Obat Murah, Dokter Sampai Pelosok: Visi Prabowo yang Dijalankan dengan Cinta oleh Kepala BPOM

Akbar Endra, jurnalis nasional dan pemerhati kebijakan kesehatan di daerah.
Oleh Akbar Endra
  • Membangun Kesehatan Bangsa dari Pinggiran, Dimulai dengan Obat Berkualitas dan Pelayanan Tulus. Visi Presiden Prabowo tentang pemerataan kesehatan kini dijalankan penuh dedikasi oleh Kepala BPOM RI, Prof. Taruna Ikrar. Dari obat murah dan berkualitas, dokter di pelosok, hingga pelayanan medis yang tulus.
menitindonesia, ESEI – Di pelosok Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, sebuah Puskesmas berdiri sederhana, jauh dari keramaian kota. Seorang ibu membawa anaknya yang demam tinggi. Namun di sana tak ada dokter. Yang ada hanya dua orang tenaga honor berpakaian ala perawat, sedang mencari kutu di kepalanya. Mereka menyarankan agar si ibu membawa anaknya ke rumah sakit karena “dokternya tidak ada”.
BACA JUGA:
Jakarta dari Dekat: Hidup, Strategi, dan Sunyi yang Tak Terucapkan
Kisah seperti ini bukan dongeng. Itu saya saksikan sendiri saat menjadi Ketua Komisi III DPRD Maros pada tahun 2015. Waktu itu, saya sering mengundang kepala rumah sakit, kepala puskesmas, dan para dokter berdiskusi: tentang ambulans yang tak bisa jalan, ketiadaan obat-obatan dasar, hingga soal pasien banjir yang terlantar tanpa pertolongan medis. Saya membawa masalah ini ke rapat-rapat resmi DPRD, saya bacakan dalam pemandangan umum fraksi. Saya desak: setiap Puskesmas harus ada dokter, ada ruang rawat inap, dan ada obat yang tersedia.
Hari ini, Bupati Maros AS Chaidir Syam telah mewujudkan sebagian besar usulan itu. Bahkan ia mendirikan Rumah sakit Tipe C di Kecamatan Camba, pelosok Maros.
Namun, problem kesehatan bangsa bukan milik satu kabupaten. Ia adalah luka panjang yang dialami banyak daerah.
Dan di titik ini, muncul seorang pemimpin kesehatan nasional dengan semangat kemanusiaan yang kuat: Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., Ph.D., Kepala BPOM RI.

Obat Harus Terjangkau, Dokter Harus Hadir di Setiap Pelosok

Prof. Taruna tidak menjadikan jabatan sebagai simbol kekuasaan, tapi amanah pengabdian. Ia bergerak cepat, menyentuh jantung industri obat dan merjuang mengatasi ketersediaan obat yang berkualitas dan harga terjangkau. Ia percaya, rakyat tidak boleh disandera oleh harga obat yang mahal, apalagi ketika kualitasnya diragukan.
BACA JUGA:
Membaca Indonesia Lewat Tulisan Akbar Endra: Kritik, Analisis, dan Harapan
“Obat yang aman, bermutu, dan terjangkau adalah hak setiap warga negara,” ujar Prof. Taruna dalam sebuah pertemuan yang saya ikuti.
Langkahnya selaras dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa sektor kesehatan adalah fondasi utama Indonesia Emas.
“Kita ingin anak-anak Indonesia sehat, kuat, kebutuhan gizinya terpenuhi dan pintar. Kita tidak bisa membangun negara besar kalau rakyatnya sakit dan tidak bisa beli obat,” ujar Presiden Prabowo dalam pidatonya pada awal masa keprersidennya, lalu.
Prof. Taruna menerjemahkan visi itu dengan kerja konkret. Ia tak hanya menginspeksi pabrik, tapi juga menjalin dialog dengan pelaku industri, akademisi, dan bahkan para relawan. Ia paham, sistem kesehatan yang kuat tak bisa dibangun hanya dari kantor, tapi dari kehadiran nyata di lapangan.

Sentuhan Kemanusiaan di Balik Tugas Negara

Sebagai jurnalis, saya mengikuti beberapa kegiatan Prof. Taruna. Ia bukan tipikal pejabat yang ingin disanjung. Ia justru lebih banyak menyimak, menyerap, dan menata langkah secara tenang. Namun di balik ketenangannya, tersimpan gelora besar: memperjuangkan hak rakyat atas kesehatan yang adil.
BACA JUGA:
OPINI – Amran Sulaiman dan Revolusi Pertanian Indonesia: Cetak Sawah dan Petani Milenial
Ia juga mendorong agar dokter-dokter muda diberi semangat baru untuk mengabdi di daerah-daerah terpencil. Ia ingin sistem distribusi tenaga kesehatan dibuat lebih manusiawi, dengan dukungan insentif, tempat tinggal layak, dan jaminan keamanan. Sebab menurutnya, pelayanan kesehatan tidak cukup hanya dengan fasilitas, tapi juga harus diisi dengan ketulusan.
“Sistem yang baik harus didukung oleh manusia yang baik,” tegasnya.
Saya melihat sendiri bagaimana ia menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak. Ia memperkuat sinergi lintas kementerian, mengupayakan agar harga bahan baku obat bisa ditekan, dan kualitas produk bisa ditingkatkan melalui hilirisasi dan pengawasan ketat.

Jalan Panjang yang Mulai Terang

Perjalanan mewujudkan sistem kesehatan yang adil dan manusiawi memang panjang. Namun di era pemerintahan Presiden Prabowo, jalan itu mulai dibuka. Dan Prof. Taruna Ikrar ada di garda depan perjuangan ini.
Obat yang bermutu dan murah bukan mimpi. Dokter hadir di pelosok bukan mustahil. Kesehatan untuk semua bukan hanya slogan. Ini nyata. Ini sedang diperjuangkan.
Dan saya bersyukur, bisa menyaksikannya langsung.(*)