FOTO: Akbar Endra saat ini bekerja sebagai Jurnalis Menit Indonesia, tinggal di Jakarta. (ist)
Oleh Akbar Endra (Jurnalis Menit Indonesia)
menitindonesia – PRABOWO SUBIANTO, lahir pada 17 Oktober 1951, kini berusia 73 tahun. Jika ia menyelesaikan masa jabatannya sebagai Presiden Indonesia hingga 2029, usianya akan menginjak 78 tahun.
Bahkan, jika mencalonkan diri kembali dan menang di Pemilu 2029, ia bisa memimpin hingga 2034, saat usianya mencapai 83 tahun. Pertanyaannya, apakah faktor usia akan menjadi tantangan, atau justru keunggulan dalam kepemimpinannya?
Kesehatan dan Stamina: Masih Prima atau Mulai Tergerus Waktu?
Di berbagai kesempatan, Prabowo menunjukkan stamina yang cukup baik. Ia aktif dalam pertemuan kenegaraan, inspeksi program, dan berbagai agenda politik. Namun, ada catatan kesehatan yang tak bisa diabaikan. Pada Desember 2024, ia membatalkan pertemuan dengan Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, karena alasan kesehatan.
Selain itu, operasi besar yang dijalaninya pada Juli 2024 di Rumah Sakit Pusat Pertahanan Negara (RSPPN) Jenderal Sudirman memicu spekulasi mengenai ketahanan fisiknya dalam jangka panjang.
Meski belum ada indikasi serius bahwa kondisi kesehatannya akan menghambat kepemimpinannya, faktor usia tetap menjadi variabel penting dalam politik jangka panjang.
Militerisasi dan Stabilitas Politik
Sebagai mantan jenderal, Prabowo memiliki jaringan kuat di kalangan militer dan birokrasi. Sejak menjabat sebagai Presiden pada 20 Oktober 2024, ia memperluas peran militer dalam pemerintahan. Beberapa perwira aktif menduduki posisi strategis.
Langkah ini mengundang perdebatan. Bagi pendukungnya, keterlibatan militer menjamin stabilitas dan efektivitas program pemerintah. Namun, bagi pengkritiknya, ini mengingatkan pada era ketika militer memiliki pengaruh dominan dalam kehidupan sipil. Akankah strategi ini menjadi faktor keberhasilan atau justru bumerang dalam kepemimpinan jangka panjangnya?
Dukungan Publik: Populisme yang Bertahan
Program populis seperti makanan gratis untuk anak-anak sekolah dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi senjata utama Prabowo dalam mempertahankan dukungan publik. Selama ekonomi stabil dan program ini berjalan tanpa hambatan berarti, peluangnya untuk kembali mencalonkan diri di 2029 tetap terbuka.
Namun, tantangan nyata sudah mulai muncul. Insiden keracunan makanan dalam program makan gratis mengingatkan bahwa setiap kebijakan populis juga memiliki risiko. Jika program-program ini gagal atau menghadapi skandal besar, daya tahan politiknya bisa terancam.
Kita tetap berharap dan mendoakan agar Prabowo senantiasa diberi kesehatan serta kekuatan dalam memimpin Indonesia menuju kejayaan di kancah global. Dengan visi besar menjadikan negeri ini sebagai negara maju yang mandiri—khususnya dalam swasembada pangan dan energi—Prabowo membawa harapan bagi masa depan bangsa.
Salah satu program strategis yang diusung adalah Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah amanah konstitusi untuk mencetak generasi emas Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing. Program ini bukan sekadar wacana atau janji politik, tetapi kebutuhan fundamental yang tak bisa ditawar.
Fokus utama MBG adalah memastikan anak-anak sekolah mendapatkan asupan gizi yang cukup agar dapat belajar dengan optimal. Dengan tubuh yang sehat dan otak yang mendapat nutrisi maksimal, mereka bisa menyerap ilmu dengan lebih baik dan tumbuh menjadi generasi unggul. Program ini juga berperan dalam mengatasi stunting serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Indonesia tidak akan maju jika rakyatnya masih bergulat dengan masalah gizi dan kekurangan nutrisi. Oleh karena itu, keberhasilan MBG bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen bangsa yang menginginkan Indonesia tumbuh menjadi negara kuat dan disegani di dunia.
Tren Global: Pemimpin Lansia yang Masih Kuat di Kancah Politik
Usia lanjut bukan penghalang bagi kepemimpinan di panggung global. Joe Biden terpilih sebagai Presiden AS pada usia 78 tahun, Donald Trump kembali memimpin Amerika Serikat pada usia yang sama, dan Mahathir Mohamad bahkan memimpin Malaysia di usia 94 tahun.
Jika kesehatannya tetap terjaga dan strategi politiknya tetap relevan, Prabowo bisa saja mengikuti jejak para pemimpin lansia yang tetap berpengaruh. Namun, perbedaan dinamika politik dan tuntutan kepemimpinan di Indonesia menjadi faktor yang harus diperhitungkan.
Prabowo dan Tantangan Kepemimpinan: Mampukah Bertahan hingga 2034?
Meskipun usia Prabowo Subianto sudah memasuki kategori lansia, energi kepemimpinannya tetap terasa kuat. Sosoknya yang tegas, berkarisma, dan berpengalaman menjadikannya figur pemimpin yang dihormati, baik di dalam negeri maupun di kancah global. Namun, seiring bertambahnya usia, kesehatan Prabowo menjadi faktor krusial yang harus dijaga. Bangsa ini membutuhkan kepemimpinan yang solid, berwawasan jauh ke depan, serta memiliki stamina yang cukup untuk membawa Indonesia menjadi negara maju.
Dalam 100 hari pertama pemerintahannya, Prabowo telah menunjukkan kepemimpinan yang menarik perhatian, bukan hanya bagi rakyat Indonesia tetapi juga bagi dunia. Kiprahnya dalam diplomasi internasional semakin mengukuhkan posisi Indonesia sebagai negara yang diperhitungkan. Di mata para pemimpin dunia, Presiden Prabowo mulai tampil sebagai tokoh berpengaruh, dengan visi besar yang mampu mengubah perspektif global terhadap Indonesia.
Namun, tantangan besar menanti di depan. Dengan pengalaman panjang di politik dan militer, Prabowo memiliki modal besar untuk bertahan di panggung kepemimpinan hingga 2034. Namun, perjalanan itu tidak akan mudah. Faktor kesehatan, stabilitas politik, efektivitas kebijakan, serta dinamika geopolitik global akan menjadi ujian berat bagi pemerintahan Prabowo ke depan.
Pertanyaannya, mampukah Prabowo mempertahankan kekuatannya hingga satu dekade mendatang? Ataukah faktor usia dan dinamika politik akan mengubah arah kepemimpinannya? Yang jelas, tugas kita sebagai rakyat adalah mendukung serta mendoakan agar Presiden Prabowo senantiasa diberi kesehatan, kekuatan, dan kebijaksanaan dalam mengemban amanah besar ini—mewujudkan Indonesia sebagai bangsa yang maju, mandiri, dan disegani dunia. (*)