Negara Kebolisian Republik Baliho

Mantan Anggota Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi (AMPD)
Oleh Ostaf al Mustafa
TERDAPAT kesaksian yang tak bisa dipastikan kekeliruannya yakni pada multiverse terdapat pemerintahan oligarki bolisi. Mungkin saksi ini  melakukan kesalahan penyebutan huruf, seharusnya ia menyebut abjad keenam belas, bukan yang kedua. Menurutnya di sini kebenaran sangat berbahaya dan selalu terjadi kebalikan. Umpama, bila ada yang melaporkan kejahatan, maka dipastikan pelapor yang akan diusut, bahkan yang ditangkap. Bila ada korban kejahatan melakukan perlawanan dan melukai pelaku, maka penjahatnya yang akan mendapat perlindungan hukum. Aparat hukum menegaskan dilarang main hakim sendiri, main polisi sendiri, dan main jaksa sendiri, apalagi dilakukan secara bersama-sama. Itulah sebabnya sang saksi dari tulisan ini, enggan mengucapkan huruf ‘p’ dan menggantinya dengan ‘b’.
Kredo yang berlaku di metaverse Negara Kebolisian Republik Baliho (NKRB) yakni “Bila semua penjahat di penjara, lalu siapa lagi yang akan mengurus negara’. Di jaman lampau dalam pemerintahan absolut di sebut Negara Polisi (Polizei Staat). Istilah ini berasal dari Bahasa Jerman yang kemudian diadopsi ke dalam Bahasa Inggris pada 1930-an untuk menyebut adanya pemerintahan otoriter. Sebenarnya saksi tersebut tak perlu setakut begitu, hingga dalam alfabet juga merasakan kengerian, karena sekarang memang negara seperti itu masih ada yakni di Korea Utara. Dulu pemimpinnya dikabarkan tidak mau menjadi presiden yang ketiga kalinya, tapi akhirnya menjadi berkali-kali. Menantu dan anak-anaknya juga demikian.
Tapi, satu hal yang jelas—selama rezim terus mengikuti taktik Negara Polisi untuk mempertahankan kekuasaan, hak asasi manusia di Korea Utara akan terus dilanggar dan warga negara yang malang akan terus hidup di negara itu dalam bayang-bayang (Ken E. Gause, Coercion, Control, Surveillance, and Punishment: An Examination of the North Korean Police State, Committee for Human Rights in North Korea, ISBN: 0985648015, 2012: 179). Jangan dulu merasa aman, karena bau amis oligarki Neo-Komunisme mulai menyeruak dimana-mana pada negeri kalian. Bahkan empat ciri-ciri utama Negara Polisi sudah lama terjadi yakni Paksaan, Kontrol, Pengawasan, dan Hukuman selama masa Pandemi Covid-19.
NKRB ini harusnya menjadi junta militer setelah Faksi Militer Dua Dimensi (Faterdud) merusak dan menghancurkan histori Aliansi Militer Tiga Dimensi (Armigad). Selama beberapa rezim, Armigad yang menguasai segala lini. Semua kisah heroik, korban dari pemberontakan yang gagal, hingga tokoh-tokoh pertempuran selalu dibuatkan patung. Ada yang sendiri, berkelompok, hingga dalam bentuk diorama. Lalu muncul Faterdud memotong sejarah keunggulan Armigod dengan menghancurkan patung-patung historis tersebut di suatu markas kesatuan militer elite. Dengan cara itu pula, ia mendapat kenaikan pangkat otomatis.
Faterdud tidak menyukai semua yang serba tiga dimensi, meski terdapat anomali juga yakni boleh membuat patung, tapi sama sekali tidak boleh terkait dengan Armigad. Fater, demikian ia disebut oleh semua serdadu level menengah dan rendah. Sedangkan di kalangan elite, yang berpangkat setaraf dengannya atau yang lebih tinggi, ia mendapat panggilan akrab secara lisan yakni Dud. Sedangkan dalam tulisan ditambahkan lagi huruf ‘e’ pada abjad keempat. Meskipun demikian adanya juga yang mengganti huruf ‘u’ tadi menjadi ‘o’, bahkan ditambahkan lagi abjad keempat masih dengan ‘o’ juga. Ada burung dengan nama Latin Raphus cucullatus disebut seperti panggilan untuk sang Fater. Netizen berharap ia cepat punah, seperti burung yang terakhir terlihat pada 1680-an itu.
Dengan sebab tidak suka pada patung, maka ia menunjukkan keberhasilannya dengan memasang tampilan dua dimensi berupa baliho di tempat-tempat strategis. Selain murah, desainnya bisa diubah-ubah. Gambar terakhir yang sempat beredar, ia tampil berjoget sambil minum kopi. Suatu aksi yang tak bisa dilakukan seorang pun warga sipil di kafe hingga warkop, dan Don’t Try This at Home!
Hingga sekarang tak ada keterangan lain yang bisa mengungkapkan mengapa polisi yang berkuasa di NKRB? Apakah karena metode Faterdud dianggap lemah dalam kemiliteran, karena hanya melawan musuh negara berpedoman pada 3 M (Merangkul, Memeluk, dan Menyanyi)? Saksi itu enggan bercerita lebih jauh, karena takut ditangkap bolisi.
Jakarta, 16 Januari 2021


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini