Akbar Endra Sebut SYL Bukan Politisi Kotor: Pemimpin Sejati, Mau Tanggung Jawab Seburuk Apapun Itu

FOTO: Akbar Endra
menitindonesia, MAKASSAR – Proses Hukum yang dijalani mantan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) yang saat ini sedang menjalani proses hukum, menggugah empati dari aktivis 98 di Makassar Akbar Endra. Dia menilai fakta-fakta persidangan yang dibeber ke publik merupakan character assassination terhadap SYL dan keluarganya.
BACA JUGA:
Usai Salat Jumat di Masjid 99 Kubah, Pengurus dan Jemaah Sampaikan Harapan untuk Pj Gubernur Prof Zudan
Menurut Akbar, dalam persidangan kasus dugaan pemerasan di Kementerian Pertanian (Kementan) yang melibatkan SYL, menunjukkan adanya upaya untuk merusak reputasi SYL dan keluarganya dengan kesaksian yang sengaja untuk mendiskreditkan mantan Gubernur Sulsel itu.
“Kita jadi kasihan kepada Pak SYL. Padahal, fakta di persidangan yang mencuat tak pernah sekalipun SYL menyuruh anak buahnya di Kementan untuk menyetor uang. Bisa jadi ada pihak lain yang sengaja memanfaatkan, dan seolah-olah itu permintaan dari SYL atau keluarganya. Seharusnya, asas praduga tak bersalah didahulukan,” kata Akbar Endra saat ditemui di Hotel Claro, Makassar, Jumat (24/5/2024).

Pemimpin Sejati

Akbar mengaku mengenal SYL sejak menjabat Bupati Gowa dan menjabat Gubernur Sulsel dua periode. Menurutnya, SYL termasuk Kepala Daerah yang bersih, baik ketika menjabat Bupati maupun saat menjabat Gubernur.
BACA JUGA:
Pertama Kali Salat Jumat di Masjid Kubah 99, Prof Zudan Silaturahmi Sekaligus Ajak Masyarakat untuk Perkuat Persaudaraan
“Setahu saya, Pak SYL tidak suka cawe-cawe dan memanfaatkan jabatannya untuk memperkaya diri. Setelah Gubernur, dia tetap hidup sederhana. Jadi kalau dituduh memeras anak buahnya, sepertinya tidak masuk akal, bisa jadi perbuatan orang lain yang justru Pak SYL yang menanggung tanggungjawab. Dia pemimpin yang berkarakter, tak akan lari dari tanggung jawab, seburuk apapun itu,” ujar dia.
Selain itu, Akbar mengatakan saat SYL menjabat Gubernur dua periode semua ASN di Pemprov Sulsel menyayanginya karena sifat jujur, tegas dan mengayomi dalam kepemimpinan SYL. “Jadi anomali kalau saat jadi menteri lantas dituduh memeras pegawainya,” katanya.
Bisa jadi, lanjut Akbar, ada pihak lain yang sengaja memanfaatkan kedekatannya dengan SYL untuk memperkaya diri. “Ada oknum Stafsus yang konon melakukan praktik jual beli jabatan. Dia mengatasnamakan menteri. Tapi koq oknum itu belum ditahan, belum dijadikan tersangka. Ini catatan buat KPK, jangan terkesan balas dendam,” ujarnya.
Akbar juga meminta wartawan agar objektif dan berimbang dalam memberitakan fakta-fakta persidengan kasus korupsi di Kementan. “Jangan menggiring opini dan menyudutkan SYL. Tunggu penjelasan SYL dalam nota pembelaannya nanti,” tandasnya.
(asrul nurdin)