Survei Menit Indonesia terhadap 200 mahasiswa Unhas periode 1–10 Oktober 2025 menunjukkan Prof Budu unggul dengan 45% dukungan, disusul Zulfajri Basri 22%, dan petahana Prof Jamaluddin Jompa 15%. Survei ilmiah ini menggambarkan arah dukungan mahasiswa dalam pemilihan Rektor Unhas 2026–2030, sekaligus menyoroti peluang politik petahana yang masih terbuka.
menitindonesia, MAKASSAR – Dinamika Pemilihan Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) periode 2026–2030 semakin menarik perhatian publik akademik. Setelah sebelumnya Tim Riset Menit Indonesia merilis survei dukungan alumni, kini hasil survei terhadap mahasiswa memperlihatkan peta baru: Prof. dr. Budu, Ph.D., Sp.M(K)., M.MedEd tetap mendominasi dukungan, sementara Dr. Ir. Zulfajri Basri Hasanuddin, M.Eng. naik signifikan sebagai penantang utama.
Survei ini dilakukan pada 1–10 Oktober 2025, melibatkan 200 mahasiswa aktif dari 15 fakultas di lingkungan Unhas. Dengan menggunakan metode stratified random sampling, survei memiliki tingkat kepercayaan 95% dan margin of error ±6,9% — cukup untuk menggambarkan persepsi mahasiswa secara ilmiah dan representatif.
Direktur PT Menit Indonesia Cerdas, Andi Besse Nabila Saskia, menegaskan survei ini bertujuan merekam aspirasi mahasiswa sebagai bagian penting dari ekosistem kampus.
“Mahasiswa adalah komponen paling dinamis dalam kehidupan universitas. Kami ingin mengetahui bagaimana mereka memandang sosok yang layak memimpin kampus merah lima tahun ke depan,” ujar Nabila di Makassar, Jumat (11/10/2025), kemarin.
Survei: 1–10 Oktober 2025. Metode ilmiah – Stratified Random Samplin. Sumber: Tim Riset Menit Indonesia
Prof Budu Masih Dominan di Kalangan Mahasiswa
Hasil survei menunjukkan bahwa Prof Budu memperoleh dukungan tertinggi sebesar 45 persen. Ia menjadi figur paling populer di hampir seluruh rumpun kesehatan — Fakultas Kedokteran, Fakultas Farmasi, Kedokteran Gigi, dan Kesehatan Masyarakat.
Mahasiswa menilai Prof Budu sebagai sosok yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga punya empati dan kedekatan sosial terhadap mahasiswa. Dalam pandangan banyak responden, Prof Budu dianggap “dekat dan membumi”, serta mewakili gaya kepemimpinan yang tegas namun humanis.
“Mahasiswa melihat Prof Budu sebagai figur akademik yang komunikatif dan berintegritas. Ia dianggap mampu memimpin Unhas dengan pendekatan yang lebih terbuka dan partisipatif,” jelas Nabila.
Zulfajri Basri Melesat Sebagai Kuda Hitam
Nama Dr. Ir. Zulfajri Basri Hasanuddin, M.Eng. menjadi kejutan terbesar dalam survei kali ini. Ia berhasil menempati posisi kedua dengan 22 persen dukungan mahasiswa, menggeser posisi petahana.
Kenaikan signifikan ini dinilai sebagai cerminan harapan mahasiswa terhadap figur baru yang dianggap mewakili semangat inovasi dan perubahan. Dukungan terbesar datang dari fakultas teknik, pertanian, dan komunitas mahasiswa yang aktif dalam penelitian dan teknologi.
“Zulfajri dinilai sosok visioner dan teknokrat yang sederhana, serta mampu membangun dialog lintas generasi di kampus,” ungkap Nabila.
Dalam konteks elektabilitas, Zulfajri menjadi fenomena baru. Dari semula kurang dikenal luas di kalangan mahasiswa, kini ia muncul sebagai figur alternatif yang paling sering disebut dalam survei kualitatif terbuka yang dilakukan tim riset.
Petahana Jamaluddin Peluangnya Belum Tertutup
Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., yang saat ini menjabat sebagai Rektor Unhas, hanya menempati posisi ketiga dengan 15 persen dukungan mahasiswa. Angka ini selaras dengan hasil survei alumni sebelumnya yang menunjukkan tingkat kepuasan di bawah 60 persen terhadap kinerjanya selama memimpin.
Meski demikian, menurut Nabila, rendahnya dukungan di kalangan mahasiswa dan alumni tidak serta-merta menutup peluang Jamaluddin Jompa untuk terpilih kembali.
“Perlu diingat, yang menentukan rektor bukan mahasiswa atau alumni, melainkan senat guru besar dan keputusan akhir dari Menteri Pendidikan Tinggi. Jadi, faktor politik dan lobi tetap punya peran penting,” jelasnya.
Dalam konteks historis, peluang politik ini bukan hal baru bagi Prof Jamaluddin Jompa. Pada Pilrek 2022 lalu, meski Prof Budu saat itu memenangkan suara senat guru besar, keputusan akhir justru berpihak kepada Prof Jamaluddin Jompa. Dukungan dari Menteri Pendidikan Nadiem Makarim kala itu menjadi faktor penentu, ditambah dukungan politik eksternal dari PDI Perjuangan, di mana Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto disebut ikut mengamankan proses akhir penetapan.
Kini, menjelang Pilrek 2026–2030, publik kampus kembali bertanya-tanya: apakah Prof Jamaluddin Jompa mampu mengulangi manuver tersebut? Apakah ia masih memiliki akses kuat ke pusat kekuasaan dan jejaring politik yang sama?
“Jika konsolidasi politiknya berhasil, peluangnya tetap terbuka. Namun jika tidak, kekuatan suara senat yang kini lebih dinamis bisa berbalik arah,” kata Nabila menegaskan.
Figur Lain Masih Dipertimbangkan
Sementara itu, tiga kandidat lainnya, yakni dr. Marhaen Hardjo, M.Biomed., Ph.D. (9%), Prof. Ir. Muhammad Iqbal Djawad, M.Sc., Ph.D. (6%), dan Prof. Dr. Sukardi Weda, M.Hum., M.Pd., M.Si., MM., M.Sos.I, MA. (3%), dinilai masih memiliki peluang terbatas. Meski demikian, ketiganya tetap disebut oleh sebagian responden yang menilai mereka memiliki kekuatan akademik dan integritas moral.
“Nama-nama ini tetap punya potensi pengaruh moral di lingkungan akademik, meskipun belum terlihat memiliki dukungan mahasiswa yang masif,” kata Nabila.
Pergeseran Paradigma Kepemimpinan Kampus
Dari perspektif akademik, hasil survei ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma mahasiswa terhadap figur kepemimpinan kampus. Mahasiswa kini lebih menilai pemimpin dari aspek komunikasi, keterbukaan, dan empati.
Prof Budu dan Zulfajri Basri dinilai berhasil menangkap perubahan tersebut. Mereka dianggap mampu membangun kedekatan emosional dengan mahasiswa, terbuka terhadap kritik, dan komunikatif dalam menjawab isu-isu kampus.
“Mahasiswa Generasi Z melihat rektor ideal bukan hanya sebagai pejabat universitas, tetapi sebagai sosok inspiratif yang bisa mendengar dan memahami kehidupan mereka di kampus,” terang Nabila.
Survei mahasiswa ini menjadi bagian penting dari potret demokrasi akademik di Universitas Hasanuddin. Hasilnya memperlihatkan bahwa Prof Budu masih menjadi favorit, Zulfajri Basri naik sebagai kuda hitam, dan Prof Jamaluddin Jompa tetap menyimpan peluang lewat jalur politik dan dukungan pemerintah pusat.
Dengan demikian, Pemilihan Rektor Unhas 2026–2030, tak hanya menjadi pertarungan akademik, tetapi juga arena konsolidasi pengaruh antara kekuatan moral kampus dan faktor politik eksternal.
“Hasil ini kami hadirkan bukan untuk memengaruhi, melainkan untuk memberi gambaran obyektif tentang bagaimana civitas akademika, khususnya mahasiswa, menilai arah kepemimpinan Unhas ke depan,” tutup Nabila. (*)