Republik Chili

mantan anggota DPR RI
Oleh Mubha Kahar Muang
HANYA satu nama Chili, tetapi begitu banyak teori yang disandarkan untuk menjelaskan asal muasal nama tersebut. Seorang yesuit Miguel de Olivares berpendapat, nama itu berasal dari suku Mapuche yang menirukan kicauan burung trile, cheele-cheele. Sejarawan asal Urugay, Miguel Luis Amunategui, punya pendapat lain. Menurutnya nama itu dari Bahasa Aymara, chilli, yang bermakna tempat berujungnya segala tanah.
Masih sederet lagi hipotetis yang akan kita temui tentang nama Chili. Nama-nama tersebut merujuk ke nama tempat atau bahasa suku yang berada dalam wilayah kedaulatannya. Beragam pendapat tersebut sangat mungkin disebabkan letak Chili yang mencakup tiga benua, Amerika, Oseania dan Antartika. Karena letaknya itu Chili menyebut diri sebagai negara tiga benua.
Chili yang luas wilayahnya saat ini diperkirakan 758.950 km2 atau 39,5 % dari luas wilayah Indonesia, adalah negara taklukan Spanyol. Karena itu bahasa resminya hingga saat ini adalah bahasa Spanyol.
Bermula ketika Pedro de Valdivia seorang tentara Spanyol yang berpangkat letnan memimpin ekspedisi ke Chili tahun 1540 meskipun tidak menemukan cadangan emas dan perak yang mereka cari, tetapi menemukan potensi ladang pertanian di lembah tengah Chili.
Ekspedisi tersebut terdiri dari 200 orang Spanyol dan 1.000 orang penduduk asli dari utara. Pada 12 Februari 1541 Pedro mendirikan kota Santiago. Dalam masa 11 tahun, tahap demi tahap ia berhasil menguasai beberapa wilayah Chili.
Pemerintah Spanyol membangun kota Santiago, membangun gedung bergaya Eropa, memasukkan unsur Eropa dalam kehidupan sehari-hari, melakukan perubahan di sektor ekonomi, politik dan budaya. Santiago menjadi tempat tinggal orang- orang Spanyol selama masa pendudukan tersebut. Pemerintahan Spanyol menanamkan praktik pengelolaan wilayah kekuasaan yang baik tetapi hanya di Santiago, dan tetap memberlakukan aturan-aturan kolonial bagi penduduk asli Chili.
Penaklukkan bangsa Spanyol di Chili menghadapi perlawanan yang sangat hebat dari penduduk setempat. Tahun 1553 terjadi pemberontakan besar-besaran oleh suku Mapuche. Pemberontakan itu mengakibatkan hancurnya permukiman penting koloni Spanyol dan menjadi penyebab kematian Pedro de Valdivia pada 31 Desember 1533. Penduduk asli lain melakukan pemberontakan yang sama. Seperti yang terjadi pada 1598 dan tahun 1655. Setiap pemberontakan membuat batas koloni Spanyol di selatan terus bergeser ke utara. Artinya, wilayah Spanyol di Chili terus berkurang.
Penduduk asli Amerika suku Indian, menurut sejarawan mereka adalah orang Asia, yang mengembara ke Amerika diperkirakan melalui Selat Bering menuju Alaska lalu menyebar ke seluruh benua Amerika. Diperkirakan mereka mengikuti hewan buruan, atau dikejar musuh sekitar 15.000 tahun lalu. Lambat laun mereka menetap dan berkembang menjadi berbagai suku. Terpecah nya dalam berbagai suku menurut anthropolog diakibatkan oleh penyimpangan gen dan proses adaptasi terhadap iklim.
Peninggalan-peninggalan arkeologis di Monte Verde, Los Galos Chili, menurut beberapa kajian diperkirakan berusia 14.800 tahun, temuan ini memperkuat pendapat sejarawan tentang mula kedatangan orang Asia ke Amerika.
Temuan terakhir di Semenanjung Yucatán Meksiko, yang memberi petunjuk baru.
Kerangka seorang gadis yang dinamai “Naia” oleh para ilmuwan, salah satu kerangka tertua dan terbaik yang diawetkan di Amerika Serikat. Kerangka Naia ditemukan pada tahun 2007. Ia tenggelam dalam sebuah gua bawah air sekitar 41 meter dibawah permukaan laut .
Gadis berusia 15-16 tahun tersebut kemungkinan terpeleset dalam lubang yang kini berair sekitar 12.000-13.000 tahun lalu. Analisa DNA pada Naia memberi kesimpulan Tim Peneliti Internasional yang bekerja pada Naia, berasal dari garis keturunan Asia.
Mereka diduga dari Ras Mongoloid, rambut hitam lurus, kulit coklat kemerahan, mata hitam, tulang pipi menonjol, wajah lebar. Sebenarnya mereka tidak pernah menyebut diri sebagai orang Indian, tetapi pelaut Eropa yang dipimpin oleh Christopher Columbus ketika bertemu penduduk asli, mereka mengira telah tiba di India. Sejak itu suku asli disebut suku Indian.
Pendudukan Spanyol di Amerika dimulai ketika Christopher Colombus tiba di benua tersebut pada tahun 1492. Mulai dari pemukiman di Karibia, kemudian Amerika Tengah, dan hampir seluruh Amerika Selatan, Meksiko dan Amerika Serikat Barat Daya saat ini, pantai Pasifik bahkan mencapai Alaska.
Ketika Spanyol mengendalikan Portugal yang menguasai Brazil, Spanyol mendirikan dua distrik administratif, kemudian mengambil alih peran distrik di Peru. Perdagangan digeser ke Buenos Aires yang dianggap lebih menguntungkan. Tetapi distrik di Peru akhirnya dibubarkan menyusul munculnya gerakan-gerakan kemerdekaan di awal abad ke-19.
Perebutan kekuasaan takhta Spanyol oleh kakak Napoleon Bonaparte, Joseph Bonaparte tahun 1808 semakin mendorong upaya koloni Spanyol termasuk Chili untuk merdeka.
Keinginan Spanyol untuk tetap menguasai Chili mengakibatkan beberapa kali terjadi pertempuran. Puncaknya ketika Spanyol kembali menyerang Chili yang dikenal dengan nama Pertempuran Chacabuco. Spanyol dikalahkan secara telak pada 12 Februari 1817, dan Santiago direbut kembali. Jajahan Spanyol
di Amerika kemudian mulai melancarkan gerakan kemerdekaan, hingga Spanyol akhirnya kehilangan seluruh jajahannya di Amerika tahun 1825.
Setahun setelah Chili mengalahkan Spanyol Chili kemudian memproklamasikan negerinya sebagai republik merdeka pada 12 Februari 1818 dengan ibukota di Santiago. Ibu kota Chili tersebut berada di lembah yang subur, dikelilingi oleh sumber daya alam yang melimpah.
Setelah merdeka dari Spanyol, Chili memasuki tahun-tahun panjang konflik dengan negara tetangga. Chili pernah berperang dan mengalahkan negara tetangganya Peru dan Bolivia pada Perang Pasifik tahun 1879-1883. Perang ini disebut juga Perang Saltpeter, karena salah satu penyebab utamanya adalah perebutan wilayah yang kaya saltpeter, sejenis mineral yang banyak digunakan sebagai bahan peledak di pesisir barat Amerika Selatan. Perang di Pasifik tersebut tidak ada hubungannya dengan Perang Pasifik pada Perang Dunia II.
Perang di Pasifik ini dipicu oleh perebutan wilayah Gurun Atacama, gurun yang dikenal sebagai tempat terkering di dunia. Terletak di dekat laut sehingga kaya mineral nitrat. Baik Chili maupun Bolivia sama-sama mengklaim Gurun Atacama sebagai wilayahnya.
Pada 1866 Chili dan Bolivia menandatangani “Traktat Perbatasan” yang membagi dua wilayah Atacama. Kedua negara menjamin kebebasan menambang di dua wilayah tersebut, hasilnya dibagi dua sama rata. Perusahaan-perusahaan Chili memulai kegiatan menambang di kawasan Bolivia. Bolivia merasa kurang nyaman mengapa perusahaan Chili memulai menambang di kawasan Bolivia bukan di kawasan Chili terlebih dahulu. Padahal Bolivia ingin memanfaatkan penambangan tersebut untuk meningkatkan pendapatannya. Hal itu mendorong Bolivia membuat Perjanjian Rahasia dengan Peru pada 1873.
Isi perjanjian tersebut adalah kesepakatan untuk saling membantu jika salah satu di antaranya ada yang berperang dengan Chili. Kebetulan Peru yang sama-sama berada di kawasan pantai barat Amerika Selatan juga khawatir dengan kekuatan armada laut Chili.
Tahun 1878, pemerintah Bolivia mengenakan pajak tambahan kepada perusahaan-perusahaan Chili yang menambang di wilayah Bolivia, tetapi perusahaan Chili menolak membayar pajak tersebut. Pemerintah Bolivia kemudian menyita dan melelang aset-aset milik perusahaan Chili. Pemerintah Chili menganggap Bolivia melanggar Traktat Perbatasan yang mengatur larangan menaikkan pajak secara sepihak. Chili pun mengirim armada lautnya untuk menguasai pelabuhan Antofagasta, Bolivia, tanpa pertumpahan darah.
Pendudukan pelabuhan Antofagasta membuat Bolivia menyatakan perang terhadap Chili dan mengajak Peru untuk bergabung.
Awalnya Peru mencari upaya damai untuk menghindari terlibat perang. Chili juga berharap Peru bisa netral dan menjadi penengah. Tetapi begitu Perjanjian Rahasia bocor, Chili pun menyatakan perang terhadap Peru.
Pada pertempuran yang berlangsung 1879, pasukan Bolivia yang kalah dalam persenjataan akhirnya menderita kekalahan. Seluruh wilayah Bolivia di Gurun Atacama dikuasai oleh Chili. Dengan demikian Bolivia terkurung di tengah karena tidak lagi memiliki wilayah laut. Sebaliknya dengan Peru, kekuatan pasukan kedua negara hampir seimbang, sehingga ketika Chili memblokade pelabuhan Peru pada Maret 1879, blokade itu berhasil dipatahkan. Chili mengubah taktik. Serangan cepatnya diarahkan ke kapal-kapal perang andalan Peru. Chili akhirnya menang dalam pertempuran laut melawan Peru tahun 1880.
Dalam pertempuran darat, pasukan Bolivia dan Peru kurang kompak. Pada masa itu kedua negara tersebut mengalami masalah politik dalam negeri dan berhadapan dengan kudeta militer. Desember 1879 Chili berhasil menguasai Peru dan Bolivia. Oktober 1883 Chili dan Peru membuat perjanjian damai. Dua provinsi Peru, Tacna dan Arica menjadi milik Chili, namun pada 1929 kedua provinsi tersebut dikembalikan ke Peru. Tahun 1884 Chili juga membuat perjanjian damai dengan Bolivia. Seluruh wilayah pantai Bolivia menjadi wilayah Chili sehingga Bolivia tidak memiliki laut.
Setelah itu Chili belum lepas dari konflik, tahun 1918 terjadi konflik antara presiden dengan kongres Nasional, kemudian kudeta militer tahun 1924, hingga terpilihnya presiden tahun 1964 dengan mayoritas mutlak yang didukung oleh Partai Kristen Demokrat.
Setelah itu barulah Chili melakukan reformasi besar-besaran, khususnya di bidang pendidikan, perumahan dan reformasi agraria. Chili juga melakukan nasionalisasi perusahaan tambang tembaga.
Pemilu berikutnya tahun 1970 dimenangkan oleh Senator Salvador Allende dari partai Sosialis Chili. Kemenangan itu tidak disertai dukungan mayoritas mutlak sehingga program sosialis Allende, ditanggapi dengan pelarian modal dan penarikan deposito besar-besaran. Produksi menurun, pengangguran bertambah. Hal itu memicu terjadinya krisis ekonomi, hiperinflasi mencapai 600-800% diperparah dengan gelombang mogok kerja, hingga terjadi ketidakstabilan politik. Mahkamah Agung Chili akhirnya merestui perebutan kekuasaan. Kudeta militer pun terjadi pada 11 September 1973. Jenderal Augusto Pinochet mengambil alih kekuasaan. Salvador Allende memilih bunuh diri.
Kudeta tersebut didukung oleh Amerika Serikat untuk menggulingkan pemerintahan Salvador Allende yang berasal dari aliansi politik berhaluan kiri. Sebagian besar akademisi setuju Amerika Serikat mendukung kudeta tersebut dan berharap dilakukan konsolidasi kekuasaan sesudahnya.
Namun disayangkan bahwa setelah Pinochet berkuasa, dia melakukan pembersihan terhadap kaum kiri, sosialis dan kritikus politik yang mengakibatkan besarnya korban yang di eksekusi 1200-3000-an orang, selain yang ditahan disiksa dan hilang sekitar 3000-an orang.
Disisi lain Pinochet melakukan liberalisasi ekonomi, privatisasi ratusan perusahaan milik negara dan sejumlah kebijakan lainnya. Kebijakan-kebijakan tersebut menghasilkan kemajuan yang luar biasa, apa yang disebut oleh Milton Friedman, ekonom peraih Nobel, adalah “keajaiban Chili” tetapi para kritikus menganggap kebijakan itu menjadi penyebab meningkatnya kesenjangan ekonomi.
Pinochet kemudian ditengarai memperkaya diri kemudian dituntut atas penggelapan pajak. Sehingga dalam sebuah plebisit tahun 1988, 56 % suara menentang Pinochet melanjutkan jabatannya sebagai presiden.
Pada pemilihan presiden dan pemilihan anggota kongres tahun 1990, kemenangan yang diperoleh Patricio Aylwin adalah kemenangan mayoritas sehingga Chili bisa kembali dibangun.
Pada masa selanjutnya, pemilihan presiden dilakukan mengikuti konstitusi, masa jabatan empat tahun dan tidak bisa dipilih dua kali.
Pengelolaan makro ekonomi Chili kemudian dilakukan secara konservatif dan hati-hati. Mengedepankan pengawasan ketat terhadap penerapan peraturan ekonomi, perdagangan dan kepastian hukum.
Tingkat korupsi rendah dan transparansi didukung oleh stabilitas politik keamanan. Hasilnya adalah ekonomi nasional yang berdaya tahan dan berdaya saing tinggi. Dengan stabilitas yang terjaga, PDB per kapita tertinggi di Amerika Selatan.

Jakarta, 4 Januari 2018*



TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini