Media dan Macam-macam Politisi Kita

Pahmudin Holiq, adalah mantan aktivis dan fungsionaris PB HMI. (Foto: Ist)
TIGA macam politisi kita yang mewarnai pandangan setiap saat, pertama politisi yang dekat dengan awak media, kedekatannya karena punya kemistri yang sama, gagasan yang mempertemukan mereka. Melalui percakapan atau dialog gagasan akan dituliskan menjadi bacaan publik.
Politisi memang harus punya wawasan dan gagasan yang mendunia, khususnya yang dipercayakan masyarakat masuk ke Senayan. Status anggota DPR RI itu wajah bangsa, sehingga wajar jika awak media selalu melekat awak media pada mereka, mengabadikan wawasan kebangsaannya.
Kedua, politisi yang tidak terlalu menampakkan dirinya atau segala macam aktifitasnya, tertutup sesuai karakter/pembawaannya sejak dahulu, melandai dan tak punya ambisi untuk familiar, karakter politisi macam ini senantiasa diterjemahkan oleh awak media, terkait apa yang menjadi aktivitasnya, gagasannya, terus di abadikan dan di tuliskan oleh awak media, awak media yang kerja ikhlas sangat pandai dan objektif menilai dan menuliskan catatan prestasi para politisi macam ini, bukan berarti pasif tetapi, tetap Ia gandrung akan sebuah perubahan dan memikirkan kenyamanan konstituennya yang berada di pelosok-pelosok kampung.
Politisi yang terus menunjukkan karyanya senantiasa diikuti awak media untuk diabadikan secara objektif, bahkan tanpa diminta Ia akan tetap terekam dengan baik. Itulah politisi yang baik menurutku, dengan karya dan keberpihakan yang nyata lalu dituliskan.
Ketiga, politisi ini yang paling memprihatikan. Adalah politisi yang menjadikan media sebagai corong tunggal baginya memproduksi hoax, kepalsuan. Hanya menjadikan media sebagai alat politik saja tanpa memikirkan proses edukasi kepada publik. Politisi macam ini sangat minim gagasan dan ide kerakyatannya, birahi kekuasaannya mendominasi pikiran dan hatinya sehingga tak paham akan fungsi dan perannya sebagai wakil rakyat, politisi konyol.
Politisi konyol ini menumpang pada sistem yang kurang sehat, tidak merasakan jenjang yang baik, prosesnya premature, bahkan ada yang tak pernah masuk merasakan nikmatnya lingkungan akademik seperti kampus, bahkan ijazah sekolahnya pun penuh tanya.


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini