Andi Amran Sulaiman Pada Suatu Ketika

YM
Oleh : Yarifai Mappeaty
BELAKANGAN ini, nama Andi Amran Sulaiman, makin santer saja disebut-sebut dalam percakapan publik, terutama di Makassar. Dalam satu bulan terakhir, tidak kurang dari 5 tulisan tentangnya viral di media sosial. Tulisan paling mutakhir adalah “Jalan Berjejak Andi Amran Sulaiman” oleh Mulawarman, seorang wartawan senior asal Makassar.

Dalam percakapan publik, Amran, begitu ia dipanggil, secara terang-terangan dihubungkan dengan suksesi kepemimpinan Sulawesi Selatan pada 2023 sebagai Calon Gubernur yang paling kuat. Selain itu, ia bahkan disebut-sebut sebagai kandidat paling potensial dari timur untuk bursa Cawapres pada Pilpres RI 2024.

Saat tengah meng-googling semua tulisan tentang Amran, tiba-tiba teringat jumpa pertama kali dengannya di Warkop Phoenam Jakarta, 2015 silam. Kala itu, Phoenam masih di Wahid Hasyim, di samping Gereja Bethel Indonesia, belum pindah ke Wahid Hasyim Gondangdia.
Suatu Ahad, siang, saya bersama Ishak Iskandar, mantan Sekjen KEPPMI Bone, menuju Phoenam hendak makan sop ubi dan juga ngopi, tentunya. Saat di pintu masuk, dari jauh saya melihat Arman Arfah, seorang tokoh KAHMI Sulsel, duduk membelakang bersama beberapa orang.
Lantas terpikir olehku untuk mengetes jantungnya, mumpung baru bertemu lagi. Saya kemudian mengendap mendekatinya dari belakang. Saat tanganku terangkat hendak menepuknya, tiba-tiba dua sorot mata menatapku, seolah terkesima. Tanganku tertahan seketika dan pemilik Cafe Seaweed Makassar itu, selamat dari tepukanku.
“Eh, Pak Mentan,” sapaku bersahaja sembari mengajak berjabat tangan. Arman pun sontak menoleh dan menyadari kehadiranku. Tanpa berbasa-basi lebih lama, begitu usai menjabat tangan yang lain satu per satu, kecuali Arman, saya kemudian berlalu menuju meja di salah satu pojok, dimana Ishak sudah menunggu.
Tak lama berselang, Husain Abdullah, Jubir Pak JK, datang dan bergabung dengan mereka. Dari mejaku, saya memergoki mereka lebih dari sekali melihat ke arahku. “Mungkinkah ada yang tak berkenan denganku?” saya membatin.
Benar saja. Setelah Menteri Amran beranjak pergi, Uceng, sebutan akrab Husain Abdullah, mengirim isyarat kepadaku sembari menunjuk kursi di sebelahnya. Sementara itu, Arman tampak hanya sibuk dengan hand phone-nya, seoalah mood-nya terganggu. Mungkin proposal seminar internasional rumput laut-nya kurang mendapat apresiasi Pak Menteri.
“Tadi itu Menteri Pertanian Republik Indonesia, bapak!” Arman langsung menyergapku, begitu saya duduk di kursiku, tepat di hadapannya. Suaranya terdengar pelan namun dalam, menunjukkan kalau ia kesal padaku. “Mestinya bapak duduk sebentar, mengobrol, jangan terus berlalu, seolah tidak menghargai Pak Menteri,” sambungnya.
“Apalagi sesama orang Bone, di mana itu yang disebut sipakatau,” timpal Uceng dengan ciri khasnya, senyum kecil, manis, namun mengejek, membuatku merasa diadili.
“Betul tawwa, kak. Sampai-sampai Pak Menteri melongo melihat kita pergi begitu saja,” tambah Ola Mallawangeng yang makin membuatku terpojok.
“Kenapa saya diadili!?” elakku dengan nada agak tinggi.
“Bukan begitu, Mas,” potong Arman sedikit melunak. Terhadapku, Arman kadang memangggiku bapak, kadang juga mas, tergantung suasanya hatinya. “Coba bayangkan, setiap hari, orang antri ingin bertemu beliau. Tapi, mas ini, seolah tidak menganggap Pak Menteri,” sambungnya tetap berusaha menekanku.
“Tahu, tidak, kenapa Pak Amran bisa menjadi menteri?” tanyaku sembari menatap mereka satu per satu.
“Kenapa, kak,” Ola balik tanya.
“Karena cara pandangnya tidak umum, berbeda dengan orang seperti kamu, Ola. Kalau cara pandangnya umum, ia tidak akan pernah menjadi menteri,” jawabku datar membuat Ola salah tingkah, Uceng tersedak, sedang Arman membisu.
“Sebenarnya, Pak Amran justeru mengapresiasiku sebagai orang yang memiliki etika, dan, juga tahu diri untuk tidak mencoba mendekatinya. Pak Mentan juga tahu kalau saya memilih pergi karena saya tidak diajak duduk bergabung oleh Arman. Lagi pula, saya sendiri merasa tidak punya alasan untuk tinggal, karena saya dan Pak Mentan, memang tak saling mengenal,” paparku balik menekan.
“Bagaimana tidak saling mengenal, padahal sama-sama dari agro kompleks? Tanya Uceng.
Uceng benar. Kami memang sama-sama dari Agro Kompleks UNHAS. Saya dari Fakultas Peternakan angkatan 1985, sedang Amran dari Fakultas Pertanian 1988. Namun, saya benar-benar tidak mengenalnya. Tetapi, entah kalau sebaliknya. Maksud saya, setidaknya, ia mungkin pernah melihatku saat bertugas di Laboratorium Biologi Dasar dari 1987 – 1990. Di Eksakta, hanya mahasiswa Faklutas Teknik yang dikecualikan bagi Mata Kuliah Biologi Dasar.
“Ada dua tipologi junior yang membuat seorang senior menaruh perhatian padanya. Pertama, kalau mahasiswa, ia kalasi alias brengsek. Sedangkan kalau mahasiswi, ia cantik,” jelasku.
“Lalu, Pak Amran selaku junior kala itu, masuk tipologi mana?” desak Uceng penasaran.
“Tidak kedua-duanya,” jawabku singkat membuat Uceng dan Ola terbahak. Sedangkan Arman hanya tampak termangu, seolah tak percaya, begitu mudahnya saya melepaskan diri dari tekanannya.
Kini, saat sosok mantan Menteri Pertanian itu dipercakapkan, saya mungkin termasuk yang memiliki penilaian yang berbeda. Menurutku, ia juga termasuk sosok yang berbeda dengan keunikannya sendiri. Bagaimana tidak? Coba bayangkan, entah dari mana datangnya, ia tiba-tiba diangkat menjadi Menteri. Padahal, sebelum muncul di pentas nasional, tak banyak yang tahu rekam jejaknya. Bahkan, ia sama sekali nyaris luput dari perhatian publik. Ia seolah meretas jalannya sendiri dalam sunyi menuju puncak penacapaiannya.
Bahwa saat ini, ia sedang meretas jalannya menuju RI-2, sedikitpun saya tak merasa apriori, apalagi skeptis. Sebab, biasanya, sosok seperti ini, ada semacam faktor invicible hand bekerja bersamanya, bahkan sekaligus menuntunnya. Oleh karena itu, “Teori Jalan Berjejak” Mulawarman, sangat mungkin tidak berlaku baginya.
“Jika Allah menghendaki kemuliaan bagi seorang hamba, maka tak ada satupun yang mampu menghalanginya. Sebaliknya pun begitu, jika Allah hendak menimpakan kehinaan kepada seorang hamba, maka, tidak ada satupun yang mampu menepisnya.,” kurang lebih begitu pesan langit. Dan, pesan ini terbukti secara meyakinkan di sekitar kita. (*)