Taruna Ikrar Pikat Industri Farmasi Australia, Uji Klinis di Indonesia 10 Kali Lebih Murah dari AS

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof Taruna Ikrar.
Artikel ini diterjemahkan dari The Australian Financial Review berjudul “Indonesia lures Australian drugmakers as alternative to Trump” yang terbit pada 27 Agustus 2025. Penulis: Michael Smith, Editor Kesehatan.
menitindonesia, JAKARTA – Indonesia berupaya menarik produsen obat asal Australia dengan menawarkan biaya uji klinis yang lebih murah serta proses persetujuan obat baru yang lebih cepat. Langkah ini menjadi strategi Indonesia untuk memosisikan diri sebagai alternatif dari Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump, yang tengah menghadapi gejolak regulasi dan perang tarif sehingga membuat investor asing enggan masuk.
BACA JUGA:
Taruna Ikrar Pimpin Kerjasama Pemerintah dan Pengusaha Australia Untuk Berinvestasi di Indonesia
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., pekan ini bertemu dengan sejumlah calon investor Australia. Ia menyampaikan bahwa Indonesia membuka peluang bagi perusahaan farmasi dan bioteknologi Australia untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi global.
“Regulasi baru di Indonesia memungkinkan percepatan persetujuan obat baru. Selain itu, biaya uji klinis dan produksi jauh lebih murah dibanding negara lain,” ujar Ikrar.

Biaya Uji Klinis 10 Kali Lebih Murah

Contohnya, perusahaan Reece Pharmaceuticals yang berbasis di Sydney tahun ini akan memulai uji klinis fase tiga di Indonesia untuk menguji efektivitas gel antiinfeksi mereka dalam mengobati infeksi kaki diabetik yang berpotensi mengancam jiwa.
Ikrar juga mengungkapkan, sejumlah perusahaan kesehatan Australia lainnya tengah menjajaki peluang investasi di Indonesia.
BACA JUGA:
Kepala BPOM Taruna Ikrar Perkuat Kerja Sama dengan TGA Australia untuk Industri Farmasi Nasional
“Di Amerika Serikat, biaya uji klinis bisa mencapai USD 10 juta. Di Indonesia, uji klinis dapat dilakukan dengan biaya USD 1–2 juta. Perbedaannya sangat besar,” katanya.
Indonesia juga menjadi lokasi pengembangan vaksin tuberkulosis oleh Bill & Melinda Gates Foundation, yang sedang diuji pada 2.000 orang dalam tahap akhir uji klinis. Pada Mei lalu, Bill Gates bertemu Presiden Prabowo Subianto untuk membahas kerja sama riset kesehatan.

Indonesia Saingan Baru AS dan Australia

Selama ini, Australia dikenal sebagai alternatif AS untuk uji klinis yang lebih murah dengan regulasi lebih sederhana. Namun, Indonesia kini ingin mengambil peran serupa di kawasan.
Selain biaya yang rendah, Indonesia juga mendapat keuntungan dari kebijakan tarif baru Presiden Trump. Bulan ini, tarif impor produk dari Indonesia diturunkan menjadi 19 persen, lebih rendah dibanding Vietnam, India, dan China.
“Produk farmasi yang diproduksi di Indonesia otomatis akan lebih murah dibanding negara lain,” jelas Ikrar.

Persetujuan Obat Lebih Cepat

Menurut Taruna Ikrar, BPOM memangkas waktu registrasi dan persetujuan obat baru dari sekitar 300 hari kerja menjadi hanya 90 hari. Bahkan, sertifikasi produksi yang sebelumnya membutuhkan waktu 3–5 tahun kini bisa diselesaikan hanya dalam 2,5 bulan.
“BPOM dapat mempermudah proses pendaftaran produk obat di Indonesia. Namun, standar mutu dan efektivitas obat tetap tidak akan diturunkan,” tegasnya.
Meski persetujuan awal hanya berlaku di Indonesia, pemerintah menegaskan bahwa langkah ini akan menjadi pintu masuk menuju pengakuan yang lebih luas di negara-negara ASEAN.

Dukungan Politik dan Investasi

Langkah ini sejalan dengan dorongan Presiden Prabowo Subianto untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat bioteknologi regional. Pemerintah juga menawarkan insentif bagi perusahaan kesehatan Australia untuk memproduksi obat di Indonesia, sekaligus mengurangi ketergantungan besar pada bahan baku impor.
Dari sisi Australia, pemerintahan Perdana Menteri Anthony Albanese mengalokasikan AUD 100 juta selama lima tahun untuk memperkuat layanan kesehatan primer di Indonesia. Kunjungan Albanese ke Jakarta pada Mei lalu juga mempertegas hubungan kesehatan kedua negara.
Sebagai bagian dari diplomasi ekonomi, Indonesia telah menunjuk konsul jenderal baru di Melbourne dan Sydney untuk mendorong peningkatan investasi, khususnya di sektor kesehatan. (AE)