Masjid di Kota Judi

Tomi Lebang. (Foto: Ist)
Oleh Tomi Lebang
SAYA datang ke sini sore menjelang ashar, tapi bangunan masjid di 3788 N Jones Boulevard, salah satu jalan utama kota Las Vegas itu terlihat sepi. Pintu masjid tak terkunci, tapi tak tampak seorang pun di dalamnya. Di depannya, bendera Amerika berkibar-kibar, beradu pandang dengan panji-panji bertuliskan kalimat tauhid di sudut pelataran masjid yang lain.
Inilah Masjid Ibrahim, satu dari lima masjid di kota Las Vegas, yang melayani warga muslim kota di tengah gurun Nevada ini. Masjid ini kabarnya dibangun seorang perempuan Amerika bernama Fatima Motti, segera setelah ia menjadi mualaf dan berganti nama.
Selain Masjid Ibrahim, ada empat masjid besar yang tersebar di seantero Las Vegas.
Salah satunya, Masjid Attauhid, tak jauh dari Las Vegas Boulevard — kawasan yang terkenal sebagai pusat judi, hiburan dewasa dan bar-bar yang menjadi daya tarik utama kota Las Vegas.
Masjid Attauhid dibangun seorang anak muda pendatang dari Afghanistan bernama Ahmadullah Rokai Yousufzai. Yousufzai datang ke Las Vegas sebagai pengungsi dari Afghanistan yang diamuk perang, di mana ia ikut berjuang melawan pendudukan Uni Sovyet.
Di kota Las Vegas ia menemukan peruntungannya, dan menjadi kaya-raya dari usaha penyewaan properti. Dari hasil usahanya itulah, ia membangun masjid.
Sampai hari ini Masjid Attauhid tak punya imam sendiri. Hanya ada dua warga yang kerap tampil memimpin salat berjamaah meski mereka bukan lulusan sekolah agama. Seorang di antaranya bekerja sebagai pembuat roti di kasino dan yang satu adalah kurir merangkap pengemudi taksi di Las Vegas.
Begitulah. Las Vegas, kota yang begitu semarak, pusat judi dunia yang gemerlap di tengah gurun Nevada di Amerika ini, dihuni lebih dari 600.000 penduduk dengan beragam latar belakang. Kota ini begitu hidup sebagian besar berkat hasrat manusia untuk bertaruh.
Di antara penduduk Las Vegas itu adalah 10.000-an muslim yang amat mengharamkan judi. Akan tetapi, kata Yousufzai, judi di Las Vegas sebuah dunia yang lain.
“Keluarga kami hanya mencoba menjalani kehidupan yang layak dan baik. Kebanyakan muslim di kota ini tinggal jauh dari pusat keramaian itu. Kerlip lampu-lampu di kasino tak terlihat dari rumah kami,” katanya suatu ketika.


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini