Muhammad Ja'far Hasibuan, ilmuwan muda peraih beasiswa Kapolri Listyo Sigit Prabowo.
Ilmuwan muda asal Sumatera Utara, Muhammad Ja’far Hasibuan, peraih beasiswa Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, masuk 10 besar Indonesia Healthcare Innovation Awards 2025 berkat inovasi pengobatan gratis Biofar SS yang sudah membantu jutaan orang di dunia.
menitindonesia, JAKARTA – Nama Muhammad Ja’far Hasibuan kembali harum di panggung nasional. Ilmuwan muda berprestasi dunia ini resmi dinyatakan masuk 10 besar Indonesia Healthcare Innovation Awards (IHIA) VIII-2025, mewakili mahasiswa Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (USU).
Ja’far, yang juga dikenal sebagai penemu Biofar SS—obat herbal tradisional yang telah membantu jutaan pasien secara gratis di berbagai belahan dunia—mengusung inovasi Pengobatan Gratis Tradisional Biofar SS. Inovasi ini masuk kategori Alat Kesehatan (Alkes) dan diapresiasi karena terbukti berdampak nyata terhadap kesehatan masyarakat global.
Kabar bahagia ini diterimanya lewat surat resmi nomor 226/IHIA/VIII/2025 yang ditandatangani Ketua Panitia IHIA, pada Rabu (2/10/2025). “Ini kebanggaan bagi saya, bagi keluarga, dan tentu bagi Indonesia. Mohon doa dan dukungan masyarakat agar karya ini bisa bermanfaat lebih luas,” ujar Ja’far dengan penuh rasa syukur.
Perjalanan Anak Asuh Kapolri Menuju Panggung Dunia
Keberhasilan Ja’far tak bisa dilepaskan dari dukungan Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo. Sejak menerima beasiswa Kapolri untuk melanjutkan pendidikan S2 di USU, Ja’far mengaku amanah itu menjadi energi besar dalam mengembangkan risetnya.
“Beasiswa ini, juga kepercayaan negara kepada anak bangsa. Saya berkomitmen, ilmu ini harus terus saya bagikan. Ilmu yang tidak dibagikan adalah ilmu yang mati,” ungkapnya.
Atas dukungan Kapolri pula, Ja’far mampu mendirikan Klinik Biofar SS di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Klinik ini menjadi pusat pengobatan tradisional gratis bagi masyarakat kurang mampu, sekaligus laboratorium kecil untuk pengembangan riset herbal. Bahkan, inovasi Ja’far kini juga mulai merambah pada pengobatan hewan ternak di pelosok.
Apresiasi Inovasi Kesehatan Nasional
IHIA adalah ajang bergengsi yang digagas Indonesia Healthcare Forum (IndoHCF) untuk mendorong lahirnya karya inovasi kesehatan terbaik. Tahun ini, IHIA menyeleksi ratusan karya sebelum memilih 10 finalis di setiap katego00ri, mulai dari Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), Mutu Pelayanan Kesehatan (MPK), SPGDT Pra-Hospital, Alat Kesehatan (ALKES), hingga Teknologi Informasi Kesehatan (TIK).
Puncak penghargaan IHIA 2025 akan digelar pada 23 Oktober 2025 di Hotel Aston Kartika Grogol, Jakarta Barat. Para nomine terbaik akan menerima anugerah dalam malam puncak penghormatan bagi inovator kesehatan Indonesia.
Nama Ja’far sebelumnya sudah dikenal setelah meraih gelar juara di ajang ilmiah internasional di China. Biofar SS karyanya diakui karena berbasis riset empiris, ramah lingkungan, dan bisa diakses masyarakat luas secara gratis.
“Terima kasih banyak kepada Bapak Kapolri yang sudah menjadi orang tua angkat sekaligus pendukung utama perjuangan saya. Klinik gratis yang saya bangun adalah wujud nyata dari dukungan itu,” tutup Ja’far.
Kini, Ja’far Hasibuan bukan hanya simbol anak bangsa berprestasi, tapi juga teladan bahwa inovasi, kepedulian sosial, dan dukungan negara bisa menjadi kunci menuju Indonesia sehat dan berdaya saing global. (andi esse)