Hadiri Munas NU di Bangkalan, Prabowo Puji Peran Kiai dan Ulama

Prabowo saat menghadiri penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2026 di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. (ist)
menitindonesia, BANGKALAN – Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan keyakinannya bahwa Nahdlatul Ulama (NU) akan terus menjadi kekuatan moral dan sosial yang berperan penting dalam menjaga persatuan, stabilitas, serta kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2026 di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026).
Di hadapan ribuan peserta, Presiden menilai NU memiliki rekam jejak panjang dalam menjaga keutuhan bangsa, terutama saat Indonesia menghadapi berbagai tantangan dan situasi sulit.
“Keluarga besar NU selalu tampil di saat bangsa Indonesia dalam keadaan sulit. Keluarga besar NU adalah faktor stabilisator. Faktor yang bisa membuat aman bangsa dan negara,” kata Prabowo.
Menurut Presiden, peran NU tidak hanya sebatas organisasi keagamaan, tetapi juga menjadi salah satu pilar penting yang menjaga ketenteraman, keharmonisan, dan persatuan nasional.

BACA JUGA:
Prabowo Resmikan 1.151 Km Jalan Daerah di 37 Provinsi, Tekan Biaya Logistik

Karena itu, ia meyakini NU akan terus memberikan kontribusi positif bagi perjalanan bangsa Indonesia di masa mendatang.
“Saya yakin dan percaya bahwa NU akan selalu punya peranan yang positif, yang baik untuk bangsa dan negara. NU adalah organisasi para kiai dan para ulama,” ujarnya.
Prabowo menilai kekuatan utama NU terletak pada kedekatan para kiai dan ulama dengan masyarakat. Kedekatan tersebut membuat para tokoh agama memahami secara langsung persoalan yang dihadapi rakyat, terutama di wilayah pedesaan.
“Para kiai dan para ulama menurut saya adalah tokoh-tokoh yang paling dekat dengan rakyat, terutama rakyat di pedesaan. Karena itu mereka paham dan mengerti apa yang dirasakan rakyat,” tuturnya.
Presiden juga menegaskan bahwa ulama memiliki sensitivitas tinggi terhadap persoalan masyarakat bawah. Menurutnya, hubungan erat antara ulama, pemerintah, aparat keamanan, dan rakyat menjadi modal besar dalam menjaga stabilitas nasional.
“Para kiai dan ulama merasakan apa yang dirasakan rakyat paling bawah. Karena tentara, pejuang, polisi, dan aparat juga berasal dari rakyat. Karena itu ulama, pemerintahan, tentara, dan kepolisian sesungguhnya memahami perasaan rakyat,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo turut menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat yang diberikan keluarga besar NU. Ia mengaku selalu merasa nyaman berada di lingkungan organisasi Islam terbesar di Indonesia itu.
“Terima kasih atas sambutan yang luar biasa. Saya selalu merasa nyaman di tengah-tengah keluarga besar Nahdlatul Ulama. Nyaman dan aman,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta.
Prabowo juga mengungkapkan kedekatannya dengan NU telah terjalin sejak masa kecil. Ia mengenang hubungan keluarganya dengan tokoh-tokoh NU, termasuk keluarga Presiden keempat RI, Gus Dur.
“Saya kenal keluarga besar Nahdlatul Ulama sejak kecil. Dulu saya bertetangga dengan keluarga Gus Dur di Jakarta. Eyang putri saya juga berasal dari lingkungan NU,” ungkapnya.
Di akhir sambutannya, Presiden menegaskan bahwa NU merupakan organisasi keagamaan yang memiliki komitmen kuat terhadap nilai-nilai kebangsaan dan kecintaan kepada Tanah Air.
Menurutnya, NU berhasil memadukan nilai religiusitas dengan semangat nasionalisme dan patriotisme dalam kehidupan berbangsa.
“Nahdlatul Ulama memang organisasi keagamaan, tetapi sangat nasionalis, sangat patriotik, dan sangat cinta tanah air. Jadi agamis, tetapi tetap nasionalis dan patriotik,” tegas Prabowo.