Gaspol, Disbudpar Sulsel Capai Target 300 Desa Wisata Ikut ADWI 2022

Kadis Pariwisata Sulsel. Jufri, bersama Jadesta meninjau desda wisata. (Foto: Ist)
menitindonesia, MAKASSAR – Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbudpar) Sulsel, Prof Muhammad Jufri, menyampaikan, telah mencapai target 300 Desa Wisata di Sulsel menjadi peserta Anugrah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
“Sulsel sudah mencatat 338 desa wisata sebagai peserta ADWI, dan juga menjadi provinsi paling banyak pesertanya,” kata Muhammad Jufri, melalui keterangannya, Senin (4/4/2022).
Atas capaian itu, Jufri sudah melaporkan langsung kepada Menparekraf, Sandiaga Uno, melalui zoom meeting, sesuai target Sulsel sudah mendaftarkan lebih 300 desa wisata yang ikut berpartisipasi pada ADWI 2022.
“Alhamdulillah, bahkan melebihi karena data terakhir setelah pendaftaran ditutup, yang terdaftar dari Sulsel sejumlah 338 desa wisata,” jelas Jufri.
Menurut guru besar Ilmu Psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM) ini, capaian tersebut bisa diraih karena kerja-kerja para pengelola di masing-masing desa wisata yang tersebar di 24 kabupaten dan kota di Sulsel.
Senada dengan Jufri, konsultan Jejaring Desa Wisata (Jadesta), Toni Bagus Murdjayanto, membenarkan jika Sulsel hingga posisi terakhir saat ditutup 31 Maret lalu menjadi provinsi terbanyak mendaftarkan desa wisatanya kali ini. Tahun lalu, kata dia Sulsel menempati tiga besar terbanyak.
“Pengelola desa wisata di Sulsel memang memberi perhatian besar dan keinginan mereka untuk membangkitkan desa wisata masing-masing sangat tinggi,” ujar Toni.
Sementara itu, Ketua Forum Pariwisata Sulsel, Devo Khaddafi, yang juga Sekretaris Disbudpar Sulsel menjelaskan, dengan posisi sebagai peserta ADWI terbanyak tahun ini, merupakan bentuk kebangkitan pariwisata di Sulsel.
“Semoga di tahapan penilaian yang saat ini sedang berlangsung oleh tim kurator dan juri Kemenparekraf, desa wisata asal Sulsel mampu bersaing ke tahap demi tahap,” harapnya.
Devo menambahkan, sangat penting bagi desa wisata untuk meraih yang terbaik karena selain sebagai pembuktian geliat kebangkitan pariwisata Sulsel, juga bisa memicu perhatian berbagai stakeholder kepariwisataan dengan konsep pentahelix yang kini dianut.
“Tiga pemenang tahun lalu mendapatkan perhatian dengan beragam tindak lanjut dari berbagai pihak. Ada bantuan fisik, ada bantuan pendampingan dari kampus, dan lainnya,” jelas Devo.
Adapun distribusi “penyumbang” 338 desa wisata asal Sulsel yakni Kabupaten Luwu Timur menempati urutan pertama terbanyak yakni 61, disusul Kabupaten Maros 53 desa wisata dan Bantaeng 34.
Posisi keempat dan seterusnya oleh Enrekang 25, Jeneponto 21, Sinjai 20, Tana Toraja 14, Luwu 14, Pinrang 14, Gowa 11, Pangkep 11, Bulukumba 10, Toraja Utara 6, Soppeng 5, Luwu Utara 5, Barru 5, Wajo 4, Palopo 4, Takalar 4, Makassar 4, Parepare 4, Sidrap 4, Selayar 3, dan Bone 2 (dua) desa wisata. (andi esse)