BI Puji Komitmen Pemkab Maros Dorong Transaksi Non-Tunai

Bupati Maros, Chaidir Syam saat memberikan penghargaan kepada Deputi Kepala Perwakilan BI Sulsel, Ricky Satria di ajang Bapenda Award 2026. (ist)
menitindonesia, MAROS – Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan mengapresiasi komitmen Pemerintah Kabupaten Maros dalam mendorong digitalisasi keuangan daerah. Maros dinilai sebagai salah satu daerah paling progresif dalam penerapan transaksi non-tunai di Sulawesi Selatan.
Deputi Kepala Perwakilan BI Sulsel, Ricky Satria, mengatakan digitalisasi keuangan daerah merupakan amanat lintas kementerian untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus memperkuat transparansi dan pengawasan keuangan.
“Secara teori, pemanfaatan teknologi membawa manfaat besar, mulai dari kecepatan transaksi, mencegah kebocoran, hingga memudahkan monitoring setiap saat. Ini jauh lebih efektif dibandingkan sistem manual,” ujar Ricky, Rabu (28/1/2026).
Ricky menyebut, jika dibandingkan dengan 24 kabupaten/kota lain di Sulsel, langkah Pemkab Maros di bawah kepemimpinan Bupati Chaidir Syam tergolong cepat. Salah satu indikatornya adalah inisiatif digitalisasi yang dilakukan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Maros.

BACA JUGA:
Kali Pertama, Pemkab Maros Gelar Bapenda Award Tuk Epresiasi Wajib Pajak Taat

“Dukungan bupatinya sangat kencang. Komunikasi kami intens untuk memastikan program digitalisasi ini berjalan. Sekarang mal sudah mulai didorong digital, termasuk objek-objek wisata,” jelasnya.
Meski demikian, BI Sulsel mengakui masih terdapat tantangan teknis di lapangan, khususnya di kawasan wisata unggulan seperti Bantimurung dan Leang-Leang. Kompleksitas pembagian hasil tiket antara pemerintah daerah, pengelola taman nasional, dan asuransi sempat menjadi kendala.
Namun, BI Sulsel telah memberikan solusi teknis agar sistem pembayaran digital tetap dapat diterapkan.
“Bantimurung memang agak kompleks dari sisi bagi hasil, tapi sudah kita siapkan sistemnya dan sekarang sudah beres. Wisatawan, terutama generasi milenial, tentu lebih nyaman jika semua transaksi dilakukan secara digital,” ungkap Ricky.
Ke depan, BI berharap digitalisasi keuangan di Maros tidak hanya berhenti pada penyediaan sistem, tetapi juga membentuk ekosistem pengguna yang kuat. Untuk itu, Aparatur Sipil Negara (ASN) diminta menjadi contoh bagi masyarakat.
“ASN harus jadi role model. Ajak keluarga dan lingkungan sekitar menggunakan QRIS. Kalau ekosistem ini terbentuk di pasar, sekolah, sampai warung kopi, akselerasi ekonomi digital di Maros akan jauh lebih cepat,” pungkasnya.