Setelan Jas Demagog, Motor Legenda Ayah

FOTO ILustrasi
Oleh: Muhammad Syarif Hidayatullah
menitindonesia – Pagi yang memanjang seperti lampu peron, menyinari sekolah menengah atas di sebuah daerah, yang daerah itu dikenal sebagai kota dingin.
La Wila baru saja tiba dengan motor legenda milik ayahnya itu. Ia tiba di sekolah yang suasananya maron sayu, seperti darah yang dilukis dengan kanvas. Langit memerah maron.
“Assalamu’alaikum, Ayah. Aku baru aja sampe di sekolah. Kenapa sekolahku jadi berwarna maron, Ayah?,” beberapa detik, ia langsung menelpon ayahnya. Setelah sekian menit, La Wila terperanjat memandang dan memperhatikan situasi sekolahnya yang tidak seperti biasanya.
“Wila, kamu bicara begitu kenapa, Nak? Bapak jadi bingung deh,” sahut suara bapak, kemudian terlihat tangan La Wila mulai bergetar sambil memegang gawainya.
“Aku udah sampe di sekolah, Pak. Tapi sekolah.., ” jelas La Wila dengan terbata, tidak melanjutkan kalimatnya.
BACA JUGA:
Dukung Hilirisasi Pisang, Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Endorse Produk Lokal
BACA JUGA:
HUT Kota Makassar ke-416, Dispora Berikan Layanan Nikmati Virtual Tour Lapangan Karebosi Desain Baru
“Pak.. ada kepala negara di sini Pak. Kepalanya terpotong hanya setengah. Mukanya coklat kehitaman. Tapi senyumnya lebar ke aku. Pak lebih baik bapak ke sini, aku takut Pak.” La Wila terperanjat dan mulai mencoba melangkah sedikit mundur.
“La Wila, anda ingin kaya? Anda ingin kapal pesiar? Ikuti saya. Biar saya sejahterakan keluarga anda yang serba kekurangan itu. Demi Allah, saya akan jadi pemimpin yang saleh, yang pasti membangun jembatan di daerah kita yang sudah hampir roboh itu.” bisik perlahan suara laki-laki berkepala setengah tadi kepada La Wila.
“Kamu siapa? mohon mundur. Saya baru saja ketemu kamu. Maaf, Bapak. Saya tidak mengenal Bapak. Pun, di kampung saya tidak ada sungai, Bapak .” suara La Wila pelan sambil tetap sopan kepada laki-laki kepala setengah tadi.
“Saya akan kasih kamu mi instan dua bungkus, dan minyak goreng satu liter. Ayuk pilih saya jadi kepala daerah.” laki-laki itu menimpali kembali dengan raut wajahnya yang penuh keseriusan tapi juga terlihat sayu.
“Pak. Saya masih usia remaja Pak, belum capai syarat usia untuk memilih siapapun jadi wakil saya di pemerintahan. Masa bapak tidak tahu itu?.” La Wila menjawab tegas.
“Itulah kenapa saya ke sini. Membuatmu dapat melihat kembali dari buta matamu sejak lahir itu. Hanya kalo saya terpilih nanti. Heuheuheuheu… hahahahaha…” bisik laki-laki setengah kepala tadi, sambil kemudian tertawa lebarnya. (*)