Kepala BPOM Taruna Ikrar bersama penceramah Ustadz Muhammad Nur Maulana berfoto bersama pegawai BPOM seusai Tabligh Akbar dan doa bersama awal tahun 2026 di Gedung Bhinneka Tunggal Ika, Jakarta. Kegiatan ini menjadi momentum refleksi dan penguatan spirit syukur, empati, serta pengabdian jelang usia ke-25 BPOM.
Mengawali 2026, Kepala BPOM RI Taruna Ikrar memilih memulai perjalanan tahun baru dengan doa dan refleksi. Melalui tabligh akbar yang diikuti seluruh jajaran BPOM se-Indonesia, ia mengajak lembaga yang kini memasuki usia 25 tahun itu kembali menata niat pengabdian: menghadirkan perlindungan, empati, dan kehadiran negara dalam setiap suapan masyarakat.
menitindonesia, JAKARTA — Aula Gedung Bhinneka Tunggal Ika di Kantor badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI), terasa teduh. Para pegawai Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) berkumpul, sebagian hadir langsung, sebagian lainnya mengikuti secara daring dari berbagai daerah. Pada awal tahun 2026, BPOM memilih membuka lembaran baru dengan cara yang hening: tabligh akbar, kajian keagamaan, dan doa bersama yang diisi penceramah nasional, Ustadz Muhammad Nur Maulana, pada Rabu (7/1/2026).
Acara ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan ulang tahun BPOM yang pada akhir Januari nanti memasuki usia 25 tahun. Usia seperempat abad yang, menurut Kepala BPOM Prof. Taruna Ikrar, sebagai fase kedewasaan sebuah lembaga yang selama dua setengah dekade mengemban amanah melindungi masyarakat melalui pengawasan obat dan makanan.
Dalam sambutannya, Prof. Taruna Ikrar menyebut awal tahun sebagai ruang untuk berhenti sejenak, menata kembali niat, dan menimbang ulang arah langkah. Refleksi, katanya, tak hanya diperlukan oleh individu, tetapi juga oleh lembaga publik yang bekerja untuk kepentingan orang banyak.
“Perjalanan 25 tahun ini adalah perjalanan mengawal keamanan, mutu, dan manfaat obat serta makanan bagi masyarakat Indonesia. Setiap pertambahan usia adalah peluang memperbanyak amal kebaikan dan meningkatkan kualitas pengabdian,” ujarnya.
Syukur yang Menguatkan Empati
Di titik seperempat abad ini, BPOM ingin meneguhkan kembali perannya. Pengawasan tidak dimaknai semata sebagai kerja administratif, melainkan sebagai tanggung jawab moral terhadap kesehatan publik. Di tengah perubahan zaman, tugas ini diarahkan untuk menopang cita-cita Indonesia Emas 2045: masyarakat yang sehat, terlindungi, dan memperoleh kepastian dari sistem yang bekerja.
Suasana syukur pada pagi itu disandingkan pula dengan empati. Kepala BPOM mengajak seluruh jajaran membuka kepekaan hati terhadap warga yang tengah terdampak bencana di wilayah Sumatera. Melalui program BPOM Peduli, donasi disalurkan kepada Yayasan Sahabat Yatim sebagai wujud kepedulian sosial.
“Doa yang kita panjatkan dan dana yang kita kumpulkan hari ini menunjukkan bahwa BPOM hadir tidak hanya melalui regulasi, tetapi juga melalui empati,” tuturnya.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Muhammad Nur Maulana mengingatkan bahwa jabatan dan pekerjaan adalah amanah. Jika dijalankan dengan kejujuran, ketulusan, dan niat ibadah, setiap langkah yang diambil akan memberi manfaat, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi masyarakat luas.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama. Doa dipanjatkan untuk kelancaran tugas BPOM pada tahun-tahun mendatang, sekaligus untuk para korban bencana agar diberi kekuatan dalam menjalani masa pemulihan.
Memasuki usia seperempat abad, BPOM menoleh sejenak ke belakang melihat jejak yang telah dilalui. Namun pada saat yang sama, pandangan diarahkan ke depan. Tugas yang diemban tetap sama: memastikan obat dan makanan yang beredar aman, bermutu, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Dan, ulang tahun ke 25 ini, tidak dirayakan dengan gegap gempita. Ia diperingati dengan cara yang lebih sederhana: menundukkan kepala, mensyukuri perjalanan, dan menguatkan kembali komitmen untuk tetap hadir bagi publik.
Karena menjaga obat dan makanan, pada akhirnya, adalah menjaga kehidupan itu sendiri. (andi esse)