Ini respons lengkapnya.
menitindonesia, JAKARTA – Ketika Muhaimin Iskandar, yang kini menjabat Menko PMK, melontarkan pernyataan bahwa “kalau ada yang tak tumbuh dari bawah, pasti bukan PMII, pasti itu HMI,” sontak riak perdebatan muncul di antara sesama aktivis gerakan mahasiswa Islam.
Salah satu respons paling tajam datang dari Arief Rosyid Hasan, Ketua Umum PB HMI periode 2013–2015. Bagi Arief, pernyataan tersebut tak hanya keliru, melainkan ahistoris, simplistik, dan menyesatkan.
BACA JUGA:
Taruna Ikrar Serahkan 41 Izin Edar BPOM, UMKM NTT Bangkit dari Timur untuk Indonesia
“HMI itu bukan organisasi elit. Kami lahir dari pergolakan zaman, dari kampus dan pesantren, bukan dari ruang-ruang kekuasaan,” tegas Arief dalam keterangannya, Senin (14/7/2025).
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berdiri pada 5 Februari 1947—di tengah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di masa penuh gejolak itu, HMI hadir sebagai jawaban atas keresahan mahasiswa yang ingin menyumbang pikiran dan tenaga bagi bangsa, dengan fondasi iman, ilmu, dan amal.
Bukan hanya di kota besar, jutaan kader HMI tumbuh di kampus-kampus kecil di daerah, di rumah-rumah sederhana, di pesantren-pesantren yang jauh dari gemerlap kekuasaan. Mereka tak pernah memulai langkah dari atas, apalagi dari istana.
“Kami di HMI tak tumbuh dari meja-meja kekuasaan. Justru kekuasaan itulah yang sering kami kritisi,” ujar Arief.

Mengingatkan Cak Imin

Sebagai seorang tokoh publik dan pejabat negara, Arief menyayangkan pernyataan Muhaimin yang berpotensi memperkeruh hubungan antarorganisasi mahasiswa Islam.
BACA JUGA:
Seribu Doa dari Setangkai Pohon: Prof Taruna Ikrar Tanam Harapan di Tanah Labuan Bajo
“Kalaupun disampaikan dalam forum internal, ia tetap Menko PMK. Setiap kata-kata publiknya mencerminkan posisi negara. Maka, alangkah bijaknya jika lebih arif dalam mengomentari sejarah organisasi lain.” ujar Arief Rosyid.
Ia menekankan, persaingan dalam sejarah gerakan mahasiswa seharusnya menguatkan gagasan, bukan membenturkan identitas.
Arief menambahkan, HMI dan PMII sejatinya adalah dua saudara yang telah lama berjalan di rel perjuangan masing-masing, namun menuju arah yang sama: Indonesia yang adil, maju, dan bermartabat.
“Jangan jadikan perbedaan pendekatan sebagai alat untuk saling merendahkan. PMII adalah saudara kami dalam gerakan Islam. Tapi sejarah HMI juga harus ditempatkan secara adil dan proporsional,” jelas Arief.

Arief Mengajak Bersatu

Di tengah kondisi bangsa yang membutuhkan solidaritas, pernyataan yang membelah tentu tidak bijak. Arief mengajak semua elemen bangsa untuk menahan diri dan tidak menggunakan sejarah organisasi sebagai alat untuk menjatuhkan.
“Hari ini, bangsa Indonesia butuh sinergi, bukan dikotomi. Kita tak boleh lagi terjebak dalam nostalgia perpecahan. PMII, HMI, GMNI, KAMMI, GMKI, PMKRI—semua telah memberi kontribusi dalam sejarah Indonesia. Mari saling menghormati,” pungkasnya.
(akbar endra)