Politik sering dimulai dengan pelukan, tetapi tidak jarang berakhir dengan jarak.
menitindonesia, OPINI — Pada masa kampanye politik, seorang calon kepala daerah dan wakilnya berdiri di atas panggung yang sama. Mereka saling memuji, saling menguatkan, bahkan meyakinkan rakyat bahwa keduanya adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Baliho mereka berdampingan, slogan mereka sama, dan janji mereka dibangun di atas narasi kebersamaan. Mereka tampil sebagai pasangan yang diyakini akan berjalan bersama hingga akhir masa jabatan.
Namun perjalanan politik sering menulis cerita yang berbeda.
Di berbagai daerah di Indonesia, hubungan harmonis antara kepala daerah dan wakilnya justru lebih sering menjadi pengecualian daripada kebiasaan. Tidak sedikit pasangan bupati dan wakil bupati, wali kota dan wakil wali kota, maupun gubernur dan wakil gubernur yang pada akhirnya pecah kongsi. Mereka yang dahulu berdiri berdampingan di hadapan rakyat perlahan mengambil jalan masing-masing. Ada yang berakhir dengan saling diam, ada yang berujung pada pertarungan terbuka, bahkan tidak sedikit yang kemudian menjadi rival politik.
Fenomena ini bukan sesuatu yang baru. Hampir setiap periode pemerintahan daerah menghadirkan cerita serupa. Yang berubah hanya nama tokohnya, sementara pola konfliknya nyaris sama.
Pertanyaannya, mengapa?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana persoalan ego dua orang pemimpin. Di balik perpecahan politik hampir selalu terdapat pertarungan kepentingan yang jauh lebih kompleks daripada yang terlihat di permukaan.
Dalam teori politik dikenal konsep principal-agent problem. Ketika dua orang maju dalam satu tiket politik, publik menganggap mereka memiliki tujuan yang sama. Akan tetapi setelah kemenangan diraih, masing-masing memiliki basis dukungan, jaringan kekuasaan, dan sumber legitimasi yang berbeda. Mereka masuk ke kantor yang sama, tetapi membawa kelompok dan harapan yang tidak selalu sejalan.
Pada awal masa pemerintahan, perbedaan itu sering kali belum terlihat. Semua masih menikmati euforia kemenangan. Namun perlahan muncul pertanyaan yang lebih sensitif: siapa yang menentukan arah pemerintahan, siapa yang berhak mengambil keputusan strategis, dan siapa yang memiliki akses terhadap pusat kekuasaan.
Di sinilah konflik mulai menemukan ruangnya.
Menariknya, perpecahan jarang dimulai dari ruang rapat resmi. Konflik lebih sering lahir dari lingkaran yang berada di sekitar kekuasaan. Keluarga mulai ingin terlibat lebih jauh. Tim sukses merasa memiliki hak politik atas kemenangan yang telah diperjuangkan. Kelompok pendukung berharap mendapatkan ruang dan pengaruh dalam pemerintahan. Satu per satu kepentingan itu masuk ke pusat kekuasaan dan mulai saling berbenturan.
Dalam banyak kasus yang pernah mencuat ke publik, konflik tidak lagi hanya melibatkan kepala daerah dan wakilnya. Yang sesungguhnya bertarung adalah dua ekosistem kekuasaan yang tumbuh di sekeliling mereka. Kepala daerah berada di tengah tekanan kelompoknya sendiri, sementara wakil kepala daerah menghadapi tuntutan yang sama dari para pendukungnya. Ketika kedua lingkaran itu mulai berebut pengaruh, hubungan yang semula harmonis perlahan berubah menjadi kompetisi.
Teori patron-client politics menjelaskan fenomena ini dengan cukup baik. Kekuasaan tidak hanya menghasilkan kewenangan untuk membuat kebijakan, tetapi juga menghasilkan akses. Akses terhadap jabatan, proyek, sumber daya politik, dan kesempatan membangun jaringan kekuasaan baru. Ketika akses tersebut menjadi rebutan, loyalitas sering berubah menjadi persaingan.
Keluarga ingin memastikan pengaruhnya tetap terjaga. Tim sukses ingin mendapatkan ruang yang dianggap sebagai balas jasa politik. Kelompok-kelompok pendukung berusaha menempatkan orang-orangnya pada posisi strategis. Dalam situasi seperti itu, konflik kepentingan menjadi sulit dihindari.
Yang menyedihkan, rakyat sering tidak pernah mengetahui akar masalah yang sebenarnya. Mereka melihat kepala daerah dan wakilnya saling berseberangan, tetapi tidak melihat pertarungan pengaruh yang berlangsung di belakang layar. Mereka menyaksikan retaknya hubungan politik, tetapi tidak selalu mengetahui bahwa yang diperebutkan sering kali bukan visi pembangunan, melainkan kendali atas pusat kekuasaan.
Fenomena yang sama juga terjadi di tubuh partai politik. Di hadapan publik, partai tampil sebagai organisasi yang solid. Akan tetapi di dalamnya terdapat banyak faksi yang bergerak dengan kepentingannya masing-masing. Ada kelompok senior, kelompok muda, kelompok loyalis pimpinan, kelompok daerah, kelompok donor, hingga kelompok yang dibangun melalui hubungan keluarga dan kedekatan personal.
Jurnalis senior Mulawarman, mengutip Ilmuwan politik Robert Michels, menyebut kecenderungan ini sebagai Iron Law of Oligarchy. Menurutnya, hampir setiap organisasi besar pada akhirnya akan dikuasai oleh kelompok elite tertentu. Ketika kekuasaan mulai terkonsentrasi pada lingkaran yang terbatas, perebutan posisi di sekitar pusat pengaruh menjadi sesuatu yang hampir tidak terhindarkan.
Akibatnya, yang terjadi bukan lagi kompetisi gagasan, melainkan kompetisi akses terhadap kekuasaan. Orang yang kemarin disebut sahabat seperjuangan bisa tiba-tiba dianggap ancaman. Kader yang dahulu dibesarkan bersama mendadak dipinggirkan. Tokoh yang memiliki pengaruh besar mulai dibatasi ruang geraknya karena keberadaannya dianggap mengganggu agenda kelompok tertentu.
Dalam banyak partai politik, faksi tidak selalu muncul karena perbedaan ideologi. Faksi lebih sering lahir dari perebutan pengaruh, perebutan akses terhadap pengambilan keputusan, dan perebutan posisi di sekitar pusat kekuasaan. Ketika kelompok tertentu merasa lebih berhak menentukan arah organisasi, maka upaya menyingkirkan pihak lain sering dianggap sebagai strategi yang wajar.
Di titik inilah politik perlahan kehilangan ruh idealismenya. Bisik-bisik menggantikan dialog. Intrik menggantikan argumentasi. Loyalitas tidak lagi diukur dari kapasitas dan kontribusi, melainkan dari kedekatan dengan pusat kekuasaan. Faksi tumbuh semakin kuat, sementara kepentingan organisasi dan kepentingan publik perlahan bergeser ke belakang.
Padahal sejarah menunjukkan bahwa kekuasaan yang terlalu sibuk mengurus konflik internal hampir selalu kehilangan energi untuk melayani rakyat. Pemerintahan menjadi lambat karena tersandera tarik-menarik kepentingan. Partai menjadi rapuh karena lebih sibuk mengelola persaingan internal daripada memperjuangkan gagasan besar. Keputusan-keputusan strategis tertunda karena setiap langkah harus melewati perhitungan politik yang semakin rumit.
Di situlah letak ironi politik yang terus berulang dari generasi ke generasi. Mereka yang dahulu berjalan bersama karena mimpi besar akhirnya saling berhadapan karena perebutan pengaruh. Mereka yang pernah berjanji menjaga kebersamaan justru terjebak dalam pertarungan untuk menentukan siapa yang paling berhak berada di dekat pusat kekuasaan.
Karena dalam politik, ancaman terbesar sering kali bukan lawan yang berdiri di luar pagar. Ancaman itu justru kerap tumbuh dari dalam rumah sendiri. Ketika keluarga, tim sukses, kelompok kepentingan, dan berbagai lingkaran kekuasaan mulai merasa memiliki hak untuk mengendalikan arah organisasi atau pemerintahan, perpecahan biasanya tinggal menunggu waktu.
Bukan karena para tokohnya tidak pernah saling percaya. Bukan pula karena mereka tidak lagi memiliki tujuan yang sama. Namun karena terlalu banyak tangan yang ingin memegang kemudi pada saat yang bersamaan.
Dan ketika kekuasaan berubah menjadi ruang perebutan pengaruh, persahabatan politik sering menjadi korban pertama yang tumbang.
Pada akhirnya, sejarah politik daerah mengajarkan satu pelajaran penting: memenangkan pemilihan jauh lebih mudah daripada menjaga kebersamaan setelah kemenangan diraih. Sebab kemenangan dapat dipersatukan oleh harapan, tetapi kekuasaan sering kali menguji watak, ambisi, dan kesetiaan setiap orang yang berada di sekelilingnya.
Itulah sebabnya begitu banyak pasangan politik tampak begitu kompak sebelum pemungutan suara, tetapi berubah menjadi dua kutub yang saling berhadapan setelah memasuki rumah kekuasaan.
Mereka menang bersama. Namun tidak semua mampu memerintah bersama.