Kepala BPOM RI Prof. Taruna Ikrar menyampaikan strategi penguatan pengawasan produk biologi dan inovasi farmasi Indonesia menuju pasar global.
Kepala BPOM RI Prof. Taruna Ikrar menegaskan pentingnya Indonesia menguasai pasar produk biologi global. Dari tantangan regulasi hingga diplomasi farmasi, inilah gebrakan BPOM era baru.
menitindonesia, JAKARTA – Dalam peta revolusi kesehatan global, produk biologi kini jadi senjata utama melawan penyakit-penyakit kompleks. Vaksin mRNA, terapi sel dan gen, antibodi monoklonal—semuanya lahir dari inovasi bioteknologi modern. Namun, apakah Indonesia hanya akan jadi konsumen?
Pertanyaan itu dilontarkan langsung oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., saat menyoroti peta tantangan dan peluang produk biologi di pasar global.
Potensi Besar, Tapi Risiko Tak Kecil
Dalam pernyataannya, Taruna menekankan bahwa meski produk biologi memiliki prospek luar biasa, Indonesia dihadapkan pada berbagai tantangan besar—dari sisi regulasi, infrastruktur laboratorium, hingga daya saing industri farmasi lokal.
“Jangan hanya jadi pasar. Kita harus naik kelas, jadi produsen yang bisa ekspor dengan standar internasional,” tegas Taruna saat memberi sambutan dalam seminar dan lokakarya kolaboratif BRIN-ASPI di Gedung BJ Habibie, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (6/8/2025).
BPOM Era Baru: Regulator Sekaligus Inisiator Inovasi
Di bawah komando Taruna Ikrar—dokter dan ilmuwan yang lama berkiprah di Amerika Serikat—BPOM tak hanya menjadi lembaga pengawas. Lembaga ini kini bergerak sebagai penggerak inovasi farmasi nasional, dengan pendekatan kolaboratif antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat.
Menurutnya, mempercepat sertifikasi produk inovatif, memperkuat laboratorium, serta meningkatkan kapasitas SDM regulatori menjadi langkah strategis untuk menembus pasar ekspor dan membangun ekosistem farmasi yang mandiri.
Kunci Masa Depan: Diplomasi Regulatori
Salah satu terobosan yang diangkat Taruna adalah pentingnya diplomasi regulatori. Sebuah pendekatan baru yang mendorong kesetaraan standar dan pengakuan antarnegara, agar produk farmasi dari Indonesia bisa diterima secara global tanpa hambatan birokrasi yang panjang.
“Tanpa diplomasi regulatori, inovasi kita akan mentok di dalam negeri. Dunia harus kenal kualitas produk Indonesia,” ungkap Taruna.
Saatnya Gas Penuh
Dengan penuh keyakinan, Taruna menutup pernyataannya: “Ini bukan lagi soal bisa atau tidak. Ini soal mau atau tidak. Kalau kita serius, produk biologi Indonesia bisa bersaing bahkan memimpin di Asia Tenggara.”
Pernyataan ini bukan wacana saja. Di bawah kepemimpinan Prof Taruna Ikrar, arah transformasi BPOM kini tampak lebih strategis, progresif, dan terukur. (AE)