Mala 12 di Petaka Desember

Mantan Anggota Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi (AMPD)
Oleh Ostaf al Mustafa
MASA-MASA akhir kehidupan Muslim di Spanyol, bukan ketika mereka dipaksa untuk dimurtadkan atau dikonversi menjadi Kristen. Namun dimulai dari sesuatu yang mulai sering terjadi di Indonesia sekarang ini yakni kumandang azan dianggap suara yang mengganggu. Di pertengahan abad XIII, pelaksanaan ibadah hingga suara bang merupakan bentuk dari negosiasi dan legislasi politik di Mediterania Barat, setelah Sicilia hingga Spanyol ditaklukkan oleh penguasa Kristen (Olivia Remie Constable, “Regulating Religious Noise: The Council of Vienne, the Mosque Call and Muslim Pilgrimage in the Late Medieval Mediterranean World”, Medieval Encounters 16, 2010: 67).
Jadi bila sekarang, ada yang menekan umat Islam dengan variasi istilah radikal, kadrun, onta Arab, toleransi, semua agama sama, Tuhan bukan orang Arab, hingga moderasi beragama, maka terjadi perulangan sejarah kelam. Bedanya, tak ada serangan bersenjata untuk melakukan aneksasi tersebut. Setidaknya terindikasikan hanya melalui operasi militer penurunan baliho hingga pembunuhan terstruktur yang melampaui kewenangan hukum (unlawfull killing atau extra judicial killing).
Begitulah umat Islam sudah bermanifestasi sebagai buih-buih. Bila bukan organisasi, mazhab, atau afiliasi manhaj mereka yang diserang, maka yang lain merasa aman-aman saja. Mereka masih mayoritas, tapi hanya bisa berdebur-debur dalam bentuk gelembung-gelembung di pantai. Suara hempasan selalu ada, tapi hanya riak tak bermakna. Semakin menyusut adanya sikap kebersamaan yang merasa bahwa satu bagian tubuh yang tersakiti, berarti seluruh badan juga menderita perih yang serupa. Seperti makanan di suatu pesta, mereka diperebutkan untuk dimangsa sebesar-besarnya. Layaknya jamuan prasmanan, mereka memang bukan makan siang yang gratis, tapi boleh disantap tanpa perlu COD. Sebagaimana sebuah hari di Desember, umat Islam malah menerima lahirnya kemalangan dengan sunyi senyap pula, tapi tak kudus saat malam dan siang, juga pagi.
Sama dengan di Mediterania abad pertengahan itu, kini untuk menjalankan syariat, umat Islam harus melakukannya dengan negosiasi dan legislasi. Penaklukan telah dimulai dengan moderasi beragama melalui persekutuan Kemenag dan Kemendikbud yang harus dijalankan melalui kurikulum sekolah.  Merunut pandangan pakar sejarah dari universitas swasta di bawah jaringan Katolik tersebut, yang tidak menyembunyikan fakta tentang bagaimana Muslim hilang di Spanyol juga di Sicilia Italia. Saat itu Muslim dipaksa untuk melakukan tindakan moderasi yakni kurangi suara azan.
Ulasan Constable dari Department of History, University of Notre Dame, Notre Dame, Indiana Amerika Serikat itu menunjukkan gelagat awal tentang proses azan diganti dengan bunyi trompet atau alat musik lainnya, sebagai substitusi untuk menghilangkan masalah bahasa, tetapi belum didasarkan pada dalih problem kebisingan. Bahasa Arab yang digunakan dalam panggilan untuk salat tersebut, dianggap pihak lain menggunakan kata-kata yang tidak dimengerti. Lalu kemudian dialihkan menggunakan alat musik tiup.
Titik akhir kekuatan umat Islam terjadi pada 1265, ketika James I of Aragón menaklukkan wilayah Muslim di Murcia. Muslim setempat mengajukan tiga permintaan kepada penguasa baru: pertama, agar bisa mempertahankan keberadaan hukum dan hakim Muslim; kedua, dapat menjaga harta dan warisan milik kaum Muslim; dan ketiga, agar mereka dapat terus menjalankan agama dan mengumandang azan. James menerima permintaan itu, meski di saat yang sama merobohkan masjid atau mengubahnya menjadi gereja. Seluruh masjid yang dekat dengan istananya dihancurkan, bahkan kemudian azan juga ditolaknya. “Karena dari sana seruan Alà lo sabba, o Alà terdengar teramat dekat kepalaku, saat aku tidur.”  Teriak raja tersebut sambil menghina lafaz Allahu Akbar Allahu Akbar, dengan sebutan Alà lo sabba, o Alà.  Dalam versi lain ia berkata, “Suara muazin itu yang menyerukan nama Allah teramat bising di telingaku, ketika saya sedang tidur. Bagi kalian hal demikian cocok, tapi tidak bagi saya.”
Seruan azan yang ditolak Pangeran Barcelona dan sekaligus Maharaja Montpellier itu, hingga tergantikan dengan penggunaan trompet merupakan dua dari 12 masalah besar sepanjang tarikh, hingga kemudian Islam hanya tersisa di museum. Pasukan Aragon melakukannya selama 12 bulan, hingga kemudian di ujung Desember, trompet semakin riuh diperdengarkan. Itulah pertanda Islam sudah dikuasai atau demikianlah sinyal tentang ada lagi muslim terbunuh dan dimurtadkan. Lalu pada 31 Januari 1266 James I of Aragón sepenuhnya menguasai Murcia. Setelah itu Islam hanya kenangan, hingga bunyi trompet itu makin riuh di awal tahun baru di warsa-warsa berikutnya.
Jakarta, 25 Desember 2021