Saifuddin HM Abd Muin Saideng, seorang imam masjid tunanetra yang tergabung dalam Kloter 17 Embarkasi Makassar, mendapat penghormatan istimewa dari Pemerintah Arab Saudi saat berada di Tanah Suci. (ist)
menitindonesia, MAKKAH — Kisah inspiratif datang dari jemaah haji asal Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Saifuddin HM Abd Muin Saideng, seorang imam masjid tunanetra yang tergabung dalam Kloter 17 Embarkasi Makassar, mendapat penghormatan istimewa dari Pemerintah Arab Saudi saat berada di Tanah Suci.
Tak sekadar ucapan selamat datang, otoritas Arab Saudi bahkan berencana membangun masjid dan wakaf atas nama Saifuddin sebagai bentuk penghargaan atas perjuangannya menunaikan ibadah haji di tengah keterbatasan fisik.
Penghormatan tersebut diberikan dalam pertemuan yang berlangsung di Hotel 608 Al-Hadaiq Al-Raqiah, kawasan Jarwal, Makkah, Rabu (13/5/2026).
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sinjai, H Faried Wajedi, yang saat ini bertugas sebagai Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), hadir langsung mendampingi sekaligus menjadi penerjemah dalam pertemuan itu.
Faried menjelaskan, perwakilan Pemerintah Arab Saudi secara khusus mencari dua jemaah tertua, laki-laki dan perempuan, untuk diberikan penghormatan dan hadiah istimewa.
“Mereka mencari dua orang jemaah tertua, laki-laki dan perempuan. Saya diminta menyampaikan maksud kedatangan mereka. Pemerintah setempat datang memberikan ucapan selamat datang dan hadiah kepada kedua jemaah tersebut,” ujar Faried.
Menurutnya, penghormatan yang diberikan kepada Saifuddin bukan sekadar seremoni biasa. Pemerintah Arab Saudi disebut berkomitmen membangun masjid dan wakaf dengan menyematkan nama jemaah asal Indonesia tersebut.
“Ini bentuk penghormatan luar biasa. Mereka ingin membangun masjid dan wakaf atas nama jemaah tersebut sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan,” katanya.
Sosok Saifuddin sendiri sebelumnya memang menjadi perhatian karena kisah hidupnya yang penuh perjuangan. Meski mengalami keterbatasan penglihatan, ia tetap aktif menjadi imam masjid di kampung halamannya di Kabupaten Sinjai.
Dengan penuh kesabaran, Saifuddin diketahui menabung selama kurang lebih 20 tahun demi mewujudkan impiannya berangkat ke Tanah Suci.
Perjalanan spiritualnya pun menyentuh banyak pihak. Keteguhan dan ketulusan Saifuddin dinilai menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk meraih kemuliaan dan memenuhi panggilan ibadah ke Baitullah.
Kisah imam tunanetra asal Sulawesi Selatan itu kini menjadi inspirasi bagi banyak jemaah di Tanah Suci.