pascabencana banjir di Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Dengan membungkuk dan mengecek satu per satu kemasan obat, Taruna memastikan tidak ada obat rusak atau kedaluwarsa yang beredar, demi melindungi keselamatan warga di tengah kondisi darurat.
Di gudang farmasi yang masih lembap oleh sisa banjir, Kepala BPOM Prof. Taruna Ikrar memeriksa satu per satu dus obat, mengecek tanggal kedaluwarsa, lalu menyusunnya rapi ke rak lemari. Tanpa podium dan tanpa sorotan, ia memastikan tak ada satu pun risiko kesehatan tersisa bagi warga yang sedang berjuang pulih dari bencana.
menitindonesia, PADANG — Pasca banjir besar yang melanda Kabupaten Solok, Sumatera Barat—dengan total kerugian daerah mencapai Rp1,4 triliun—Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, Prof. dr. Tarfuna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., berkunjung ke Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Sabtu (20/12/2025).
Bagi Prof Taruna Ikrar, keselamatan warga pascabencana, tak hanya ditentukan oleh cepatnya bantuan tiba, tetapi oleh satu hal mendasar: obat yang aman saat paling dibutuhkan.
Ia langsung memerintahkan Kepala Balai Besar POM Padang, Martin Sitepu, melakukan pengawasan ketat terhadap seluruh logistik farmasi. Risiko peredaran obat kedaluwarsa, kata Taruna, justru harus dicegah dalam kondisi darurat.
“Dalam situasi seperti ini, niat baik saja tidak cukup. Obat harus benar-benar aman. Jangan sampai pertolongan berubah menjadi ancaman baru bagi kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Tak berhenti pada instruksi, Taruna turun langsung memeriksa gudang di Kabupaten Solok . Ia mengecek satu per satu kemasan, memastikan mutu dan masa berlaku, lalu menatanya kembali di rak dengan rapi. Pemandangan itu sederhana, tetapi kuat: negara hadir bukan lewat seremonial, melainkan melalui ketelitian dan tanggung jawab.
Kerugian Besar Pasca Banjir
Dalam peninjauan tersebut, Prof Taruna Ikrar dilakukan bersama Bupati Solok, Jon Firman Pandu, Staf Khusus Kepala BPOM RI Bidang Kerjasama Wachyudi Muchsin alias Dokter Koboi, Staf Ahli Kepala BPOM RI Bidang Medsos dan Humas Akbar Endra, Ketua GP Farmasi, serta Kepala Balai Besar POM RI Padang, Martin Sitepu. Dalam kesempatan itu, Jon Firman Pandu mengungkapkan betapa besar dampak banjir terhadap daerahnya.
“Kerugian akibat bencana ini mencapai sekitar Rp1,4 triliun. Bukan hanya infrastruktur yang rusak, tetapi juga psikologis masyarakat kami,” ujarnya.
Namun, di tengah besarnya kerugian itu, ia menilai kehadiran Taruna Ikrar membawa energi baru bagi warga. “Kehadiran Prof Taruna, Kepala BPOM, menjadi kekuatan moral bagi masyarakat kami untuk bangkit dari trauma. Bantuan BPOM sangat berharga setelah warga dilanda bencana,” kata Jon.
Menjalankan Arahan Presiden
Taruna menegaskan, kunjungannya ke Padang dan Kabupaten Solok merupakan bagian dari pelaksanaan arahan Prabowo Subianto, agar seluruh kementerian dan lembaga negara menunjukkan solidaritas nyata kepada warga terdampak banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
“Negara tidak boleh menunggu. Saat rakyat tertimpa musibah, semua lembaga harus hadir, bekerja, dan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat,” tegas Taruna.
Di tengah hiruk pikuk bencana, kunjungan ke gudang farmasi mungkin tak semegah penyaluran bantuan besar. Namun justru dari ruang itulah makna kehadiran negara terasa paling jujur. Ketika satu obat dipastikan aman, satu risiko dieliminasi, dan satu nyawa terlindungi.
Di Padang dan Solok, BPOM tidak hanya menyalurkan bantuan. Ia menjaga detail, merawat kepercayaan, dan mengirim pesan yang jelas: kemanusiaan selalu dimulai dari kepedulian pada hal-hal paling mendasar. (AE)