Taruna Ikrar Pimpin Kerjasama Pemerintah dan Pengusaha Australia Untuk Berinvestasi di Indonesia

Prof. Taruna Ikrar, Kepala BPOM RI, bersama Prof. Anthony Lawler, Deputy Secretary for Health Products Regulation Australia, dalam pertemuan kerja sama farmasi dan investasi kesehatan antara Indonesia dan Australia di Canberra.
  • Kepala BPOM Taruna Ikrar memimpin kerja sama strategis dengan Austrade, Investment NSW, TGA, dan Recce Pharmaceuticals di Australia untuk investasi farmasi dan inovasi kesehatan.
menitindonesia, CANBERRA, AUSTRALIA – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. Dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., memimpin delegasi Indonesia dalam lawatan strategis ke Australia. Tujuan utamanya jelas: memperkuat diplomasi regulasi dan investasi farmasi sekaligus mengakselerasi daya saing Indonesia di sektor kesehatan global.
BACA JUGA:
Diplomasi Kesehatan: Prof Taruna Ikrar Pimpin Kerja Sama Strategis BPOM RI dan TGA Australia
Data yang mengejutkan terungkap dalam forum ini. Taruna Ikrar memaparkan, BPOM setiap tahun menerbitkan sekitar 1,2 juta sertifikat dan dokumen perizinan untuk obat, pangan, kosmetik, dan produk kesehatan lainnya. Angka ini berdampak signifikan pada perekonomian dengan nilai lebih dari 600 miliar dolar Australia.
IMG 20250825 WA0026 11zon e1756141524983
Prof. Taruna Ikrar bersama Prof. Anthony Lawler di TGA Canberra membahas misi kerja sama pengawasan obat dan investasi industri farmasi Indonesia–Australia.
Tak hanya itu, BPOM telah melakukan reformasi besar-besaran. Proses persetujuan obat dan produk kesehatan yang sebelumnya memakan waktu lebih dari dua tahun, kini dipangkas menjadi 90 hari, bahkan untuk beberapa produk dipercepat hingga kurang dari 60 hari.
“Reformasi ini menjadi bukti keseriusan kami dalam menciptakan ekosistem regulasi yang ramah inovasi dan investasi,” tegas Taruna di hadapan para pemimpin industri dan pejabat Australia, di Sydney, Minggu (24/8/2025), kemarin.

Kolaborasi dengan Investment NSW, Austrade, dan Recce Pharmaceuticals

Dalam pertemuan di Sydney, delegasi BPOM berdiskusi dengan Investment NSW, Austrade, dan Recce Pharmaceuticals. Agenda utama: memperluas peluang investasi farmasi dan pengembangan teknologi medis.
BACA JUGA:
Kepala BPOM Taruna Ikrar Perkuat Kerja Sama dengan TGA Australia untuk Industri Farmasi Nasional
Pihak Investment NSW mengapresiasi peran BPOM sebagai otoritas yang mengawasi seluruh siklus hidup produk obat, pangan, kosmetik. Mereka menegaskan bahwa kapasitas dan tanggung jawab BPOM menjadi fondasi kuat untuk kerja sama bilateral.
Dari sisi industri, Recce Pharmaceuticals membeberkan langkah konkret: Pertama,
Uji klinis tahap tiga di Indonesia untuk pengobatan infeksi luka kaki diabetik, yang disebut sebagai studi terbesar dan paling maju di dunia dalam bidang tersebut.
Kedua, Penargetan 2026 sebagai tahun peluncuran antibiotik inovatif mereka di Indonesia—berpotensi menjadi produk pertama asal Australia yang mendapat persetujuan BPOM.
Ketiga, Strategi bersama mitra lokal, Etana, dengan dukungan BPOM untuk memastikan keberhasilan. “Kerja sama ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi juga tentang menghadapi tantangan global, seperti resistensi antibiotik,” ujar perwakilan Recce.

Kuliah Umum di UNSW

Selain bertemu pelaku industri, Taruna Ikrar juga mengisi kuliah umum di University of New South Wales (UNSW) Sydney, menekankan peran BPOM dalam harmonisasi regulasi dan dorongan inovasi berbasis riset.
Puncak kunjungan berlangsung di Canberra melalui pertemuan dengan Therapeutic Goods Administration (TGA). Di sini, kedua lembaga meluncurkan Inaugural Internship Program BPOM–TGA, sebagai upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan memperkuat harmonisasi regulasi antara Indonesia dan Australia.
Anthony Lawler, perwakilan TGA, menyambut baik kerja sama ini. “BPOM adalah mitra strategis bagi Australia. Melalui kolaborasi ini, kita tidak hanya memperkuat pengawasan obat, tetapi juga menciptakan standar global yang lebih baik,” ungkapnya.

Mengincar 2045: Indonesia Sebagai 5 Besar Ekonomi Dunia

Diskusi juga menyinggung visi jangka panjang: Indonesia sebagai lima besar ekonomi dunia pada 2045. Taruna optimistis kolaborasi dengan Australia akan menjadi katalis untuk mempercepat inovasi kesehatan dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global.
“Kami ingin memastikan Indonesia bukan sekadar pasar, tetapi juga pusat produksi farmasi berdaya saing dunia,” pungkas Taruna.
Lawatan ini diakhiri dengan optimisme. Kolaborasi pemerintah, industri, dan lembaga riset Indonesia–Australia diyakini akan membawa manfaat luas bagi masyarakat, bukan hanya di kedua negara, tetapi juga kawasan Asia-Pasifik. (akbar endra)