Karya Taruna Ikrar di Jurnal Q1 Dunia: Mengapa Vaksin Ibu Menjadi Kunci Masa Depan Bayi

Taruna Ikrar, ilmuwan dunia yang kini mengemban amanah sebagai Kepala BPOM RI, berkiprah aktif di persimpangan ilmu pengetahuan dan kebijakan kesehatan publik.
  • Publikasi ilmiah terbaru Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., ilmuwan dunia yang kini mengemban amanah sebagai Kepala BPOM RI, di jurnal internasional bereputasi Vaccine menegaskan pentingnya melindungi kehidupan sejak sebelum kelahiran. Melalui kajian imunisasi maternal terhadap Group B Streptococcus, vaksin ibu diposisikan sebagai strategi kesehatan publik yang efektif sekaligus berkeadilan secara global.
menitindonesia, JAKARTA — Upaya melindungi bayi sejak awal kehidupan terus berkembang mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan. Salah satu pendekatan yang kini mendapat perhatian luas adalah imunisasi maternal, yakni vaksinasi pada ibu hamil untuk mencegah penyakit serius pada bayi baru lahir. Topik inilah yang diulas secara komprehensif oleh Taruna Ikrar bersama timnya dalam artikel terbaru yang terbit di Vaccine, Volume 77 (2026), artikel nomor 128381.
Jurnal Vaccine merupakan jurnal internasional bereputasi tinggi, terindeks Q1 Scopus, dan menjadi rujukan penting dalam pengembangan kebijakan vaksin global. Publikasi ini menempatkan karya Prof Taruna Ikrar dalam percakapan ilmiah tingkat dunia, khususnya terkait kesehatan ibu dan anak.
BACA JUGA:
BPOM–Unpad Menata Arah Rekayasa Kosmetik, Taruna Ikrar Tekankan Ilmu Harus Sejalan Regulasi
Artikel berjudul Maternal Immunization against Group B Streptococcus: Immune correlates, microbiome trade-offs, and global implementation challenges tersebut membahas pencegahan infeksi Group B Streptococcus (GBS)—salah satu penyebab utama sepsis, meningitis, dan kematian neonatal—yang hingga kini masih menjadi masalah kesehatan global, terutama di negara berpendapatan rendah dan menengah.
Picsart 26 02 21 13 28 44 093 11zon e1771655459932
Ilustrasi ini merangkum gagasan utama karya Taruna Ikrar tentang imunisasi maternal sebagai strategi perlindungan bayi sejak sebelum kelahiran—efektif mencegah Group B Streptococcus sekaligus menjaga keseimbangan mikrobioma dan keadilan kesehatan global.

Dari Antibiotik ke Pendekatan Imunologis

Selama beberapa dekade, strategi utama pencegahan GBS adalah pemberian antibiotik saat persalinan (intrapartum antibiotic prophylaxis). Pendekatan ini efektif menurunkan kasus penyakit onset dini, namun memiliki keterbatasan. Antibiotik tidak mencegah penyakit onset lambat, tidak menurunkan risiko stillbirth terkait GBS, serta berpotensi mengganggu mikrobioma bayi pada fase awal kehidupan.
Artikel ini mengulas secara sistematis bagaimana vaksinasi ibu menawarkan pendekatan berbeda. Dengan merangsang pembentukan antibodi spesifik pada ibu hamil, perlindungan ditransfer secara alami ke janin melalui plasenta. Bayi lahir dengan perlindungan imun pasif, tanpa harus terpapar antibiotik sejak menit pertama kehidupan.

Immune Correlates dan Tantangan Regulasi

Salah satu kontribusi penting artikel ini adalah penekanan pada immune correlates of protection, yakni indikator imunologis yang dapat digunakan untuk menilai efektivitas vaksin. Pendekatan ini dinilai krusial mengingat uji klinis berskala besar berbasis luaran kematian bayi sulit dilakukan, baik secara etis maupun logistik.
BACA JUGA:
Ketika Pengakuan WLA Menjadi Ujian bagi BPOM RI
Dengan kerangka ini, pengembangan vaksin maternal dapat tetap berjalan berbasis bukti ilmiah yang kuat, sekaligus membuka jalan bagi proses regulasi yang lebih adaptif, terutama di negara dengan keterbatasan sumber daya.

Mikrobioma sebagai Pertimbangan Baru

Artikel ini juga memberi perhatian pada isu yang relatif baru dalam kebijakan kesehatan publik, yakni mikrobioma ibu dan bayi. Paparan antibiotik saat persalinan diketahui dapat mengubah komposisi mikroba awal kehidupan, yang berpotensi berdampak pada imunitas dan kesehatan jangka panjang.
Vaksinasi maternal, sebaliknya, dinilai lebih ramah terhadap keseimbangan biologis tersebut. Dengan demikian, manfaatnya tidak hanya diukur dari pencegahan penyakit akut, tetapi juga dari perlindungan kualitas kesehatan jangka panjang.

Ilmu, Sistem, dan Keadilan Global

Menariknya, artikel ini tidak berhenti pada tataran ilmiah. Prof Taruna Ikrar dan rekan-rekannya mengulas tantangan implementasi secara luas: kesiapan sistem kesehatan, pembiayaan, rantai pasok, hingga penerimaan masyarakat. Penekanan diberikan pada fakta bahwa beban penyakit GBS paling besar justru berada di negara-negara dengan sumber daya terbatas.
Pesan yang disampaikan tegas namun proporsional: kemajuan ilmu vaksin perlu diiringi kesiapan sistem dan kebijakan agar manfaatnya dapat dirasakan secara adil.

Kontribusi Ilmiah dari Indonesia

Publikasi di jurnal internasional bereputasi ini menandai kontribusi penting ilmuwan Indonesia dalam isu kesehatan global. Lebih dari capaian akademik, karya ini menawarkan kerangka berpikir baru tentang bagaimana perlindungan kesehatan dapat dimulai bahkan sebelum seorang anak dilahirkan.
Dalam konteks itulah, imunisasi maternal, selain sebagai pilihan teknis, juga bagian dari strategi kesehatan publik yang berorientasi pada masa depan. (*)