Kepala BPOM RI Prof Taruna Ikrar saat memaparkan strategi kolaborasi kesehatan Indonesia–Australia bersama Recce Pharmaceuticals di Sydney.
Kepala BPOM RI Prof Taruna Ikrar jadi sorotan The Australian Financial Review. Ia ungkap strategi Indonesia untuk jadi pusat riset medis dan uji klinis global lewat reformasi besar di sektor kesehatan.
menitindonesia, SYDNEY, AUSTRALIA – Di balik ruang rapat modern Austrade di Sydney, Jumat (22/8/2025), Prof Taruna Ikrar duduk dengan tenang. Senyumnya ramah, namun matanya menyimpan ketegasan seorang pemimpin yang tengah membawa nama Indonesia ke panggung global. Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) itu menjadi narasumber eksklusif bagi The Australian Financial Review (AFR), salah satu surat kabar bisnis dan ekonomi paling berpengaruh di Australia.
Selama 30 menit, Prof Taruna menjawab pertanyaan-pertanyaan tajam dari Michael Smith, Healthcare Editor AFR dengan pengalaman lebih dari dua dekade. Tema wawancara bukan hal sepele: “Indonesia’s Strategy to Become a Global Medical and Clinical Research Hub”.
Taruna Ikrar Tegaskan Indonesia Siap Jadi Pusat Riset Medis Dunia
“Ini momentum besar bagi Indonesia,” ujar Prof Taruna membuka percakapan. “Kami tidak hanya ingin menjadi pengguna teknologi kesehatan global, tetapi juga menjadi pusat lahirnya inovasi medis dunia.”
Visi Prof Taruna itu bukan hanya retorika. Dalam kepemimpinannya, BPOM mendorong reformasi regulasi yang lebih adaptif, memberikan jalur percepatan (fast track approval) untuk terapi mutakhir seperti gen, sel, hingga pengobatan regeneratif. Bagi Prof Taruna, keselarasan dengan standar global adalah kunci agar Indonesia dipercaya menjadi rumah kedua bagi perusahaan bioteknologi internasional, termasuk dari Australia.
Michael Smith mencatat dengan seksama. Bagi AFR, wawancara ini penting karena pembacanya adalah para investor, eksekutif senior, hingga pembuat kebijakan di Asia-Pasifik. Prof Taruna paham, setiap kata yang terucap bisa membuka pintu investasi atau sebaliknya menutup peluang.
Di sela wawancara, ia menyinggung Recce Pharmaceuticals sebagai contoh nyata. Perusahaan biotek asal Australia ini sukses mempercepat uji klinik di Indonesia berkat kebijakan reformasi BPOM. “Ini bukti bahwa strategi kami bukan hanya di atas kertas, tapi sudah bekerja untuk dunia usaha,” tegasnya.
Namun Prof Taruna tak berhenti pada keberhasilan satu-dua perusahaan. Ia membawa misi yang lebih besar: kolaborasi strategis Indonesia–Australia melalui program KITA SEHAT (Kemitraan Indonesia–Australia untuk Transformasi Kesehatan) yang baru saja ditandatangani Presiden Prabowo Subianto bersama Perdana Menteri Australia. Dengan investasi AUD 100 juta, program ini diharapkan memperkuat layanan kesehatan primer, menangani stunting dan gizi, serta membangun SDM kesehatan manusia maupun hewan.
“BPOM hadir sebagai pengawal mutu dan keamanan. Tapi lebih dari itu, kami ingin menjadi fasilitator agar inovasi bisa cepat sampai ke masyarakat,” jelas Prof Taruna dengan penuh keyakinan.
Wawancara itu berakhir dengan sesi foto sederhana. Namun di balik jepretan kamera, tersimpan pesan kuat: Indonesia siap melangkah ke level berikutnya dalam dunia kesehatan global. Dan di garis depan, sosok Prof Taruna Ikrar berdiri sebagai wajah dari transformasi itu — ilmuwan, pemimpin, sekaligus diplomat kesehatan bangsa. (andi esse)