Prof. Taruna Ikrar, Kepala BPOM RI, menerima cenderamata dari Rektor Universitas Hayam Wuruk (UHW) Perbanas Surabaya, Prof. Dr. Lutfi, S.E., M.Fin., usai Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Menyiapkan Talenta Unggul untuk Industri Kesehatan, Pangan, dan Ekonomi Digital yang Berdaya Saing Global”, Sabtu (14/6/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan kolaborasi Academia-Government dalam mencetak sumber daya manusia unggul yang siap menjawab tantangan kesehatan, pangan, dan transformasi ekonomi digital Indonesia.
Di tengah target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan Presiden, Kepala BPOM RI Prof. Taruna Ikrar mengingatkan bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh investasi dan teknologi, tetapi oleh kualitas talenta yang mampu menguasai sektor kesehatan, pangan, dan ekonomi digital.
menitindonesia, SURABAYA — Di banyak negara maju, kemajuan ekonomi lahir dari kemampuan mereka mengubah ilmu pengetahuan menjadi inovasi dan inovasi menjadi kekuatan industri. Di Indonesia, proses itu sedang dibangun melalui kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan dunia usaha atau dikenal dengan Akademis, Business and Gouvernment (ABG).
Gagasan itulah yang mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Menyiapkan Talenta Unggul untuk Industri Kesehatan, Pangan, dan Ekonomi Digital yang Berdaya Saing Global” di Universitas Hayam Wuruk (UHW) Perbanas Surabaya, Sabtu (14/6/2026).
Forum tersebut menghadirkan Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D sebagai keynote speaker. Hadir pula Rektor UHW Perbanas Surabaya Prof. Dr. Lutfi, S.E., M.Fin., Dekan Prof. Nurul H.U. Dewi, Wakil Rektor I Prof. Luciana, serta mahasiswa dari berbagai fakultas.
Bagi Universitas Hayam Wuruk Perbanas, pertemuan tersebut menjadi bagian penting dari penguatan kolaborasi antara dunia akademik dan pemerintah dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan.
Rektor UHW Perbanas, Prof. Lutfi, melihat sinergi antara kampus dan BPOM sebagai langkah strategis untuk melahirkan talenta-talenta bisnis yang mampu menjawab kebutuhan sektor pangan dan kesehatan yang terus berkembang.
Menurutnya, perguruan tinggi tak lagi hanya bertugas menghasilkan lulusan, tetapi juga harus mampu menciptakan ekosistem yang melahirkan inovator, entrepreneur, dan pemimpin masa depan.
Dari Tiga Benua, Tiga Tantangan untuk Generasi Indonesia
Saat berdiri di hadapan mahasiswa, Taruna Ikrar tidak hanya berbicara sebagai regulator. Ia membawa perspektif yang lahir dari perjalanan panjang sebagai ilmuwan dan akademisi yang pernah berkiprah di Asia, Eropa, dan Amerika.
Di tiga benua tersebut, ia menyaksikan bagaimana bangsa-bangsa besar membangun daya saing melalui investasi pada sumber daya manusia, riset, dan inovasi.
Pengalaman itu pula yang membentuk keyakinannya bahwa Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemain utama dunia apabila mampu menyiapkan generasi yang tepat.
“Kalian harus mempersiapkan diri menjadi generasi yang kelak menjadi kebanggaan bangsa,” pesan Taruna kepada para mahasiswa.
Menurutnya, dunia saat ini sedang bergerak menuju tiga tantangan besar yang sekaligus menjadi peluang terbesar bagi generasi muda.
Yang pertama adalah kesehatan. Taruna menegaskan bahwa sektor kesehatan tidak akan pernah kehilangan relevansinya. Selama manusia hidup di muka bumi, kebutuhan untuk sehat akan tetap menjadi prioritas.
Kecerdasan buatan dan robot mungkin akan mengubah cara manusia bekerja, tetapi tidak akan menghapus kebutuhan akan layanan kesehatan, penelitian medis, dan inovasi farmasi.
Tantangan kedua adalah pangan. Pertumbuhan penduduk, dan dinamika geopolitik global membuat ketahanan pangan menjadi isu strategis hampir di seluruh dunia. Negara yang mampu menjamin keamanan dan ketersediaan pangannya akan memiliki keunggulan yang signifikan.
Sementara tantangan ketiga adalah ekonomi digital. Menurut Taruna, transformasi digital telah mengubah hampir seluruh sektor kehidupan, termasuk industri obat dan makanan. Teknologi kini menjadi penggerak utama inovasi, efisiensi, dan perluasan pasar.
“Karena itu, mahasiswa dituntut untuk tidak hanya menguasai disiplin ilmu yang dipelajari di bangku kuliah, tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat,” ujarnya.
BPOM dan Mesin Ekonomi Rp10.000 Triliun
Taruna Ikrar juga mengungkap, di balik fungsi pengawasannya, di sisi lain BPOM yang mungkin belum banyak diketahui publik.
Menurutnya, sektor-sektor yang berada dalam ruang lingkup pengawasan BPOM memiliki kontribusi ekonomi yang sangat besar terhadap perekonomian nasional.
Industri obat, makanan (pangan olahan), kosmetik, suplemen kesehatan, obat tradisional, serta berbagai sektor turunannya memiliki nilai ekonomi yang mendekati Rp10.000 triliun.
“Angka tersebut menunjukkan bahwa pengawasan obat dan makanan, bukan lagi keamanan produk semata, juga berkaitan langsung dengan pertumbuhan ekonomi, investasi, penciptaan lapangan kerja, dan daya saing nasional,” kata Taruna.
Karena itulah, ujar dia, BPOM saat ini menjalankan transformasi besar dalam sistem pengawasan obat dan makanan.
Transformasi tersebut dilakukan melalui percepatan layanan regulatori, penyederhanaan proses bisnis, penguatan ekosistem inovasi, serta pendampingan kepada pelaku usaha dan peneliti agar hasil riset dapat lebih cepat masuk ke pasar.
Langkah itu sekaligus menjadi kontribusi BPOM dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen sebagaimana dicanangkan Presiden Republik Indonesia.
Dalam perspektif Taruna, regulator modern tidak lagi hanya bertugas mengawasi. Regulator juga harus mampu menjadi akselerator inovasi dan pertumbuhan ekonomi tanpa mengurangi perlindungan masyarakat.
“BPOM kini hadir dalam seluruh product life cycle, mulai dari penelitian, pengembangan, produksi, registrasi, distribusi, hingga pengawasan pasca pemasaran,” katanya.
Pendekatan tersebut memungkinkan inovasi berkembang lebih cepat sekaligus memastikan produk yang sampai ke tangan masyarakat tetap aman, bermutu, dan bermanfaat.
Di penghujung diskusi, pesan yang tertinggal di ruang aula UHW Perbanas bukan hanya tentang regulasi, industri, atau pertumbuhan ekonomi.
Pesan itu tentang manusia. Untuk generasi muda yang hari ini duduk di bangku kuliah, tetapi beberapa tahun ke depan akan menjadi dokter, peneliti, pengusaha, inovator, regulator, dan pemimpin bangsa.
Dari Surabaya, Taruna Ikrar menyampaikan optimisme bahwa Indonesia memiliki semua modal untuk menjadi negara besar. Tantangannya tinggal satu: menyiapkan talenta unggul yang mampu mengubah peluang menjadi kemajuan