Kepala BPOM Taruna Ikrar menjawab pertanyaan wartawan usai Workshop AMR Warrior di Padang, menegaskan bahaya resistensi antimikroba sebagai pandemi senyap yang mengancam kesehatan publik.
Kepala BPOM RI Prof. Taruna Ikrar mengingatkan bahaya resistensi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR) yang bergerak perlahan namun mematikan. Dalam Workshop AMR Warrior di Padang, ia menyebut AMR sebagai silent pandemic yang mengancam masa depan sistem kesehatan jika penggunaan antibiotik tanpa kendali terus dibiarkan.
menitindonesia, PADANG — Ancaman itu tidak selalu datang dengan ledakan atau sirene. Ia bergerak pelan, nyaris senyap, namun daya rusaknya nyata. Resistensi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR) adalah salah satunya. Fenomena global yang oleh Organisasi Kesehatan Dunia disebut sebagai silent pandemic ini menjadi benang merah dalam Workshop AMR Warrior yang digelar di Padang, Sumatera Barat, Sabtu (7/2/2026).
Dalam sambutan kuncinya, Taruna Ikrar menegaskan bahwa AMR bukan lagi isu masa depan, melainkan persoalan hari ini. “Resistensi antimikroba berkembang perlahan, tetapi dampaknya fatal. Jika kita abai, standar pengobatan yang kita kenal hari ini bisa runtuh,” ujarnya di hadapan peserta yang terdiri atas tenaga kesehatan, akademisi, hingga pemangku kebijakan daerah.
Taruna memaparkan data pengawasan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang menunjukkan paradoks upaya pengendalian AMR di Indonesia. Di satu sisi, terjadi penurunan penyerahan antibiotik tanpa resep dokter di apotek dalam kurun 2021–2023. Namun, di sisi lain, tren kenaikan kembali mulai tampak pada 2024. Fakta ini, menurut Taruna, menandakan bahwa regulasi saja tidak cukup bila tidak diiringi kesadaran kolektif dan pengawasan yang konsisten.
Resistensi antimikroba bergerak perlahan namun mematikan. BPOM mengingatkan bahaya penggunaan antibiotik tanpa resep dalam Workshop AMR Warrior di Padang.
Ia menyoroti praktik swamedikasi—masyarakat membeli dan mengonsumsi antibiotik tanpa resep—sebagai salah satu pemicu utama resistensi. “Antibiotik bukan obat biasa. Kesalahan kecil dalam penggunaannya bisa berdampak besar bagi kesehatan publik,” kata Taruna. Dalam konteks ini, apoteker disebut memegang peran strategis sebagai garda terdepan edukasi rasionalitas penggunaan obat.
Workshop bertema “Act Now, Protect Our Present, Secure Our Future” itu tidak hanya menjadi forum paparan data, tetapi juga ruang refleksi. Sejumlah pembicara menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor: pemerintah pusat dan daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, dunia akademik, hingga masyarakat. Pengalaman beberapa daerah yang mampu menekan angka penyerahan antibiotik tanpa resep disebut sebagai bukti bahwa kebijakan daerah yang tegas dan berkelanjutan dapat memberi dampak nyata.
Di hadapan peserta, Taruna mengingatkan bahwa AMR adalah ancaman yang menembus batas wilayah dan disiplin. “Melawan AMR bukan hanya tugas negara atau tenaga kesehatan. Ini kerja peradaban,” ujarnya menutup sambutan.
Dari Padang, pesan itu bergema: perang melawan pandemi senyap ini harus dimulai sekarang. Bukan besok, bukan nanti. Sebab, masa depan kesehatan publik ditentukan oleh keputusan-keputusan kecil hari ini—di ruang praktik, di apotek, dan di rumah tangga. (AE)