Pemkot Makassar Resmi Terapkan QRIS di Pasar Tradisional

Peluncuran pembayaran QRIS di pasar tradisonal Makassar. (IST)
menitindonesia, MAKASSAR – Pemerintah Kota Makassar resmi meluncurkan sistem pembayaran digital berbasis QRIS di Pasar Niaga Daya, Jalan Perintis Kemerdekaan KM 10, Senin (28/7/2025).
Program ini menjadi langkah awal percepatan transformasi digital di pasar tradisional, dengan melibatkan lintas Perusahaan Daerah (Perusda) dan ditargetkan menyasar 9.000 pedagang.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, mengatakan penerapan QRIS bukan sekadar efisiensi pembayaran, tetapi bagian dari upaya meningkatkan literasi digital masyarakat.
“Target kita adalah warga Makassar melek digital. Tak perlu lagi bawa uang tunai, tidak ada lagi uang kembalian pakai permen atau pembulatan sepihak,” kata Munafri saat peluncuran.

BACA JUGA:
Makassar Tuan Rumah Harganas ke-32 Tingkat Sulsel, Fokus pada Ketahanan Keluarga

Ia juga menekankan bahwa sistem digital akan memperkuat pengawasan arus pendapatan daerah. Dengan pencatatan transaksi yang transparan dan real-time, potensi kebocoran anggaran bisa ditekan.
“Digitalisasi sangat membantu pengawasan. Semua transaksi terekam, bisa dilacak, jadi tidak ada lagi permainan angka,” ujarnya.
Untuk mempercepat adopsi QRIS, Pemkot akan menggelar kampanye edukatif sekaligus memberikan insentif bagi pasar yang paling banyak menerapkan sistem nontunai.
“Kita dorong dua sisi: edukasi dan reward. Harapannya, masyarakat paham manfaatnya dibanding cara konvensional,” tambah Munafri.

BACA JUGA:
TP PKK Makassar Matangkan Sistem Pendataan Keluarga Terintegrasi Lewat Bimtek Dasawisma

Pada kesempatan yang sama, Munafri menyoroti tarif penggunaan toilet di pasar tradisional yang sering dikeluhkan masyarakat. Ia menegaskan bahwa fasilitas toilet di pasar harus bebas biaya.
“Saya minta tidak ada lagi WC berbayar di pasar. Ini fasilitas publik, bersihnya harus dijaga, tapi gratis,” tegasnya.
Direktur Utama PD Pasar Makassar Raya, Ali Gauli Arif, menjelaskan, tahap awal digitalisasi dimulai di dua pasar percontohan, yaitu Pasar Terong dan Pasar Niaga Daya. Sebanyak 2.000 pedagang telah menggunakan QRIS, dengan rincian 1.300 di Pasar Niaga Daya dan 700 di Pasar Terong.
“Hari ini baru tahap launching. Ke depan, seluruh pasar tradisional akan menggunakan QRIS secara bertahap,” ujar Ali.
Ia mengakui tantangan utama adalah membiasakan pelaku ekonomi kelas bawah dengan sistem pembayaran digital. Untuk itu, pihaknya menggandeng ibu-ibu PKK agar edukasi bisa menjangkau langsung para pedagang kecil.
“QRIS untuk kalangan menengah ke atas sudah berjalan. Fokus kami sekarang ke pelaku ekonomi kecil,” jelasnya.