Taruna Ikrar berbagi kisah hidup dan ketangguhan akademik di hadapan mahasiswa Universitas Andalas.
Pengalaman pertama Taruna Ikrar melihat salju di Jepang menjadi pintu refleksi tentang hidup, tekanan, dan ketangguhan. Dari kesendirian sebagai mahasiswa asing hingga menembus pusat-pusat akademik dunia, ia mengajak mahasiswa Universitas Andalas berani bermimpi besar dan keluar dari zona nyaman.
menitindonesia, PADANG — Ada momen-momen kecil yang tampak sederhana, tetapi diam-diam menentukan arah hidup seseorang. Bagi Kepala Badan Pengawas Obat Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., momen itu datang dalam bentuk salju—putih, jatuh perlahan, dan tampak ramah—pada hari-hari pertamanya sebagai mahasiswa di Universitas Niigata, Jepang.
Salju itu indah. Lembut seperti kapas. Menenangkan. Sejenak ia memberi ilusi bahwa dunia baru yang sedang dimasuki akan bersahabat. Namun, dua hari kemudian, keindahan itu memperlihatkan wajah lain: dingin yang menusuk tulang, bahasa yang tak dipahami, budaya yang asing, dan kesendirian yang mulai terasa nyata.
Di sanalah, Taruna belajar pelajaran penting yang kelak ia bagikan kepada mahasiswa Universitas Andalas dalam sebuah kuliah umum. Bahwa hidup—juga ilmu pengetahuan—sering kali menyambut kita dengan keindahan di awal, sebelum kemudian menguji ketahanan di tengah jalan.
“Tekanan itu bukan untuk melemahkan,” ungkapnya. “Tekanan justru membentuk.”
Prof. Taruna menceritakan kepada mahasiswa, para dekan, akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Padang, Sumatera Barat, saat menyampaikan kuliah umum di Universitas Andalas, Jumat (6/2/2026).
Pengalamannya di Jepang itu, menjadi fondasi perjalanan panjang yang menempanya, bukan hanya sebagai ilmuwan, tetapi sebagai manusia. Dari sana, langkah akademiknya berlanjut menembus batas negara dan benua: menyelesaikan studi doktoral dan post-doktoral, menimba pengalaman akademik di Italia, lalu ke University of California, hingga akhirnya ke Harvard University.
Setiap tempat menghadirkan tantangan yang berbeda. Namun benang merahnya tetap sama: keberanian untuk keluar dari zona nyaman dan kesediaan untuk berpikir melampaui batas-batas yang selama ini dianggap mapan.
Taruna menyebut perjalanan itu sebagai rangkaian rasa syukur. Bersyukur pernah ditempa di Universitas Niigata, yang berada di peringkat 93 dunia. Bersyukur mendapat kesempatan belajar di University of California, yang menempati posisi ketiga dalam pemeringkatan global. Dan bersyukur bisa menimba ilmu di Harvard University—institusi yang kerap dianggap sebagai puncak tradisi akademik dunia, pada peringkat pertama.
Namun, di hadapan mahasiswa, ia tidak menempatkan peringkat sebagai tujuan akhir. Peringkat, baginya, hanyalah penanda jalan. Yang lebih penting adalah proses panjang: mimpi yang dirawat, disiplin yang dijaga, dan ketekunan yang tidak mudah menyerah oleh keadaan.
Kuliah umum itu pun menjelma menjadi ruang refleksi bersama. Tentang kampus sebagai tempat terbaik untuk bermimpi besar. Tentang tekanan akademik yang seharusnya diperlakukan sebagai energi, bukan ancaman. Dan tentang keyakinan bahwa pusat dunia tidak selalu berada di kota-kota besar global.
“Dari ruang akademik—dari Padang sekalipun—kita bisa melangkah ke dunia,” katanya.
Pesan itu sederhana, tetapi mengandung daya hidup. Bahwa jarak geografis bukanlah batas bagi cita-cita. Bahwa pengalaman lokal, bila dijalani dengan keberanian dan ketekunan, dapat beresonansi hingga ke panggung global. Dan bahwa seperti salju di Jepang, hidup mungkin tampak indah di awal, tetapi justru pada dingin yang mendidik itulah manusia ditempa menjadi tangguh. (AE)