Belajar Pada AS, Atasi Covid-19 Pakai Cara American Style

Journalis
MUSIM wabah pandemi Covid-19, nampaknya masih lama akan usai. Sejak Covid-19 ditemukan pertama kali di Provinsi Wuhan, Tiongkok (China) akhir Desember 2019 silam, virus ini semakin menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke negara kita.
Secara global, Covid-19 menjadi persoalan. Tak hanya soal kesehatan dan keselamatan warga dunia terancam, juga memberi dampak terhadap ekonomi, sosial dan politik. Banyak negara mengalami keterpurukan. Pandemi ini mempengaruhi stabilitas politik di dalam negeri: menghasilkan kemiskinan, dan kemiskinan menghasilkan penentangan.
Dari data yang tercatat pada Rabu, 14 Juli 2021 kemarin, jumlah secara global angka manusia yang terinfeksi Covid-19 mencapai 188.623.034 kasus. Berdasarkan data itu, yang meninggal 4.065.901. Namun, kasus infeksi yang berhasil disembuhkan cukup tinggi, mencapai angka 172.440.954 kasus. Dari data ini, kita membaca “krisis kesehatan golbal” ini akan berdampak pada krisis multidimensi: ekonomi, sosial dan politik–yang berkepanjangan. Sebab pandemi belum kunjung usai.

Cara AS Atasi Pandemi (American Style)

Kawan saya di Amerika Serikat (AS), Prof dr Taruna Ikrar M.Pharm MD Ph.D, seorang ilmuwan berkebangsaan Indonesia, ahli dalam bidang farmasi, jantung, dan syaraf, pernah menjabat sebagai spesialis laboratorium di departemen anatomi dan neurobiologi di Universitas California, di Irvine, AS, melalui telepon aplikasi WhatsApp menceritakan kondisi warga di AS saat ini. Di sana, tak ada lagi yang memakai masker, kehidupan warga kembali normal seperti sedia kala.
Warga di Amerika, kata Taruna, percaya jika vaksin adalah solusi untuk melawan Covid-19, sehingga warga berbondong-bondong divaksin. Adanya kekebalan komunal, membuat warga bebas beraktivitas di tengah wabah. Ekonomi kembali bangkit. Indeks pendapatan masyarakat meningkat, ancaman kemiskinan teratasi, stabilitas sosial, ekonomi dan politik  pulih kembali.
Saya teringat di awal masa pandemi Covid-19. Saat itu AS dipimpin oleh Presiden Donald Trump. AS menjadi salah satu negara terparah yang dipapar virus corona (Covid-19). Jumlah kasus setiap hari mencapai puluhan ribu. Pergerakan warga dibatasi. Supermarket dijarah. Polisi vs warga sering berkelahi di jalan. Bahkan ada yang mati di jalan bukan karena virus, tapi roboh setelah ditembak oleh aparat keamanan.
Presiden AS Donald Trump kehilangan kepercayaan. Dia dianggap gagap memanaje negeri sebesar Amerika di masa pandemi ini. Kebijakan ekonomi Trump tidak memulihkan, tetapi membuat jumlah orang miskin terus bertambah. Manajemen pengendalian pandemi gagal. Trump bahkan menyarankan warganya menengguk disinfektan agar virusnya mati.
Inilah sejarah buram bagi AS: memiliki presiden yang dungu. Omongannya ngawur dan berisi kebohongan. Program mengatasi pandemi dinilai gagal, kesehatan warganya terancaman, ekonomi ambruk. Ketertiban dan keamanan kacau balau. Kehadiran aparat keamanan (semacam Satpol PP) dianggap lebih bebahaya dari virus, sehingga mereka harus diusir dan ditimpuk benda apa saja.

Ganti Presiden

Di tengah situasi yang gaduh dan kekuasaan yang mulai rapuh, rakyat AS bangkit kembali. Kampanye para penikmat rezim Donald Trump ditentang. Keinginan mereka memperpanjang Rezim Donald Trump untuk membawa AS keluar dari krisis, dianggap hanya siasat para penipu yang ingin mengebiri Amerika. Rakyat AS bertekad: Partai Republik, pengusung Donald Trump harus dikalahkan lewat cara yang demokratis di Pilpres 2020.
Presiden AS 2009-2017 Barack Obama, yang semula diabaikan dan dimusuhi Rezim Donald Trump, akhirnya rajin berkicau di Twiter @BarackObama, medsos miliknya. Dia mengeritik kebijakan Donald Trump selama memimpin Amerika. Kita semua tahu, apa yang terjadi selanjutnya.
Obama dan separuh lebih rakyat AS setuju: Presiden Donald Trump harus game over dari singgasananya. Dia harus keluar dari Gedung Putih agar Amerika tak gaduh lagi. Hasil Pilpres, memaksa Donald Trump berhenti. Joe Biden dan Kemala Haris, yang dicalonkan Partai Demokrat menggantikannya. Donald Trump beserta para begundalnya, diseret keluar dari istana.
Wajah Istana Kepresidenan yang munafik berubah menjadi adem dan bersahabat. Tak ada lagi kebohongan yang diunggah melalui keterangan pers dari “lalat-lalat” Istana (White House). Pandemi pelan tapi pasti teratasi. Warga dan aparat keamanan kembali bersahabat. Ekonomi pulih. Rasa nyaman kembali hadir tanpa kemunafikan para penipu di Istana.
Begitulah. Percakapan saya dengan sahabat saya Taruna Ikrar di Amerika. Dia mendorong saya untuk mengikuti vaksinasi dan menyarankan, merk apapun vaksinnya, terima saja, karena dengan vaksinasi Covid-19 bisa diatasi. Tapi lebih dari itu, saya menyimpulkan AS telah menyelesaikan pandemi dengan high politic: mengganti presiden di saat yang tepat, agar kebijakan mengenai pandemi ditetapkan oleh kepemimpinan yang cakap.


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini