Annas GS – Dari Birokrasi ke Politik Lalu Jadi Petani Garam

Petani Garam Jeneponto, Anna GS Kr Jalling - Kami dijajah bangsa sendiri. (Foto: Istimewa)
Kapok berpolitik – Setelah pensiun dari aparatur sipil negara, Anna GS Karaeng Jalling terjun ke politik. Kini, ia mulai jenuh berpolitik. Ia perlahan mundur dari arena. Ia mau jadi petani garam dan memperjuangkan nasib petani yang dijajah oleh bangsanya sendiri. “Saya jedah berpolitik untuk menjaga imun di masa pandemi. Sekarang saya jadi petani garam,” kata Anna.
menitindonesia, MAKASSAR – Karier Annas GS di birokrasi, lumayan bagus. Ia menduduki jabatan eselon dua selama 15 tahun lamanya. Lima tahun menjabat Kepala Biro Humas Pemrov Sulsel. Lalu, tahun 2008,ia dimutasi ke KPU dengan jabatan sekretaris KPU Sulsel.
Jabatan sekretaris KPU tersebut, diembannya selama 10 tahun. Setelah itu, ia pensiun. Selama menjalani masa pensiun, Annas GS sabang hari nongkrong di warkop. Tempat favoritnya ialah Kedai Kopi Phunam, Jalan Boulevar Panakukang Makassar. Tiap hari ia ngobrol dengan politisi. Apa saja menjadi thema diskusinya.
Hingga suatu hari, ia diajak oleh Rusdin Abdullah, pengusaha sukses dan tokoh senior di Partai Golkar Sulsel. Anna pun setuju dan bergabung di Partai Golkar. Karier politiknya diawali dengan mendukung HAM Nurdin Halid sebagai calon Gubernur Sulsel.
Sayangnya, calon yang diusung Partai Golkar itu keok di Pilgub Sulsel tahun 2018.
Tapi, sebagai tim sukses, Annas menunjukkan talenta berpolitik: ia berjuang sungguh-sungguh. Nurdin Halid (NH) pun menyukai kerja-kerja politiknya. Meski kalah di Pilgub, NH menarik Annas masuk ke dalam jajaran elit pengurus DPD I Partai Golkar Sulsel.
Putra Jeneponto yang bergelar Karang Jalling itu pun total berpolitik. 2019, ia menjadi calon anggota legislatif Partai Golkar mewakili Daerah Pemilih Jeneponto, Bantaeng dan Selayar. Ia membidik DPRD Provinsi. Namun, Annas GS tak berhasil lolos.
Yang menjadi soal. Pemilihnya di Jeneponto, tidak mengenal nama Annas GS – namanya yang tertulis di kertas suara. Yang dikenal luas oleh warga Jeneponto, basisnya, adalah Karaeng Jalling.
Akhirnya, ribuan pemilih Annas mencoblos gambar partai. Meskipun demikian, suara Annas terbilang lumayan. Digabung dengan yang lain menghasilkan 1 kursi dari Dapilnya. Ince Langke yang berhak menduduki kursi tersebut.
Suara Annas berbilang selisih sedikit dengan suara Ince dan Arfandi Idris.
Tak berhasil lolos ke DPRD, Annas tak putus asa. “Pileg sudah seperti itu. Ada hitung-hitungannya. Kita harus mensyukuri jika partai dapat kursi dari Dapil kita. Itu yang utama,” ucap Annas usai pesta demokrasi digelar.
Di Golkar Sulsel Annas GS makin di depan. Setiap rapat partai, terasa hambar tanpa kehadirannya. Bahkan dalam rekruitmen calon kepala daerah, Annas diberi peran yang sangat strategis: turut menentukan usungan Golkar di Pilkada serentak. “Saya ikut menguji kapasitas calon yang mau mengendarai Golkar,” kata Anna.
Tak hanya itu, ia pun ditunjuk menjadi pelaksana tugas ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Takalar jelang Musda Golkar Sulsel, bulan Juni, lalu. Otomatis Anna GS menjadi pemilik suara di arena Musda Golkar Sulsel. Anna pun menjadi man of the match di Musda Golkar.
Ia tak mau buru-buru menentukan pilihannya. “Budaya politik partai beringin harus dipahami. Sebelum menentukan pilihan, tunggu dulu petunjuk dari atas,” ucap Annas jelang berangkat ke arena Musda di Jakarta.
Usai Musda Golkar, kabar duka menyelimuti Golkar Sulsel yang baru saja dipimpin Taufan Pawe. Di tengah kemelut politik internal Golkar, Anggota Fraksi Golkar, H.Ince Langke meninggal dunia saat rapat badan anggaran di Gedung DPRD Sulsel, September lalu. Golkar berduka di tengah kemelut internalnya.
Sepeninggal Ince Langke, suhu politik di Golkar mulai memanas. Tak hanya penolakan terhadap Taufan Pawe, tapi juga soal siapa yang berhak mengganti antar waktu Almarhum Ince Langke. Ada dua nama yang dianggap berhak, yakni Arfandi Idris dan Annas GS.
Dari data perolehan suara, tentu saja, yang berhak PAW adalah Arfandi Idris, karena suaranya berada di atas Annas GS. Tapi, ada hal yang tidak diperhitungkan. Paling tidak suara yang mencoblos lambang partai di Jeneponto yang jumlahnya banyak itu, adalah keluarga dan kerabat Annas GS.
“Mereka mencoblos lambang partai karena tidak menemukan nama ‘Karaeng Jalling’. Kan nama saya di kertas suara tercantum Annas GS, sementara di Jeneponto yang dikenal masyarakat luas ialah Karaeng Jalling,” ucap Annas saat ditemui di Kedai Kopi Phunam, Makassar.
Sekarang, ia tidak menyoalnya lagi. “Biarlah seperti itu. Kita harus sabar, karena di politik kadang hak kita harus dikorbankan. Kita harus ikhlas dan berserah diri ke Tuhan. Semua sudah diatur dan ditentukan sesuai ketetapanNya. Itulah yang terbaik, sabar saja,” ucapnya.
Beberapa waktu lalu, Annas GS mengumumkan, ia berhenti dari jabatan Ketua Partai Golkar Takalar. “Saya mau kurangi berpolitik, sekarang saya mau jadi petani garam,” ujar Anna.
Dia tidak main-main. ia membuktikannya. Ia pulang ke kampungnya di Jeneponto dan menjadi Petani Garam.
Setelah beberapa hari melakoni aktifitasnya sebagai petani garam, ia merasa prihatin melihat kondisi petani garam yang ditindas oleh tengkulak.
Yang menyedihkan, kata dia, ialah harga beli dari petani ditentukan oleh para tengkulak (pedagang pengumpul) di desa. Alasan mereka menentukan harga murah, karena banyak garam impor.
“Kasihan, petani garam belum merdeka, dijajah oleh bangsa sendiri. Ini tidak adil,” ucap suami Sari Eka Alam Bulu itu.
Sekarang Anna bertekad, akan memperjuangkan nasib petani garam dan juga nasibnya sendiri sebagai petani. “Tentu dengan cara saya,” kata Anna. #adezakaria

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini