Indonesia Tidak Sedang Runtuh, Tetapi Sedang Bertransisi

Penulis
Oleh Akbar Endra
(Staf Ahli Kepala BPOM RI Bidang Medsos dan Humas)
menitindonesia, OPINI — Di tengah derasnya arus informasi dan tekanan opini di media sosial, masyarakat setiap hari disuguhi berbagai kabar tentang tekanan ekonomi nasional. Nilai tukar rupiah bergerak fluktuatif, harga kebutuhan pokok meningkat, persaingan kerja semakin ketat, dan daya beli masyarakat mengalami tekanan di berbagai sektor.
Semua itu nyata. Namun tekanan bukan tanda kehancuran.
Indonesia tidak sedang runtuh. Indonesia sedang berada dalam fase transisi besar menuju tatanan ekonomi baru yang lebih kompetitif, modern, dan mandiri.
Dunia saat ini tengah mengalami perubahan besar yang tidak ringan. Ketegangan geopolitik, perang dagang global, disrupsi artificial intelligence, krisis energi, hingga dominasi ekonomi digital sedang mengguncang hampir seluruh negara, termasuk negara-negara maju. Dalam situasi seperti ini, perlambatan ekonomi bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan fenomena global yang sedang membentuk ulang arah ekonomi dunia.
BACA JUGA:
Selat Hormuz Segera Dibuka? Kesepakatan Awal AS-Iran Masih Menunggu Lampu Hijau
Di tengah tekanan tersebut, Indonesia justru sedang membangun fondasi jangka panjangnya. Pemerintah mendorong hilirisasi industri, memperkuat ketahanan pangan, memperluas investasi strategis, mempercepat transformasi digital, dan membangun industri nasional agar bangsa ini tidak terus bergantung pada kekuatan ekonomi luar.
Transformasi besar memang tidak selalu berjalan nyaman. Akan ada penyesuaian, tekanan, bahkan rasa cemas di tengah masyarakat. Namun sejarah menunjukkan bahwa negara yang mampu bertahan dan tumbuh kuat adalah negara yang berani membangun fondasinya sendiri, bukan negara yang hanya menikmati kenyamanan jangka pendek.
Kebijakan hilirisIndonesia tidak sedang runtuh, tetapi sedang bertransisi menuju ekonomi baru yang lebih mandiri dan kompetitif.
Nilai ekspor nikel Indonesia yang sebelumnya berada di kisaran 3 miliar dollar AS meningkat tajam menjadi lebih dari 30 miliar dollar AS setelah pembangunan industri pengolahan dan smelter diperluas di dalam negeri. Indonesia perlahan tidak lagi hanya menjual bahan mentah, tetapi mulai masuk dalam rantai industri global bernilai tambah tinggi, termasuk kendaraan listrik dan baterai.
Peningkatan investasi juga mulai terlihat. Pemerintah mencatat investasi sektor hilirisasi terus tumbuh signifikan dalam dua tahun terakhir, terutama pada sektor mineral, energi, dan industri pengolahan. Situasi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia sedang membangun arah ekonomi baru yang berbasis industrialisasi dan penguatan nilai tambah nasional.

Picsart 26 05 26 09 15 17 344 11zon e1779761796575

Regulasi yang Tidak Mematikan Industri

Dalam konteks inilah, peran lembaga negara menjadi sangat penting, termasuk Badan Pengawas Obat dan Makanan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui sektor farmasi, pangan, dan bioteknologi.
Selama bertahun-tahun, regulator sering dipersepsikan hanya sebagai institusi pengawas administratif. Padahal dalam ekonomi modern, kualitas regulasi sangat menentukan kecepatan investasi, pertumbuhan industri, dan tingkat kepercayaan global terhadap suatu negara.
BACA JUGA:
Tiga Hari Dua Malam Ditahan Israel, Relawan Indonesia Ungkap Pengalaman Mencekam di Laut Mediterania
Di bawah kepemimpinan Prof. Taruna Ikrar, BPOM mulai mendorong transformasi regulasi yang tidak hanya berfungsi mengawasi, tetapi juga mempercepat inovasi dan pertumbuhan industri nasional.
Taruna Ikrar berulang kali menegaskan bahwa regulasi tidak boleh menjadi penghambat kemajuan industri nasional. Regulasi harus mampu melindungi masyarakat sekaligus menciptakan ruang tumbuh bagi investasi, riset, dan pengembangan industri kesehatan Indonesia.
Karena itu, BPOM melakukan percepatan layanan registrasi obat, penguatan evidence-based regulation, serta reformasi sistem perizinan agar lebih cepat, transparan, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi kesehatan global.
Langkah tersebut menjadi penting karena industri farmasi dan pangan merupakan sektor strategis yang berkaitan langsung dengan investasi, penyerapan tenaga kerja, ketahanan nasional, dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Di tengah kompetisi industri kesehatan dunia yang semakin agresif, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar produk asing. Indonesia harus mampu menjadi produsen, pusat riset, sekaligus pusat inovasi kesehatan dan bioteknologi di kawasan Asia Tenggara.
Pencapaian BPOM memperoleh status WHO Listed Authority (WLA) menjadi salah satu momentum penting dalam proses tersebut. Pengakuan dari Organisasi Kesehatan Dunia itu menempatkan sistem regulasi Indonesia dalam jajaran regulator kesehatan yang mulai diperhitungkan secara global.
Status tersebut bukan hanya simbol pengakuan internasional. Dampaknya berkaitan langsung dengan kepercayaan investasi, daya saing industri farmasi nasional, peluang ekspor produk kesehatan, hingga posisi Indonesia dalam rantai industri kesehatan global.
Semakin tinggi kredibilitas regulator suatu negara, semakin besar pula kepercayaan dunia terhadap produk farmasi, vaksin, pangan, dan bioteknologi yang dihasilkan negara tersebut.
Pada titik inilah regulasi modern memiliki makna strategis. Regulasi bukan hanya soal aturan administratif, tetapi bagian dari upaya membangun kepercayaan ekonomi nasional.
BPOM juga terus memperkuat pengawasan terhadap produk ilegal dan berbahaya yang merugikan masyarakat serta mengganggu iklim industri sehat nasional. Pengawasan yang kuat menjadi penting agar pertumbuhan ekonomi tidak dibangun di atas produk yang membahayakan kesehatan publik.
Masyarakat tentu berharap hasil pembangunan dapat lebih cepat dirasakan. Harapan itu sangat wajar. Pemerintah perlu terus memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi benar-benar menyentuh masyarakat bawah, menjaga daya beli kelas menengah, memperluas lapangan kerja, dan melindungi industri nasional dari tekanan global yang semakin kompetitif.
Namun pada saat yang sama, publik juga perlu memahami bahwa membangun bangsa yang mandiri bukan pekerjaan singkat. Negara yang ingin berdiri kuat harus berani memperkuat fondasinya sendiri, termasuk dalam bidang pangan, kesehatan, energi, teknologi, dan ekonomi digital.
Indonesia memiliki modal besar untuk melewati fase transisi ini. Sumber daya alam yang melimpah, bonus demografi, pasar domestik yang besar, serta stabilitas nasional merupakan kekuatan yang tidak dimiliki banyak negara berkembang lainnya.
Yang dibutuhkan bangsa ini hari ini bukan kepanikan dan pesimisme berlebihan, melainkan ketenangan, persatuan, optimisme, dan keberanian menjaga arah pembangunan nasional.
Sebab bangsa besar tidak lahir dari kenyamanan. Bangsa besar lahir dari kemampuan bertahan, berbenah, dan tumbuh lebih kuat di tengah tekanan zaman.