Sejarah Kudeta Moskow 19 Agustus 1991: Tiga Hari yang Mengguncang Uni Soviet

Momen bersejarah ketika Presiden Rusia Boris Yeltsin berdiri di atas sebuah tank dan menyerukan perlawanan rakyat terhadap kudeta. Foto ini sering menjadi lambang pemberantasan otoritarianisme (ist)
menitindonesia, JAKARTA – Fajar di ibu kota Uni Soviet diselimuti ketegangan. Tank-tank baja berderak memasuki pusat kota, pasukan elit dikerahkan, dan pengumuman darurat negara menggema dari radio dan televisi pemerintah.
Sebuah komite bernama State Committee on the State of Emergency (GKChP), yang terdiri dari pejabat tinggi militer, KGB, dan Partai Komunis, menyatakan bahwa Presiden Mikhail Gorbachev “tidak mampu menjalankan tugas karena sakit”.
Namun rakyat segera memahami: inilah kudeta.
Langkah Garis Keras
Para jenderal dan birokrat konservatif berusaha menghentikan reformasi Gorbachev yang dianggap melemahkan negara dan membuka jalan bagi bubarnya federasi Soviet. Mereka menolak Perjanjian Persatuan Baru yang dijadwalkan akan ditandatangani beberapa hari kemudian, karena perjanjian itu akan memberi otonomi lebih besar kepada republik-republik Soviet.

BACA JUGA:
Sejarah Hari Ini: 15 Agustus 1954 Jepang Menyerah, Titik Awal Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

“Kami harus menyelamatkan Uni Soviet dari kehancuran,” ujar Gennady Yanayev, Wakil Presiden Soviet yang ditunjuk GKChP sebagai pengganti sementara Gorbachev. Tetapi suara tangannya yang gemetar saat konferensi pers menandakan keraguan, bukan keyakinan.
Yeltsin Melawan dari Atas Tank
Di saat genting itu, satu sosok tampil menentang: Boris Yeltsin, Presiden Federasi Rusia. Pada 19 Agustus siang, ia berdiri di atas sebuah tank di depan Gedung Putih Rusia, markas parlemen, dikelilingi ribuan warga yang menolak kudeta.
“Rakyat Rusia tidak akan pernah kembali ke masa lalu. Kami menolak kediktatoran!” tegas Yeltsin dalam pidato yang disiarkan dan kemudian menjadi ikon perlawanan.
Seruan itu membakar semangat warga Moskow. Mereka membuat barikade, mendirikan tenda, dan berhadapan langsung dengan pasukan. Sebagian tentara enggan menembak rakyatnya sendiri, bahkan ada yang bergabung melindungi Gedung Putih.

BACA JUGA:
Sejarah Hari ini: Tragedi Bom Hiroshima dan Akhir Perang Dunia II

Tiga Hari yang Mengubah Dunia
Pada 20 Agustus, situasi kian panas. Bentrokan menelan tiga korban jiwa ketika warga berusaha menghentikan konvoi tank. Namun bukannya melemah, gelombang perlawanan semakin menguat.
Keesokan harinya, 21 Agustus, jelaslah bahwa kudeta gagal. Pasukan ditarik dari Moskow, Gorbachev dibebaskan dari tahanan rumahnya di Krimea, dan para pemimpin GKChP ditangkap atau bunuh diri.
“Segalanya runtuh begitu cepat,” kenang Anatoly Sobchak, wali kota Leningrad saat itu. “Dalam tiga hari, dunia berubah.”

BACA JUGA:
25 Juli 1943: Hari Kejatuhan Mussolini, Titik Balik Sejarah Perang Dunia II

Dampak yang Mengakhiri Uni Soviet
Meskipun kembali ke jabatannya, Gorbachev kehilangan wibawa. Partai Komunis Soviet segera dilarang sementara. Sementara itu, Boris Yeltsin tampil sebagai pemenang politik sejati.
Kudeta yang gagal ini justru mempercepat keruntuhan Uni Soviet. Dalam waktu empat bulan, republik-republik Soviet mendeklarasikan kemerdekaan, dan pada Desember 1991, bendera merah palu arit terakhir kali diturunkan dari Kremlin.