Prof Taruna Ikrar berbincang dengan Morten Kruse dari Kedutaan Denmark dalam audiensi strategis yang membuka jalan kolaborasi BPOM–Denmark untuk modernisasi laboratorium dan penguatan regulasi obat-pangan.
BPOM jalin kerja sama strategis dengan Denmark untuk modernisasi laboratorium, uji klinik, dan penguatan regulasi obat-pangan Indonesia.
menitindonesia, JAKARTA — Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Pemerintah Denmark sepakat memperkuat kerja sama strategis dalam modernisasi laboratorium, penguatan regulasi uji klinik, dan pengembangan ekosistem inovasi kesehatan. Kesepakatan itu mengemuka dalam audiensi resmi di kantor BPOM, Kamis (11/12/2025), yang juga menjadi pemantapan agenda kunjungan kerja BPOM ke Denmark pada 19–22 Januari 2026.
Kepala BPOM Prof Taruna Ikrar menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan kolaborasi internasional yang berorientasi pada penguatan sains dan peningkatan kualitas pengawasan nasional.
“Setiap kolaborasi harus memperkuat sains regulasi, mempercepat hadirnya inovasi yang aman, dan memberikan perlindungan lebih baik bagi masyarakat. Itu prinsip BPOM dalam menjalin kemitraan global, termasuk dengan Denmark,” ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, delegasi Denmark dipimpin oleh Morten Kruse, Commercial Counsellor Kedutaan Besar Denmark. Ia menegaskan kesiapan negaranya mendukung langkah Indonesia memperkuat sistem kesehatan.
“Indonesia bergerak cepat membangun ekosistem kesehatan modern. Denmark melihat peluang besar bekerja bersama BPOM dalam inovasi, penguatan regulasi, dan modernisasi laboratorium,” kata Morten.
Agenda BPOM di Denmark
Kunjungan BPOM ke Denmark bulan depan akan mencakup dialog teknis dengan lembaga-lembaga strategis seperti Danish Medicines Agency (DMA) dan Danish Veterinary and Food Administration (DVFA). Keduanya dikenal memiliki sistem regulasi obat dan pangan dengan standar tinggi di Eropa.
BPOM juga akan bertemu Export & Investment Fund of Denmark (EIFO) untuk menjajaki skema pembiayaan antarpemerintah yang dapat mendukung modernisasi 76 laboratorium UPT di Indonesia. Selain itu, pertemuan dengan Trial Nation akan memberi wawasan mengenai penyelenggaraan uji klinik nasional yang efisien dan terintegrasi.
Prof Taruna Ikrar berfoto bersama Morten Kruse dari Kedutaan Denmark dan jajaran BPOM setelah audiensi strategis yang menegaskan komitmen kedua negara memperkuat kolaborasi di bidang regulasi obat, pangan, dan modernisasi laboratorium.
Di sektor industri, kunjungan ke kantor pusat Novo Nordisk akan membahas pengawasan teknologi transfer insulin serta evaluasi ilmiah terhadap produk biosimilar dan synthetic semaglutide. Pertemuan dengan Lif—asosiasi industri farmasi Denmark—dan kunjungan ke Arla Foods akan memperkaya pembahasan mengenai etika industri, standar keamanan pangan, dan inovasi produk kesehatan.
Menurut BPOM, kerja sama dengan Denmark akan difokuskan melalui skema Plan of Action atau Exchange of Letters agar proses lebih efisien tanpa mengurangi transparansi dan independensi regulator.
Prof Taruna menegaskan bahwa integritas tetap menjadi prinsip utama. “Regulator harus independen, tetapi juga perlu membuka ruang kolaborasi bernilai untuk memperkuat kapasitas nasional,” ujarnya.
Sementara itu, Morten Kruse menilai Indonesia sedang berada pada momentum penting setelah BPOM dinyatakan WHO siap menyandang status WHO Listed Authority (WLA). “Ini menunjukkan Indonesia berada di level yang setara dengan regulator global. Denmark senang bisa menjadi bagian dari langkah maju ini,” katanya.
Dengan agenda yang terstruktur dan dukungan teknis Denmark, BPOM menargetkan kerja sama ini menjadi akselerator utama transformasi pengawasan obat dan makanan Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. (andi esse)