Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa saat menghadiri pertemuan dengan IMF, Bank Dunia, lembaga pemeringkat internasional, serta 18 investor global di Washington DC, Amerika Serikat.
menitindonesia, JAKARTA — Pasar keuangan Indonesia menunjukkan sinyal pemulihan yang kuat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 7,57 persen ke level 5.746 pada perdagangan Selasa (9/6/2026), sementara nilai tukar rupiah turut menguat ke posisi Rp18.050 per dolar Amerika Serikat.
Penguatan serentak di pasar saham dan pasar valuta asing itu dinilai menjadi indikator mulai pulihnya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian nasional di tengah tekanan dan ketidakpastian ekonomi global.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup menguat signifikan setelah mendapat respons positif dari pelaku pasar terhadap berbagai langkah stabilisasi yang ditempuh pemerintah bersama Bank Indonesia (BI).
Di saat yang sama, rupiah di pasar spot terapresiasi 120 poin atau 0,66 persen dibandingkan posisi pembukaan perdagangan yang berada di level Rp18.170 per dolar AS.
Penguatan tersebut tidak terjadi secara kebetulan. Pemerintah dan Bank Indonesia dalam beberapa pekan terakhir menjalankan serangkaian kebijakan terkoordinasi guna menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mengembalikan optimisme investor.
Salah satu langkah utama yang ditempuh adalah meningkatkan daya tarik instrumen investasi berbasis rupiah melalui penguatan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Strategi ini diarahkan untuk menarik arus modal asing masuk ke pasar domestik, memperkuat pasokan devisa, serta mengantisipasi risiko keluarnya modal akibat tingginya imbal hasil instrumen keuangan global.
Sebagai bagian dari kebijakan tersebut, Bank Indonesia sebelumnya menaikkan suku bunga SRBI. Pada 13 Mei lalu, suku bunga SRBI tenor enam bulan, sembilan bulan, dan 12 bulan masing-masing naik menjadi 6,21 persen, 6,31 persen, dan 6,45 persen.
Sementara itu, tingkat imbal hasil SBN juga tetap terjaga stabil. Kementerian Keuangan mencatat yield SBN rupiah berada di level 6,67 persen, sedangkan SBN berdenominasi dolar AS berada di kisaran 5,42 persen.
Selain memperkuat instrumen investasi, pemerintah dan BI juga menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan.
Kedua institusi sepakat memperkuat pengelolaan kas pemerintah untuk memastikan ketersediaan likuiditas tetap memadai tanpa mengganggu stabilitas sistem keuangan.
Langkah berikutnya ditempuh melalui kebijakan moneter yang lebih ketat. Dalam Rapat Dewan Gubernur Mingguan pada 9 Juni 2026, Bank Indonesia memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.
Suku bunga Deposit Facility turut naik menjadi 4,50 persen, sedangkan Lending Facility meningkat menjadi 6,25 persen.
Bank Indonesia menyebut kebijakan tersebut diambil untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global, termasuk dampak konflik geopolitik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, kenaikan suku bunga juga ditujukan untuk menjaga inflasi tetap berada dalam target pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen pada periode 2026 hingga 2027.
Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, menilai koordinasi yang erat antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi faktor penting dalam memulihkan keyakinan pasar.
“Kalau kebijakannya sudah menyatu seperti itu, sinergi penuh, itu harusnya akan mengembalikan kepercayaan pasar ke nilai rupiah,” ujar Purbaya.
Fundamental Ekonomi Dinilai Tetap Kuat
Di tengah gejolak ekonomi global, pemerintah menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang solid.
Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menilai berbagai indikator makroekonomi menunjukkan Indonesia jauh lebih siap menghadapi tekanan eksternal dibandingkan periode krisis ekonomi sebelumnya.
Anggota DEN, Mochammad Firman Hidayat, mengatakan kondisi ekonomi nasional saat ini masih sangat kuat dan berada jauh dari potensi krisis.
“Fundamental ekonomi kita dalam kondisi yang sangat baik, bahkan jauh dibandingkan dengan kondisi krisis 1998. Berbagai indikator makro menunjukkan bahwa perekonomian nasional tetap solid,” katanya.
Firman mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan. Sementara inflasi nasional hingga Mei 2026 tercatat sebesar 3,08 persen atau masih berada dalam rentang yang terkendali.
Menurutnya, kombinasi antara pertumbuhan ekonomi yang tetap tinggi, inflasi yang stabil, serta koordinasi erat antara pemerintah dan Bank Indonesia menjadi modal penting dalam menjaga kepercayaan investor dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Penguatan IHSG dan rupiah dalam perdagangan terakhir pun menjadi sinyal awal bahwa pasar mulai merespons positif langkah-langkah stabilisasi yang dijalankan pemerintah dan otoritas keuangan.