menitindonesia, MAROS – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan di Kabupaten Maros akan datang lebih awal dibanding tahun sebelumnya.
Puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Desember 2025, lebih cepat satu bulan dari tahun lalu yang berlangsung pada Januari hingga Februari.
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Sulsel, Syamsul Bahri, mengatakan tanda-tanda awal musim hujan sudah mulai tampak sejak akhir Oktober.
“Kami memprediksi awal musim hujan masuk di akhir Oktober. Hujan mulai turun siang hingga malam hari dan sudah merata dari Maros hingga Makassar,” ujarnya, Rabu (29/10/2025).
Menurut Syamsul, jika sebelumnya hujan hanya turun di sebagian wilayah dan bersifat sporadis, kini curah hujan mulai merata hingga ke Pangkep.
“Kalau sebelumnya hujan hanya di Maros dan tidak merata, sekarang sudah mulai menyebar luas,” jelasnya.
Meski curah hujan meningkat, BMKG memastikan intensitasnya tidak ekstrem karena kondisi iklim saat ini tergolong netral — tidak dipengaruhi fenomena El Nino maupun La Nina.
“Untuk tiga bulan ke depan, cuaca dalam kondisi netral. Tidak ada fenomena besar yang mendominasi,” ungkapnya.
Namun, masyarakat tetap diminta waspada terhadap potensi hujan deras dan angin kencang, terutama pada November mendatang. Beberapa wilayah pegunungan seperti Camba, Tompobulu, dan Moncongloe disebut berpotensi mengalami curah hujan tinggi.
Syamsul mengimbau pemerintah daerah dan warga untuk melakukan langkah antisipasi sejak dini. “Kami berharap BPBD dan instansi terkait memangkas pohon besar di tepi jalan. Masyarakat juga perlu menjaga kebersihan lingkungan dan memastikan drainase berfungsi baik,” pesannya.
Ia menegaskan, banjir sering kali terjadi bukan hanya karena curah hujan tinggi, melainkan saluran air yang tersumbat. “Musim hujan ini ibarat air yang ‘mudik’ ke daerah kita. Jadi siapkan tempatnya, bersihkan selokan, dan normalisasi sungai agar air bisa mengalir lancar,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris BPBD Maros, Nasrul, mengatakan pihaknya telah memangkas pohon-pohon besar di sejumlah titik rawan, terutama di jalur utama seperti Poros Maros–Makassar, Maros–Pangkep, dan Maros–Bone. “Kami pangkas pohon di pinggir jalan yang berisiko tumbang saat angin kencang. Ini langkah pencegahan agar tidak menimbulkan kecelakaan,” jelasnya.
Selain itu, BPBD juga telah berkoordinasi dengan pemerintah desa, kelurahan, dan kecamatan untuk membentuk posko siaga bencana di wilayah rawan banjir dan longsor. “Posko siaga ini akan menjadi pusat informasi dan tanggap darurat jika sewaktu-waktu terjadi bencana selama musim hujan,” tutur Nasrul.