menitindonesia, MAROS – Ketinggian air di Bendung Leko Pancing, Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, mengalami peningkatan dan kini berstatus Waspada, Minggu (11/1/2026).
Petugas Operasi Bendung Leko Pancing, M Syamsir, mengatakan tinggi muka air saat ini mencapai 80 sentimeter di atas mercu bendung. Angka tersebut sudah melewati batas normal bendung.
“Normalnya berada di kisaran 0 sampai 50 sentimeter di atas mercu. Kalau sudah 50 hingga 100 sentimeter, statusnya waspada,” kata Syamsir.
Ia menjelaskan, status Siaga akan diberlakukan apabila ketinggian air mencapai 100 hingga 200 sentimeter di atas mercu. Sementara status Awas ditetapkan jika tinggi muka air melampaui 200 sentimeter.
Selain kenaikan muka air, debit air yang melimpas di atas mercu bendung juga tercatat cukup tinggi, yakni 164.938 liter per detik. Adapun debit air yang masuk ke pintu pengambilan (intake) saat ini berada di angka 2.679 liter per detik.
“Debit air di intake ini dimanfaatkan untuk kebutuhan air baku dan irigasi,” ujarnya.
Syamsir menyebutkan, meningkatnya debit air di Bendung Leko Pancing dipicu oleh tingginya intensitas hujan yang mengguyur Kabupaten Maros dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut diperkirakan masih akan berlanjut seiring curah hujan yang belum menunjukkan penurunan signifikan.
Sementara itu, Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Sulawesi Selatan, Syamsul Bahri, mengatakan wilayah Sulsel saat ini masih berada pada puncak musim hujan.
“Kondisi ini ditandai dengan akumulasi curah hujan bulanan yang tinggi, disertai potensi angin kencang dan petir,” ujarnya.
Meski demikian, Syamsul menegaskan intensitas hujan diperkirakan tidak akan terlalu ekstrem lantaran tidak adanya pengaruh kuat fenomena El Nino maupun La Nina.
“Secara iklim, kondisi cuaca kita masih tergolong netral,” katanya.
Ia menambahkan, sejumlah wilayah di pesisir barat Sulawesi Selatan mulai memasuki puncak musim hujan, di antaranya Takalar, Gowa, Makassar, Maros, Pangkep, dan Barru.
BMKG mengimbau pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk melakukan langkah antisipatif, seperti pemangkasan pohon rawan tumbang dan pembersihan saluran air.
Selain itu, masyarakat juga diminta menjaga kebersihan lingkungan serta memastikan sistem drainase berfungsi dengan baik guna mengurangi risiko banjir.