Polri Nyatakan Tiga Kapolda Tak Terkait Kasus FS, PILHI Sebut Malah Ferdy Sambo Tak Layak Dihukum Berat

Direktur Eksekutif PILHI, Syamsir Anchi. (Foto: Ist)
menitindonesia, MAKASSAR – Direktur Eksekutif Pusat Informasi Lingkungan Hidup Indonesia (PILHI), Syamsir Anchi, mengatakan, sikap intitusi Polri dalam menangani kasus pembunuhan Brigadir Novriansyah Yoshua Hutabarat, ajudan mantan Kadiv Propam Polri, Irjen Pol Ferdy Sambo, oleh Bharada Richard Elliezer itu, sangat profesional dan dilakukan secara transparan.
Menurut Aktivis 98 ini, sikap profesional itu ditunjukkan Timsus Polri saat melakukan pendalaman terkait isu keterlibatan tiga Kapolda dalam pusaran kasus Ferdy Sambo. Tiga Kapolda itu, adalah Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Fadil Imran, Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Nico Afinta, dan Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol RZ Panca Putra Simanjuntak.
“Polri sudah menyatakan tiga Kapolda tersebut tidak ada keterkaitan dengan skenario yang disusun Ferdy Sambo pasca Yoshua ditembak oleh Elliezer. Kadiv Humas Polri, Irjen Prasetyo sudah bilang tiga Kapolda ini tidak terkait. Ya memang, tidak bisa dikaitkan!” kata Syamsir Anchi dalam keterangannya kepada jurnalis media ini di Makassar, Sabtu (24/9/2022).
Pegiat anti korupsi ini, juga menyarankan kepada publik agar melihat kasus penembakan Yoshua oleh rekannya, Richard Elliezer, itu secara gamblang dan utuh. Dia meminta mencermati kronologi peristiwanya, mengapa terjadi penembakan di rumah dinas Kadiv Propam, Jalan Duren Tiga, Jakarta Selatan.
“Kalau dicermati kronologinya secara utuh, didalami secermat-cermatnya, kan ada rangkaian peristiwa yang bersifat pribadi antara almarhum Yoshua dengan istri Ferdy Sambo. Ada hubungan spesial, bisa jadi persilingkuhan mereka yang kemudian tertangkap tangan saat melakukan perbuatan asusila di Magelang,” ujarnya.
Lanjut, Syamsir mengungkapkan, sebagai suami yang menerima laporan bahwa istrinya ‘wik-wik’ dengan Yoshua, Ferdy Sambo kehilangan self controling di dalam dirinya. Menurutnya, darah pria Bugis-Makassar-Toraja ini mendidih.
“Kehormatannya sebagai lelaki menjadi taruhan, kami di Sulawesi menyebut ini siri’ na pacce. Ferdy Sambo menegakkan itu, membela kehormatan keluarganya. Dalam posisi ini, hukum positif terkadang harus ditempatkan di bawah norma. Meskipun akhirnya, harus dipertanggung jawabkan juga secara hukum, meski jabatan dan pangkat harus hilang,” ujar Syamsir.
Selain itu, dia juga mengaku sangat mengapresiasi sikap tenang Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo, bersikap tanggap, tegas dan mendahulukun pro justisia dalam penanganan kasus Ferdy Sambo. Menurutnya, Jenderal Listyo memiliki kecerdasan emosional yang tinggi sehingga mantan Kabareskrim itu, bisa bersikap tenang namun tegas.
Syamsir Anchi meminta publik, khususnya netizen agar tidak hanyut dengan informasi-informasi yang sengaja dihembuskan pihak-pihak yang punya agenda pribadi dan menunggangi kasus polisi tembak polisi.
“Kita semua harus bijak melihat peristiwa Yoshua, Putri Candrawathi dan Ferdy Sambo. Ini, bisa dibayangkan, bagaimana perasaan FS saat mengetahui istrinya wik-wik dengan ajudannya. Kita harus menunggu proses hukum di pengadilan, jangan mendahului hakim. Bukannya malah FS harus diberi hukuman ringan saja?” pungkasnya. (roma)