Ketua KONI Makassar Jelaskan Pentingnya Perda Kepemudaan di Acara Sosper Anggota DPRD

Sosper Anggota DPRD Makassar, Hadir sebagai Pemateri, Ketua KONI Makassar, Ahmad Susanto dan Kadispora Makassar, Andi Pattiware bersama Legislator Golkar Makassar, Abdul Wahab Tahir. (Foto: Ist)
menitindonesia, MAKASSAR – Ketua KONI Kota Makassar, Ahmad Susanto, menjelaskan pentingnya Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur tentang kepemudaan pada acara Sosialisasi Perda Nomor 6 Tahun 2019 tentang Kepemudaan (Sosper) yang diinisiasi oleh Anggota DPRD Kota Makassar, Abdul Wahab Tahir, di Hotel Whize Prime, Jalan Jenderal Sudirman, Makassar, Minggu (22/5/2022).
Dalam acara tersebut, Ahmad Susanto menjelaskan pentingnya peran pemerintah dalam memberikan proteksi dan membangun karakter pemuda memiliki memiliki kemampuan bersaing dan kemampuan adaptasi terhadap tuntutan zaman.
“Karakter pemuda harus dibangun agar menjadi pribadi yang kuat dalam menghadapi tuntutan zaman dan pesatnya kemajuan teknologi digital. Era metaverse ke depan, tidak bisa lagi dibendung, sehingga membutuhkan identitas dan karakter pemuda yang kuat, agar nilai budaya dan jati diri bangsa tetap terpelihara,” kata Ahmad Susanto.
Dia menambahkan, lahirnya Perda tentang Kepemudaan, merupakan upaya serius Pemerintah Kota Makassar dan DPRD untuk melakukan proteksi agar jati diri dan identitas pemuda tidak luntur.
Selain itu, Ahmad Susanto juga menyinggung kegiatan olahraga sebagai sarana untuk melahirkan generasi yang fight dan sportif. Sebab, kata dia, kegiatan olahraga di kalangan pemuda bisa menjadi solusi untuk mencegah para pemuda tercebur ke dalam hal-hal yang negatif.
“Tantangan kepemudaan kita hari ini, mencegah terjadinya disorientasi di kalangan pemuda, karena perubahan cara berpikir zaman, di mana semua sektor sudah terbuka dan kompetitif. Pemuda harus bisa bersaing agar tidak ditinggal oleh zamannya,” jelasnya.
Sementara itu, Anggota DPRD Kota Makassar, Abdul Wahab Tahir, menyayangkan kota Makassar yang terkenal animo masyarakatnya terhadap olahraga sangat tinggi, namun tidak memiliki stadion yang bisa dibanggakan.
“Memang ada stadion yang dibangun tapi sampai sekarang tidak ada yang bisa dipakai. Stadion Barombong belum bisa dipakai dan terkesan mangkrak. Stadion Sudiang sejak dibangun sampai sekarang tidak pernah dipakai, malah sekarang menjadi kandang kambing. Adapun stadion Mattoanging yang selama ini digunakan, justru dibongkar dan jadi bahan pertengkaran, pun sekarang sudah jadi kubangan lumpur,” ujar mantan Aktivis 98 dari Universitas Bosowa itu.
Wahab meminta Pemkot Makassar melalui Kadispora agar mengupayakan mengadakan stadion yang bisa menjadi kebanggaan kota Makassar. Dengan adanya stadion yang megah,  dibanggakan, lanjut Wahab, bisa menjadi simbol Makassar sebagai kota olahraga.
“Kalau memang tidak bisa menyelesaikan pembangunan stadion Mattoanging, sebaiknya asset Mattoanging dan kewenangannya diserahkan saja ke Pemkot, biar pembangunannya dilanjutkan oleh Pemkot Makassar,” ujarnya.
Di tempat yang sama, Kadispora Kota Makassar, Andi Pattiware, menyampaikan apresiasi kepada Anggota DPRD Makassar dan Pengurus KONI Kota Makassar yang mau mendorong bangkitnya pemuda di Kota Makassar melalui aktifitas keolahragaan.
Pattiware menjelaskan, saat ini, pihaknya berusaha mengadakan banyak sarana olahraga dan mendorong aktifitas kepemudaan pada hal-hal yang positif. Dia pun mengapresisasi program KONI Makassar yang dinilainya sangat agresif menumbuhkan kreatifitas pemuda dan memelihara semangat keolahragaan di kalangan pemuda. (andi esse)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini