Nefertiti, Mesir

mantan anggota DPR RI
Oleh Mubha Kahar Muang
PATUNG Ratu Nefertiti dari Mesir yang menjadi koleksi Museum Altes Berlin sejak ditemukannya tahun 1912 hingga saat ini masih menyimpan masalah. Pemerintah Jerman menganggap patung tersebut merupakan Duta Mesir yang terbaik bagi Jerman, sementara pemerintah Mesir terus berjuang agar patung yang diperkirakan senilai 300 juta euro tersebut di pulangkan ke Mesir.
Menurut Dr. Naunton arkeolog dari University of Melbourne Ratu Nefertiti diduga memiliki kecantikan ala bintang Hollywood dan dipandang sebagai seorang perempuan cantik untuk ukuran masa kini sekalipun.
Diperkirakan hidup 1370-1330 SM, ia adalah Permaisuri Agung Firaun Akhenaten dari Dinasti ke-18 Mesir. Firaun Akhenaten sebelumnya bergelar Amenhotep IV putra dari Amenhotep III. Yang menarik, riwayat Firaun Akhenaten yang di perkirakan memerintah 1353-1336 SM, hilang dari sejarah Mesir.
Sejarah Mesir sebelumnya hanya mencatat daftar firaun dari Amenhotep III turun langsung kepada Horembeb. Hal ini diduga merupakan upaya Horembeb untuk menghapus jejak Akhenaten yang dianggap membuat revolusi radikal. Akhenaten mengubah kepercayaan Mesir yang menyembah banyak dewa menjadi monoteis dengan hanya menyembah Dewa Aten. Dewa nasional bangsa Mesir kuno adalah Amun-Ra atau Dewa Bulan Matahari yang disingkat Amun. Selain itu mereka juga memuja dewa Osiris, Isis, Aris, Thot, Anubis, Apis dan masih banyak yang lain. Raja Mesir yang disebut Firaun dianggap putra Amun. Mereka percaya roh hidup terus asal badan utuh, karena itu perlu dimumi.
Amenhotep IV yang di mahkotai di Thebes membangun kota baru Akhetaten, yang sekarang disebut Kota Amarna, pada tahun ke-5 pemerintahannya. Sebutan Amenhotep IV berganti nama menjadi Akhenaten yang artinya “roh Aten yang hidup”. Beberapa ahli Mesir menggambarkan Akhenaten adalah seorang yang revolusioner, gagasannya tentang monoteisme sangat maju dibanding masanya.
Namun, riwayat sang Firaun yang makamnya ditemukan tahun 1907 di Lembah Para Raja, hilang dari sejarah Mesir, hingga ditemukannya kembali kota Amarna. Kota ini dibangun untuk dewa Aten. Di kota ini Akhenaten membangun sejumlah kuil dan beberapa bangunan lainnya termasuk Istana yang di persembahkan kepada ratu Nefertiti yang berperan aktif dalam revolusi agama yang
berpusat pada pemujaan Dewa Aten.
Penemuan kembali Kota Amarna menarik perhatian, terutama para arkeolog dunia. Berawal dari ekspedisi Howard Carter, arkeolog asal London, Inggris, lahir tahun 1874 yang mendalami kebudayaan Mesir. Carter adalah arkeolog yang begitu konsisten terhadap Mesir. Ia bekerja di wilayah Mesir melakukan penggalian dan restorasi situs dan pemeliharaan artefak Mesir Kuno, sampai akhirnya terobsesi menemukan salah satu makam Firaun Mesir kuno dari dinasti ke-18. Ekspedisinya di sponsori oleh Lord Carnarvon, bangsawan yang gemar barang kuno dan antik.
Lord Carnarvon sudah mengultimatum Carter akan menyetop pembiayaan ekspedisi. Tetapi Carter yang dibantu oleh tim dari Museum Seni Metropolitan di New York, meyakinkan Carnarvon bahwa ia hanya butuh satu kesempatan lagi. Carter begitu yakin makam tersebut terkonsentrasi di sekitar Lembah Para Raja di wilayah tepi barat, dekat Luxor, Thebes kuno di Mesir Selatan.
Ketika penggalian dilanjutkan, tim mulai menemukan sebuah tangga batu yang menurun di sekitar kompleks tersebut. Penggalian dilanjutkan dan terlihat bahwa tangga tersebut mengarah pada satu pintu tertutup. Carter yakin bahwa pintu itu mengarah ke makam dinasti ke-18 lalu memberitahu Carnarvon. Dua hari setelah Carnavon tiba di lokasi penggalian pintu batu menuju makam berhasil dibuka. Di dalamnya terdapat lorong berdinding batuan berhiaskan hieroglif Mesir Kuno menuju pintu berikutnya. Setelah mengintip ruangan di balik pintu batu, Carter pun takjub. Makam yang dicari selama dua puluh tahun kini ditemukan. Penemuan tersebut menjadi berita besar dan menghebohkan dalam sejarah arkeolog dan dinobatkan sebagai temuan arkeolog paling menakjubkan abad ke-20.
Temuan kompleks makam tersebut lengkap dengan artefak dan harta peninggalan Firaun yang masih utuh. Semua yang berada dalam makam tersebut masih tersegel dan belum pernah disentuh oleh siapapun sejak pemakamannya selama 3.248 tahun.
Ruang makam di bawah tanah tersebut dilapisi emas murni dan di dalamnya terdapat empat kuburan dengan masing-masing peti mati dari batu. Ruangan tertata dengan baik dengan beberapa pot bunga, singgasana bertakhta permata, baju-baju kerajaan, beberapa set alat rumah tangga, seperti pisau dan terdapat juga senjata, serta beberapa peti harta. Di dalam peti mati tersebut terdapat mumi yang disegel dengan nama Tutankhamun.
Berdasarkan tes DNA tahun 2010 terbukti bahwa Tutankhamun adalah putra Akhenaten. Peti mati terdiri dari tiga lapisan, lapisan terakhir terbuat dari lempengan emas murni berukir. Mumi tersebut dibalut kain kafan putih berlapis permata. Bagian wajah ditutup dengan topeng emas berhias permata dan pada bagian dada terdapat kalung bunga yang warnanya masih segar.
Makam dinasti ke-18, satu-satunya situs yang tidak dijarah dan belum dijamah manusia karena pintu masuk ke makam tersebut tertutup puing-puing yang sengaja diciptakan selama pembangunan makam dinasti ke-20 Ramses yang terletak di atasnya. Riwayat dinasti ke-18 terungkap setelah ditemukannya situs tersebut.
Kebijakan luar negeri Akhenaten didapatkan dari penemuan kumpulan Surat Amarna. Sejumlah korespondensi diplomatik berupa tablet atau lempengan tanah liat yang ditemukan di lokasi situs tersebut, adalah koleksi yang tidak ternilai.
Tablet-tablet tersebut dikirimkan kepada Akhenaten dari pemimpin daerah di seluruh pos militer Mesir dan dari pemimpin negara asing seperti dari Mitanni, Babylon, Asyur dan Hatti serta surat dari gubernur-gubernur dan raja-raja jajahan Mesir. Dari kumpulan surat terebut diketahui Akhenaten memberi perhatian besar terhadap urusan bawahannya di Kanaan dan Siria. Akhenaten berhasil mempertahankan kekuasaannya di Palestina dan Pantai Fenisia. Bahkan pada tahun ke-12 pemerintahannya pernah melakukan penyerangan ke Nubia.
Inskripsi yang ditemukan dalam tambang batu kapur di Deir el-Bersha sebelah utara Amarna, menyebutkan tentang proyek pembangunan di Amarna dan memberi bukti bahwa Akhenaten dan Nefertiti hidup sebagai pasangan kerajaan . Ditemukan pula inskripsi dalam sebuah makam di Amarna bahwa Ratu Nefertiti memerintah bersama dengan Akhenaten, karenanya Nefertiti juga disebut bergelar firaun. Dari sumber lain menyebutkan bahwa setelah Akhenaten wafat , Nefertiti memerintah selama 2 tahun 1 bulan sebelum Tutankhamun menjadi raja.
Perempuan Mesir yang bergelar firaun dan dikenal dunia selain Nefertiti, adalah Hatshepsut. Kuilnya terletak di Deri el Bahri. Kuil tersebut karena keindahannya sehingga disebut sebagai salah satu mahakarya arsitektur paling mencolok di dunia.
Menjadi salah satu dari sekian banyak keajaiban arkeologi yang dipelihara oleh situs warisan dunia UNESCO.
Kuil tersebut menjadi simbol kesuksesan pemerintahan seorang Ratu Mesir Kuno yang memerintah sekitar tahun 1479 SM , ia memeritah setelah kematian suaminya Thutmose II. Ia menjadi perempuan pertama Mesir Kuno yang bergelar firaun dan memerintah selama dua dekade. Pemerintahannya disebut maju, menjadikan Mesir sebagai kerajaan yang sangat kuat. Hatshepsut meninggal pada 1458 SM dan di makamkan di Lembah Para Raja.
Selain itu, yang tak kalah menarik adalah Cleopatra VII (69 SM- 30 SM). yang berdarah Yunani, bukan keturunan Mesir, tetapi lahir dan dibesarkan di Alexandria, Mesir. Ia menjadi penguasa Mesir bersama ayahnya Ptolemeus XII, dari Dinasti Ptolemaik Yunani. Pemerintahannya diwarnai konflik dan perebutan kekuasan dari internal keluarga, karenanya sering meminta bantuan Romawi, sehingga menjadi boneka Kekaisaran Romawi. Ketika Cleopatra berkuasa , ia dikenal dunia karena. kecantikannya, dan petualangan romantisnya. Ia menjalin hubungan dengan penguasa Kerajaan Romawi, yaitu Julius Caesar, kemudian menikah dengan Mark Antony, jendral dan politikus Romawi, yang menyeret Mesir menjadi bagian dari Kekaisaran Romawi. Kisah hidupnya sering di dramatisasikan dalam beragam bentuk karya dan yang paling menonjol adalah karya William Shakespeare “Antony and Cleopatra“ tahun 1607. Sepeninggal Cleopatra Mesir menjadi salah satu provinsi Kekaisaran Romawi, yang berlangsung selama 700 tahun .
Diluar dari ketiga firaun yang terkenal tersebut, kita juga mengenal seorang perempuan pada masa Mesir Kuno yang kisahnya disebut dalam Al Quran Al -Qasas ayat 9, ia bukan firaun tetapi istri seorang firaun yang diperkirakan memerintah sebelum Hatshepsut. Karena takut kerajaannya akan dihancurkan oleh Bani Israil, sang firaun memerintahkan untuk membunuh anak laki- laki yang lahir di kalangan Bani Israil. Ibunya Musa yang memiliki bayi laki – laki kemudian meletakkan Musa dalam sebuah keranjang dan menghanyutkannya di Sungai Nil, tetapi secara tak terduga bayi tersebut ditemukan oleh istri sang firaun, kemudian berusaha menyelamatkan bayi yang kelak disebut Nabi Musa. Menurut Hadis riwayat Bukhari Muslim, istri firaun tersebut bernama Asiyah.
Yang kemudian masih menyimpan misteri adalah makam Ratu Nefertiti yang belum ditemukan hingga saat ini . Kuat dugaan para arkeolog bahwa makam Nefertiti berada dibalik tembok makam Tutankhamun yang megah. Ada pula yang menduga dia dimakamkan di Amarna, yang berjarak ratusan kilometer dari Lembah Para Raja.
Dengan kematian Akhenaten, penyembahan kepada Dewa Aten yang dianutnya lambat laun kehilangan pengikut. Tutankhaten putranya yang menggantikannya pada tahun ke-2 pemerintahannya berganti nama menjadi Tutankhamun lalu meninggalkan kota Akhetaten yang dibangun ayahnya. Kota Akhetaten atau Amarna, kemudian dihancurkan oleh Horembeb. Akhenaten, Nefertiti dan Tutankhamun dihapus dari daftar resmi Firaun. Monumen raja Tutankhamun dihancurkan, lokasi makam terlupakan tertimbun puing-puing tetapi terselamatkan dari penjarahan, hingga ditemukan kemudian dalam keadaan utuh.
Walaupun makam Nefertiti belum ditemukan, tetapi patung sedada ratu yang terkenal kecantikannya , masih menjadi perbincangan yang menarik. Patung tersebut adalah karya pematung utama Mesir kala itu, Thutmose. Terbuat dari gips dengan tinggi 47 cm yang kemudian melahirkan selisih pendapat antara pemerintah Jerman dengan Mesir. Konon, arkeolog Jerman, Ludwig Borchardt dan timnya, pada tahun 1912 ketika melakukan penggalian di sekitar sanggar pematung kerajaan Mesir Kuno itu, mendapat ijin dari lembaga yang mengurusi warisan budaya Mesir untuk membawa sebagian hasil galian tersebut ke Jerman, termasuk patung Nefertiti. Pada tahun 1920 pengusaha Henri James Simon menghibahkan patung tersebut dan terdaftar sebagai milik Museum Jerman. Pemerintah Mesir meyakini, patung tersebut diselundupkan keluar Mesir.
Kisruh tentang patung ini tidak berhenti. Keaslian dari patung tersebut dipertanyakan oleh ahli sejarah dari galeri seni Swiss, Henri Stierlin yang mengatakan bahwa patung tersebut hanya tiruan yang dibuat tahun 1912. Stierlin, pengarang puluhan karya tulis Mesir, Timur Tengah dan Islam kuno mengatakan bahwa patung yang dipamerkan di Museum Altes Jerman tersebut atas pesanan arkeolog Jerman, Ludwig Borchardt. Dibuat oleh seorang seniman bernama Gereardt Marks. Pernyataan itu dibantah oleh pemerintah Mesir.
Terlepas dari semua itu, penemuan kota Amarna telah menambah khasanah dan pengetahuan kita tentang sejarah kehadiran Firaun Akhenaten dan Nefertiti sang permaisuri yang telah melegenda itu.


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini