Sosialisasi Nilai-Nilai Keagamaan, Debbie Rusdin: Jika Ada Yang Ajarkan Kekerasan, Maka Itu Paham Yang Sesat

Anggota DPRD Sulsel, Debbie Rusdin melakukan sosialisasi nilai-nilai kebangsaan "Keagamaan". (Foto: Ist)
menitindonesia, MAKASSAR – Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan Debbie Rusdin menggelar sosialisasi nilai-nilai kebangsaan “keagamaan” di Aula Serba Guna, Jalan Sunu, Kecamatan Tallo, Makassar, Minggu (18/4/2021).
Dalam sosialisasi tersebut, Debbie mengangkat tema “keagamaan” dan dihadiri sekitar 100 warga Tallo. Sebagai pemateri, diisi oleh Dosen UIN Alauddin Makassar, Dr Shuhufi Abdullah, S.Ag dan Suharto, S.Ag, M.Ag.
Dalam sambutannya, Debbie meminta warga meningkatkan kewaspadaan terhadap pahan terorisme dan menganjurkan kepada Ummat Islam agar menjalankan ajaran agama Islam sesuai Al-Quran dan sunnah secara benar.
“Agama tidak boleh dijadikan alat untuk melakukan kekerasan dan aksi teror. Dalam Islam, tidak dibenarkan menghilangkan nyawa orang lain yang tidak bersalah. Islam itu mengasihi ummat beragama dan tidak membenci agama lain. Bagimu agamaku dan bagimu agamamu,” kata Debbie Rusdin.
Dia berharap, agar ummat Islam tidak mudah dimasuki oleh paham-paham radikal yang ekstrim dan menyesatkan, sehingga membenarkan aksi teror. Ia menekankan, bahwa Islam adalah agama Rahmatan Lil Aalamiin (rahmat bagi se isi alam) dan bukan agama kekerasan.
“Jika ada yang mengajarkan kekerasan dalam Islam yang bertentangan dengan rahmat bagi seisi alam, maka jelas itu adalah ajaran yang sesat,” ucap Debbie.
Sementara itu, Dr Shuhufi Abdullah, membenarkan apa yang disampaikan oleh Debbie. Menurutnya, prinsip dasar agama Islam adalah rahmat bagi semesta alam. Ia juga meminta kepada para orang tua agar menjaga anak-anak mereka jangan sampai terkena doktrin-doktrin yang menyesatkan dan menghalalkan kekerasan dalam dakwah.
“Anak-anak harus dijaga dari paham radikal, dan harus diberikan perimbangan informasi. Tidak boleh kita menutup diri. Paham terorisme harus dicegah dan tidak boleh dibenarkan jika ada yang melakukan aksis teror,” kata Shuhufi.
Lebih lanjut, Shuhufi menjelaskan, bahwa di dalam Islam, dilarang membenci sesama, dan dilarang mencaci maki orang. Islam, kata dia, menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan dan harus menanamkan nilai-nilai kebersamaan atau ukhuwah itu.
“Dorong keluarga kita taat beragama. Karena kalau taat itu saling mempercayai dan tidak saling mencurigai. Pondasi keagaaman, adalah selalu berbaik sangka, jauhi prasangka buruk,” ujarnya
Pemateri lainnya, Suharto juga menyampaikan bangsa indonesia sebagai bangsa yang besar, tidak boleh dipisahkan dengan nilai nilai kebangsaan dan agama.
“Nilai kebangsaan dan agama saling terkait. Sekarang ini banyak upaya ingin memecah belah bangsa ini.  Tidak boleh sebagai agama yang mayoritas lantas memaksakan kehendak kepada kaum yang minoritas. Islam menganjurkan kita saling menghargai. Apalagi di negeri ini, keberagaman harus dinjunjung tinggi,” ujar Suharto.
Dia juga mengajak ummat Islam agar menata diri dan memperbaiki diri di hadapan Allah SWT terutama di bulan ramadhan.
“Perbaiki diri dan kualitas hidup kita di hadapan Allah. Kalau mau jihad, lawan setan yang ada di dalam diri kita, bnukan melakukan bom bunuh diri atau aksi teror,” ucapnya.
Sosialisasi tersebut dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat, peserta menjaga jarak, memakai masker dan wajib cuci tangan. (andi ade zakaria)


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini