Ketum Gerakan Srikandi Indonesia Dewie Yasin Limpo bertemu mantan Menkes RI Siti Fadilah Supari, membahas tingginya angka kematian perempuan akibat kanker serviks di Indonesia.
Ketua Umum Gerakan Srikandi Indonesia (GSI) Dewie Yasin Limpo bertemu mantan Menteri Kesehatan RI Siti Fadilah Supari untuk membahas tingginya angka kematian perempuan akibat kanker serviks di Indonesia.
menitindonesia, JAKARTA — Ketua Umum Gerakan Srikandi Indonesia (GSI), Dewie Yasin Limpo, bersilaturahmi dengan Siti Fadilah Supari, mantan Menteri Kesehatan RI sekaligus salah satu pendiri organisasi gerakan perempuan tersebut. Pertemuan ini membahas isu kesehatan perempuan, khususnya tingginya angka kematian akibat kanker serviks di Indonesia.
Usai pertemuan, Dewie Yasin Limpo menyampaikan bahwa kanker serviks masih menjadi persoalan serius yang memerlukan perhatian bersama. “Setiap tahun sekitar 21.000 perempuan Indonesia meninggal akibat kanker serviks. Ini bukan angka kecil dan tidak boleh kita anggap biasa,” ujar Dewie, usai bertemu Fadillah Supari di Pondok Kelapa, Jakarta, Selasa (17/8/2026), kemarin.
Data tersebut berasal dari estimasi lebih dari 36.000 kasus baru kanker serviks yang muncul setiap tahunnya. Menurut Dewie, tingginya angka kematian tidak terlepas dari fakta bahwa banyak perempuan baru mengetahui penyakitnya saat kanker telah berada pada stadium lanjut. “Sebagian besar kasus datang terlambat, sehingga risiko kematian menjadi sangat tinggi,” katanya.
Jika dirata-ratakan, lebih dari 50 perempuan meninggal setiap hari akibat kanker serviks. Dalam hitungan waktu, berarti sekitar dua perempuan meninggal setiap jam. “Artinya, hampir setiap jam kita kehilangan dua perempuan karena penyakit yang sebenarnya bisa dicegah,” kata Dewie.
Darurat kanker serviks di Indonesia: lebih dari 50 perempuan meninggal setiap hari. Pencegahan dini melalui vaksin HPV dan skrining rutin menjadi kunci.
Pencegahan Dini Harus Diperluas
Dewie menegaskan bahwa tingginya angka kematian ini menunjukkan upaya pencegahan dini yang belum optimal. Padahal, kanker serviks termasuk penyakit yang dapat dicegah melalui langkah-langkah medis yang sudah tersedia. “Pencegahan adalah kunci. Vaksin HPV dan skrining rutin harus diperluas dan dipermudah aksesnya,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya vaksinasi HPV bagi anak dan remaja perempuan, serta peningkatan partisipasi perempuan dewasa dalam skrining seperti tes IVA dan Pap smear. Menurut Dewie, langkah ini dapat menekan jumlah kasus baru dan menurunkan angka kematian secara signifikan.
Dalam pertemuan tersebut, Dewie dan Siti Fadilah Supari juga membahas perlunya keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan organisasi masyarakat, dalam edukasi kesehatan reproduksi. Informasi tentang pencegahan kanker serviks dinilai masih belum merata, terutama di daerah dengan keterbatasan layanan kesehatan.
Bagi Gerakan Srikandi Indonesia, isu kanker serviks tidak hanya menyangkut aspek medis, tetapi juga menyangkut kesetaraan akses layanan kesehatan bagi perempuan. “Perlindungan kesehatan perempuan harus menjadi prioritas kebijakan, agar angka kematian akibat kanker serviks tidak terus berulang,” kata Dewie. (*)