Prof. Taruna Ikrar (tengah) bersama pimpinan CanSino Biologics dan PT Etana Biotech usai pertemuan strategis di Tianjin, Tiongkok, memperkuat kolaborasi inovasi dan kemandirian vaksin Indonesia.
Kepala BPOM Prof. Taruna Ikrar memperkuat kerja sama strategis dengan CanSino Biologics di Tianjin, Tiongkok, untuk mempercepat inovasi vaksin dan memperkuat kemandirian bioteknologi nasional. Langkah ini menandai era baru diplomasi ilmiah Indonesia di panggung global.
menitindonesia, BEIJING — Di sebuah ruang rapat modern di Tianjin, Tiongkok, Jumat (7/11/2025), aroma kolaborasi ilmiah mengalir hangat. Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., bersama delegasi BPOM yakni Deputi I dr. William Adi Teja, MD., BMed., MMed., dan Kepala Biro KSH, Lynda Kurnia Wardhani, S.E., MSi., Ph.D., duduk berhadapan dengan jajaran pimpinan CanSino Biologics Inc., perusahaan bioteknologi raksasa asal Negeri Tirai Bambu yang namanya melambung sejak pandemi COVID-19.
Di sisi lain meja, hadir pula para pejabat Tianjin Medical Products Administration (TJMPA) — otoritas kesehatan regional yang menjadi lengan penting pengawasan obat dan vaksin di Tiongkok.
Pertemuan itu menjadi bagian dari babak baru perjalanan panjang Indonesia menuju kemandirian vaksin nasional.
Dari Regulasi ke Inovasi
Taruna Ikrar membuka pembicaraan dengan nada ilmiah sekaligus diplomatis. “Pertemuan ini menekankan pentingnya kemitraan ilmiah dan regulatori antara Indonesia dan Tiongkok, khususnya dalam mempercepat ketersediaan vaksin yang aman dan berkualitas,” ujarnya.
Ia menyebut kerja sama lintas negara ini sebagai model ideal bagaimana sains dan kebijakan publik bisa saling menopang: BPOM sebagai regulator yang visioner, dan CanSino sebagai mitra industri berkelas dunia.
Deputy Director TJMPA, Zhang Shengxi, menyambut gagasan itu. Ia menegaskan bahwa hubungan BPOM–NMPA (otoritas pusat Tiongkok) akan terus diperkuat melalui pertukaran informasi regulatori dan sinergi pengawasan obat serta vaksin. “Ini bukan hanya kerja sama antar lembaga, tapi juga jembatan antara dua ekosistem bioteknologi,” katanya.
Menembus Batas Produksi Global
CanSino Biologics kini bertransformasi menjadi perusahaan biofarmasi terintegrasi, mencakup penelitian, produksi, dan pemasaran di lebih dari sepuluh negara.
Salah satu proyek yang paling menonjol dalam kolaborasinya dengan Indonesia adalah produksi lokal vaksin Pneucia13 (PCV13) — vaksin pencegah infeksi Streptococcus pneumoniae penyebab pneumonia, meningitis, dan sepsis.
Produksi dilakukan oleh PT Etana Biotechnologies Indonesia dengan dukungan alih teknologi dari CanSino.
Taruna menyebut inisiatif ini sebagai “tonggak penting dalam strategi kemandirian vaksin nasional. “Lewat alih teknologi dan fill-finish di dalam negeri, Indonesia bukan lagi pasar vaksin, tapi produsen berdaulat,” katanya.
Etana mengelola tahap pengemasan steril sesuai standar Good Manufacturing Practices (GMP), sementara CanSino menyediakan bahan aktif (active pharmaceutical ingredient/API) dan teknologi hulu.
Sinergi itu, menurut Taruna, adalah contoh konkret dari bagaimana transfer ilmu bisa menumbuhkan industri dalam negeri tanpa kehilangan kualitas global.
Infografis diplomasi sains Prof. Taruna Ikrar di Tianjin, Tiongkok — menggambarkan kolaborasi BPOM, CanSino Biologics, dan PT Etana Biotech dalam memperkuat inovasi serta kemandirian vaksin Indonesia.
Teknologi, Gen, dan Harapan
Dalam sesi paparan, Kepala BPOM memaparkan arah besar lembaganya: memperkuat kapasitas regulatory science, terutama dalam bidang bioteknologi, terapi gen, dan produk terapi lanjut (ATMPs).
BPOM, kata Taruna, telah mengadopsi inspeksi berbasis risiko sejalan dengan standar WHO dan Pharmaceutical Inspection Cooperation Scheme (PIC/S). Ia menegaskan, “Era bioteknologi menuntut regulator yang tidak hanya waspada, tapi juga adaptif terhadap inovasi.”
CanSino pun menampilkan proyek kolaboratif lainnya — vaksin inhalasi tuberkulosis (AdTB105K) berbasis Ad5-vector — yang dikembangkan bersama Etana. Vaksin ini dirancang untuk mencegah infeksi baru sekaligus reaktivasi TB laten, menjawab tantangan penyakit menular yang hingga kini masih jadi momok di negara berkembang.
Diplomasi Ilmiah sebagai Jalan Sehat Bangsa
Kunjungan ke Tianjin ini melengkapi serangkaian diplomasi ilmiah Taruna Ikrar di Tiongkok, setelah sebelumnya ia menjadi pembicara di sejumlah forum akademik seperti di Xiamen University dan Tsinghua University.
Bagi Taruna, diplomasi kesehatan bukan sekadar urusan vaksin atau laboratorium, melainkan tentang ketahanan bangsa. “Sains adalah bahasa universal yang bisa menyatukan negara, memperkuat kepercayaan, dan membuka jalan bagi kemajuan bersama,” ujarnya menutup pertemuan.
Di luar ruang rapat, para teknokrat, ilmuwan, dan diplomat kesehatan itu berpose bersama — simbol persahabatan ilmiah yang melampaui sekat politik.
Dari Tianjin, Indonesia membawa pulang lebih dari sekadar nota kesepahaman: sebuah keyakinan bahwa masa depan kesehatan publik harus dibangun lewat ilmu pengetahuan dan kolaborasi lintas bangsa. (AE)