Mengenang Kwik Kian Gie: Keteguhan Pikiran di Tengah Gelombang Zaman

Akbar Endra, pernah jadi Anggota DPRD Maros dua periode (2009–2019) dan jurnalis. Kini berdomisili di Jakarta, aktif menulis dan terlibat dalam isu-isu politik, ekonomi, serta sosial kebangsaan.
Oleh Akbar Endra
  • Kwik Kian Gie wafat di usia 90 tahun, meninggalkan warisan pemikiran ekonomi dan politik yang tajam, kritis, dan jujur. Mantan Menko Ekuin era Gus Dur ini dikenal sebagai ekonom independen yang berani mengkritik kekuasaan, bahkan saat ia berada di dalamnya. Namanya harum sebagai tokoh reformasi dan pendidik visioner.
menitindonesia, ESEI — Saya masih ingat dengan jelas lembar demi lembar Harian Kompas yang terbit di era 1990-an. Di tengah rutinitas sebagai mahasiswa, yang saya cari pertama bukan kolom berita utama, melainkan tulisan dari Kwik Kian Gie. Ia bukan hanya ekonom. Ia adalah penafsir realitas ekonomi dengan kejernihan pikiran dan keberanian moral yang tak banyak saya temukan dari tokoh lain di republik ini.
BACA JUGA:
Taruna Ikrar dan Pramono Anung Bertemu: Perang Terhadap Obat Abal-Abal Dimulai dari Ibu Kota!
Tulisan-tulisannya selalu membawa saya pada perenungan. Ia tajam menganalisis, keras pada ketidakadilan, dan jujur pada nuraninya sendiri. Dalam suasana politik yang dibungkam oleh kekuasaan kala itu, Kwik seperti mercusuar—memancarkan cahaya arah, meski gelombang besar datang menggulung.

Pertemuan Singkat, Kesan Mendalam

Tahun 1996 atau 1997—saya lupa persisnya—Jakarta sedang bergejolak. Huru-hara politik di sekitar PDI Pro-Megawati pecah, dan saya turut hadir saat itu bersama kawan-kawan seperjuangan di Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi (AMPD) menyaksikan dari dekat hiruk-pikuk sejarah itu. Di Lenteng Agung, rumah Megawati yang kala itu menjadi pusat perlawanan sipil terhadap rezim Orde Baru, saya melihat Kwik Kian Gie berdiri di tengah massa.
BACA JUGA:
Perangi TBC, Pemkab Maros Resmikan Pojok TB Sipakatau di Puskesmas Turikale
Saya memberanikan diri mendekat. Hanya bersalaman sebentar. Tapi itu cukup. Karena saya sudah mengenalnya jauh sebelumnya—melalui tulisannya, pikirannya, dan integritasnya yang tak tergoyahkan.
Dia tak banyak bicara hari itu, tapi wajahnya tenang. Matanya menatap tajam, tapi penuh welas. Seperti seseorang yang tahu betul bahwa perjuangan yang ia jalani bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk masa depan bangsa yang lebih adil.

Kwik dan Kebenaran yang Tak Bisa Ditawar

Dalam perjalanan hidup saya, saya jarang menjumpai tokoh seperti Kwik. Ia masuk kabinet, tapi tak pernah menjadi bagian dari kemewahan kekuasaan. Ia bergaul dengan elite politik, tapi tidak larut dalam kompromi. Ia hidup sederhana, bicara apa adanya, dan selalu berpijak pada satu hal: kebenaran.
Tak jarang ia dicibir, disebut “keras kepala”, atau “tidak fleksibel”. Tapi justru dari keteguhan sikap itulah, kepercayaan publik tumbuh. Ia tidak menyesuaikan diri dengan kekuasaan—ia memaksa kekuasaan menyesuaikan diri dengan etika.
Kwik mengkritik IMF, bahkan saat mayoritas elite memuja kebijakan neoliberal sebagai jalan pintas reformasi. Ia berbicara soal utang luar negeri, tentang dominasi asing atas aset strategis, jauh sebelum itu menjadi tema umum diskusi publik.
Dan kini, dua dekade kemudian, saya melihat betapa banyak yang ia sampaikan ternyata menjadi kenyataan.

Warisan Tak Terhapuskan

Bagi saya, Kwik Kian Gie bukan hanya sebuah nama. Ia adalah salah satu suara jernih di tengah gaduhnya wacana pembangunan. Ia adalah pengingat bahwa menjadi cerdas saja tidak cukup—harus disertai keberanian, dan keberanian itu harus berasal dari hati yang bersih.
Maka ketika kabar kepergiannya menyebar—di usia 90 tahun, 28 Juli 2025 lalu—saya tercekat. Bukan karena saya tidak siap, tapi karena Indonesia kehilangan salah satu cahaya moral yang paling terang. Ia tak hanya meninggalkan jejak, tapi menanam warisan: keberanian berpikir dan integritas yang tak bisa dibeli.

Terima Kasih, Pak Kwik

Terima kasih telah menjadi guru yang tak mengenal ruang kelas. Terima kasih telah menjadi teladan di saat banyak orang memilih diam. Terima kasih karena telah mengajarkan kami, para mahasiswa 90-an, arti kata “berpihak”—tanpa harus berteriak, tanpa harus menghina siapa pun.
Saya hanya sempat bersalaman sekali. Tapi warisan pikiran dan keteguhan Bapak, akan saya genggam seumur hidup. Selama jalan Pak Kwik, semoga damai di Sisi Tuhan yang Maha Esa. Aamiin.