Makan Bergizi Gratis, Revolusi Senyap Menuju Indonesia Maju

Akbar Endra, penulis esai dan jurnalis sekaligus pendukung program makan bergizi gratis Prabowo-Gibran.
Oleh: Akbar Endra
  • Program Makan Bergizi Gratis bukan hanya soal anggaran. Ini revolusi senyap dalam menyiapkan generasi emas Indonesia, menuju negara besar dan maju. Inilah jalan menuju kemajuan hakiki.
menitindonesia, ESEI — Saya percaya, tak ada kemajuan sejati jika anak-anak Indonesia masih belajar dalam kondisi lapar dan kurang gizi. Karena itulah, ketika Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai agenda prioritas nasional, saya langsung menangkap ini bukan hanya janji politik—ini langkah revolusioner yang menyentuh akar persoalan bangsa.

Nutrisi adalah Investasi, Bukan Beban Negara

Di berbagai sudut negeri, dari pelosok Papua hingga pesisir Nusa Tenggara, masih banyak anak sekolah yang berangkat pagi tanpa sarapan. Mereka belajar dengan perut kosong, tubuh lemas, pikiran buntu. Kita sedang menggadaikan masa depan, tanpa sadar.
BACA JUGA:
Ketum JMSI Teguh Santosa: Peradaban Global Harus Dihadirkan Lewat Bhinneka Tunggal Ika, Bukan Kacamata Tempur
Data World Bank sudah bicara gamblang: investasi pada gizi anak usia dini memberi return hingga 13% per tahun. Itu artinya, memberi makan bergizi kepada anak-anak bukan hanya kewajiban moral—tapi strategi ekonomi yang cerdas. Negara-negara maju sudah lama menyadarinya. Kini saatnya Indonesia menyusul, dengan keberanian dan ketulusan.
Saya pribadi menyambut baik dibentuknya Badan Gizi Nasional (BGN) di bawah kepemimpinan Prof. Dadan Hindayana. Sosok ahli hama dan tumbuhan yang selama ini konsisten dalam dunia pangan dan nutrisi. Prof. Dadan bukan hanya ahli teori, tapi orang lapangan yang tahu bagaimana kebijakan bisa hidup di desa-desa, sekolah-sekolah, dan dapur rakyat.
Saya yakin, BGN bisa menjadi garda depan untuk mewujudkan MBG yang tepat sasaran, akuntabel, dan berkelanjutan. Karena program sehebat apapun, jika tidak dikawal dengan data dan eksekusi yang rapi, hanya akan jadi poster kampanye.

Saatnya Negara Tidak Pelit pada Anak Sendiri

Yang kita butuhkan sekarang adalah komitmen penuh dari negara. Jangan ragu alokasikan anggaran. Kita bisa belanja pertahanan, bangun infrastruktur, atau subsidi industri—maka memberi makan anak sekolah seharusnya bukan perkara mahal.
BACA JUGA:
Jakarta dari Dekat: Hidup, Strategi, dan Sunyi yang Tak Terucapkan
Makan bergizi bukan hanya soal mengisi perut. Ini simbol kasih sayang negara kepada generasi penerusnya. Ketika anak-anak makan bersama di sekolah, dengan menu sehat yang layak, mereka belajar bukan hanya pelajaran kelas. Mereka belajar tentang keadilan, kebersamaan, dan harapan.

Sebuah Seruan Moral

Bapak Presiden Prabowo Subianto,
Bapak Prof. Dadan Hindayana yang saya hormati,
Bangsa ini tak kekurangan ide. Tapi kita sering kekurangan keberanian untuk bertindak. Melalui Program Makan Bergizi Gratis, saya melihat harapan baru: bahwa negara hadir, bukan hanya bicara. Bahwa kita tak lagi memaklumi kemiskinan sebagai takdir, melainkan menantangnya dengan kerja nyata.
Mari kita pastikan anak-anak Indonesia tak lapar lagi di sekolah. Mari kita wariskan generasi yang bukan hanya pintar, tapi juga sehat, kuat, dan penuh semangat hidup.
Karena makan bersama anak-anak bukan hanya soal nasi dan lauk. Itu adalah pondasi bangsa. Dan itu, adalah tugas sejarah kita bersama.