Aktivis 98: Beda Kelas Ahmad Mabbarani dan Ade Armando, Yang Satu Dielu-Elukan, Yang Satu Digebukin

Ahmad Mabbarani (atas), Ade Armando (bawah)
menitindonesia, MAKASSAR – Demonstran di era tahun 1998, Syamsir Anchi, mengapresiasi gerakan Mahasiswa 11 April 2022 yang menolak perpanjangan masa jabatan Presiden dan menolak Presiden tiga periode, sebagai gerakan moral yang sukses menyelamatkan agenda reformasi dan demokrasi di tanah air.
Syamsir mengatakan, memang ada upaya kuat oknum-oknum penikmat kekuasaan yang ingin memperpanjang masa mereka berkuasa. Juga, ia sangat menyayangkan sikap bunglon sejumlah elit politik, yang katanya: lain di mulut, lain di hati.


“Sangat disayangkan ada oknum menteri yang mewacanakan memperpanjang jabatan Presiden, meskipun Presiden Jokowi, sejak awal mewanti-wanti dengan sindiran, orang yang mengusulkan perpanjangan jabatan presiden itu, orang yang tidak punya malu dan hanya mau cari-cari muka saja. Eh, malah ada yang ujug-ujug omongin pemilu ditunda, jabatan presiden diperpanjang!” kata Syamsir Anchi pada saat berdiskusi di kantor Redaksi menitindonesia.com, Jalan Andi Djemma No 2A, Makassar, Rabu (3/4/2022).


Ketua LSM Pusat Informasi Lingkungan Hidup Indonesia (PILHI) itu, menyebut wacana perpanjangan masa jabatan Presiden hanya bisa dipikirkan oleh orang picik, yang mau merusak presiden, cari muka dan tidak punya rasa malu.
“Yah, begitulah mungkin caranya mendapatkan pengaruh kekuasaan dengan cara menjadi penjilat kelas kakap. Kalau saya telisik, mereka dulu penikmat orde baru yang menyusup dalam kekuasaan di era reformasi,” ujarnya.
Alumni Sejarah Fakultas Sasta Unhas tahun 2000 ini, mengingatkan, bahwa masyarakat harus mengidentifikasi partai-parta dan tokoh atau politisi yang sering mewacanakan perpanjangan masa jabatan presiden dan penundaan pemilu sebagai pejahat-penjahat demokrasi.
“Mereka memiliki potensi besar merusak negara ini jika masih diberi kesempatan di Pemilu 2024 mendatang. Sebab jelas, cara berpikirnya lebih jahat dari ideologi komunis, mau memaksakan presiden berkuasa seumur hidup dengan cara mengutak atik konstitusi. Ingat banyak negara rontok karena konstitusinya sering diutak-atik untuk melanggengkan kekuasaan,” ucap pria yang sering dipanggil Anchi itu.

Bedanya Ahmad dan Ade

Selain itu, Demonstran Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi (AMPD) di era 1998 ini, juga menyayangkan sikap sejumlah massa yang melakukan penganiayaan terhadap pegiat media soscial, Ade Armando, dengan cara memukulinya hingga terkapar di atas aspal, menginjak-injak kepalanya dan menendang tubuhnya, bahkan sempat menelanjanginya.
“Sebagai mantan demonstran, saya sangat prihatin melihat aksi kekerasan terhadap Ade Armando. Mestinya, tidak perlu dipukuli dan dianiaya sekeji itu, tapi cukup diusir saja kalau dianggap tak layak hadir di tengah massa yang sedang berjuang untuk masa depan demokrasi di negerinya,” terang Anchi.
Sebaliknya, Anchi mengapresiasi Ketua Forum Aliansi Kontra Korupsi (FAKK), Ahmad Mabbarani, yang juga ikut melakukan longmarch dengan mahasiswa saat berunjuk rasa 11 April 2022, di Makassar. Di mana, saat itu, ungkapnya, Ahmad Mabbarani dielu-elukan massa dengan yel-yel saat berorasi sambil berjalan kaki menuju titik aksi di Fly Over, lalu.
“Meskipun Ahmad Mabbarani bukan akademisi dan bukan pakar, tetapi dia memiliki narasi yang berakal dan agenda yang jelas, melawan korupsi, itu sebabnya dia dielu-elukan mahasiswa saat berunjuk rasa,” ucapnya.
Dia juga mengatakan, Ahmad Mabbarani beda kelas dengan Ade Armando. Meskipun Ade bergelar doktor dan tercatat sebagai dosen komunikasi, namun respect para pendemo dan masyarakat terhadapnya berbeda dengan respect kepada Ketua FAKK.
Dia menilai Ade Armando telah memelintir akalnya sendiri dan menjungkir logikanya sendiri, sehingga, kata dia, menjadikan kehadiran Ade sebagai energi negatif di tengah-tengah massa pengunjuk rasa.
Sedangkan Ahmad Mabbarani, menurut Anchi, datang ke tengah para demonstran dengan memberi motivasi dan meminta mahasiswa tertib dalam melakukan gerakan amar ma’ruf nahi mungkar.
“Ade memang punya gelar intelektual dan dekat dengan kekuasaaan, tapi minus kecerdasan emosi. Sedangkan Ahmad Mabbarani, meskipun tidak memiliki gelar akademik, tapi dia memiliki kecerdasan spiritual dan cerdas emosi. Itu yang membuanya jadi energi positif di tengah massa,” terangnya. (roma)