Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, membawa BPOM RI menapaki reformasi sistem pengawasan berbasis sains hingga meraih pengakuan internasional sebagai WHO Listed Authority (WLA).
Dikenal luas di dunia neurosains hingga menjangkau ratusan juta orang, Taruna Ikrar, kini memimpin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI. Di bawah kepemimpinannya, Indonesia resmi mendapatkan status WHO Listed Authority (WLA), yang menempatkan BPOM sejajar dengan regulator obat negara maju.
menitindonesia, JAKARTA — Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., dikenal publik internasional sebagai ilmuwan neurosains yang kiprahnya menjangkau berbagai forum global. Dari sejumlah penelusuran, namanya bahkan disebut dikenal oleh ratusan juta orang di seluruh dunia melalui publikasi ilmiah, wawancara, serta diskusi medis internasional. Kini, Taruna memimpin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI dan ikut mengantarkan lembaga itu meraih status WHO Listed Authority (WLA).
WLA merupakan pengakuan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa sistem regulasi obat Indonesia telah memenuhi standar global. Dengan status ini, BPOM disejajarkan dengan regulator obat dan vaksin di negara maju.
Berangkat dari Laboratorium
Perjalanan Taruna dimulai dari Makassar. Setelah menuntaskan pendidikan dokter di Universitas Hasanuddin dan melanjutkan studi Biomedik di Universitas Indonesia, ia kemudian meneruskan pendidikan doktoral (S3/Ph.D) di Niigata University, Jepang, pada bidang Cardiovascular dan Vital Control Medicine, sekaligus memperdalam Kardiologi. Ia menempuh studi post-doktoral di University of Bologna, Italia (2007), mendalami Neuroscience di University of California, Irvine (2013), serta mengikuti Scholar Training Program di Harvard Medical School pada 2014.
Di Niigata—kampus yang terletak di pesisir Laut Jepang—Taruna ditempa dalam kultur riset yang disiplin dan sistematis. Pendidikan ini memperkaya pandangannya tentang kesehatan, penelitian ilmiah, dan pentingnya kolaborasi global, sekaligus membuka jalannya ke komunitas ilmiah internasional.
Keterlibatannya dalam dunia neurosains kemudian menempatkan Taruna dalam berbagai diskusi global mengenai otak dan sistem saraf. Ia meneliti, menulis, dan menjadi salah satu rujukan dalam pemikiran medis modern, sebelum akhirnya kembali ke Indonesia untuk mengabdi di ranah kebijakan publik.
Jejak Aktivisme dan Jaringan
Pada masa muda, Taruna juga aktif dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Sejumlah rekannya menuturkan bahwa ketika itu Taruna sudah mengenal tokoh nasional Prabowo Subianto. Sebagian rekannya bahkan menyebut bahwa sebagian perjalanan akademik Taruna disebut sempat memperoleh dukungan bantuan biaya pendidikan dari Prabowo.
Namun, hingga kini klaim tersebut belum pernah dikonfirmasi secara resmi baik kepada Prabowo Subianto maupun kepada Taruna Ikrar. Informasi ini tetap ditempatkan sebagai penuturan rekan masa mudanya.
Dilantik di Masa Akhir Pemerintahan Jokowi
Pada masa akhir pemerintahan Presiden Joko Widodo, Taruna kembali diberi amanah memimpin BPOM RI. Ia resmi dilantik sebagai Kepala BPOM RI pada 18 Agustus 2024.
Di bawah kepemimpinannya, BPOM memperkuat pendekatan berbasis sains dan tata kelola regulasi modern. Sistem pengawasan obat dan makanan ditata agar semakin transparan, terukur, dan selaras dengan perkembangan global.
Taruna memandang lembaga pengawas sebagai institusi yang harus memastikan keselamatan publik dari hulu ke hilir. “Bangsa besar bukan hanya yang ekonominya kuat, tetapi yang mampu menjaga keselamatan warganya melalui regulasi yang ilmiah, kuat, dan manusiawi,” kata Taruna, menggambarkan filosofi kepemimpinannya.
Mengantar BPOM Raih WHO Listed Authority
Momentum paling penting terjadi pada 21 Desember 2025. BPOM RI resmi dikonfirmasi memperoleh status WHO Listed Authority (WLA).
Pengakuan ini menunjukkan bahwa Indonesia telah memiliki sistem regulasi obat yang andal sesuai standar internasional. Dampaknya strategis: memperkuat kepercayaan global, membuka peluang ekspor obat dan vaksin Indonesia, meningkatkan kredibilitas industri farmasi nasional, dan memperkuat perlindungan konsumen dalam negeri.
Taruna menegaskan bahwa capaian ini bukan milik pribadi. “Ini prestasi bangsa Indonesia, prestasi kita semua dan terutama hasil kerja semua teman-teman BPOM yang selama ini berjibaku,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa WLA bukan garis akhir, melainkan awal dari amanah yang lebih besar untuk rakyat Indonesia. “Saya hanya bagian kecil dari perjalanan ini. Yang bekerja sesungguhnya adalah mereka yang menjaga mutu setiap hari,” ucapnya merendah.
Dengan WLA, BPOM kini menjadi salah satu regulator kesehatan berstandar global di kawasan Asia.
Meski dikenal luas di dunia ilmiah internasional, Taruna tetap tampil sederhana. Dalam berbagai kesempatan, ia menekankan bahwa ilmu pengetahuan baru memiliki makna ketika kembali pada kepentingan publik.
Melalui BPOM, misi itu dijadikan praktik sehari-hari: memastikan obat, vaksin, dan pangan yang beredar memenuhi standar keamanan, khasiat, dan mutu.
Alumni Niigata yang Pulang Mengabdi
Bagi Universitas Niigata Jepang, Taruna adalah salah satu alumnus Asia yang paling dikenal. Sementara bagi Indonesia, ia menjadi contoh ilmuwan diaspora yang kembali untuk memperkuat sistem negara.
Di tengah dinamika perdebatan publik tentang kesehatan, obat, dan kepercayaan pada lembaga negara, Taruna meyakini bahwa sains dan integritas harus tetap menjadi fondasi utama.
Pada akhirnya, perjalanannya menyentuh satu titik simpul: ilmu pengetahuan bukan hanya tentang riset dan publikasi — tetapi tentang pelayanan bagi kehidupan manusia. (andi besse nabila saskia)