Kepala BPOM Prof. Taruna Ikrar (berjas hitam) berdiskusi dengan tim riset Beijing Tiantan Hospital di Beijing, Tiongkok, Rabu (5/11/2025). Kunjungan ini menjadi langkah strategis memperkuat kerja sama riset klinis dan inovasi terapi stroke antara Indonesia dan Tiongkok.
Kepala BPOM Taruna Ikrar memperkuat diplomasi kesehatan Indonesia lewat kerja sama riset klinis dengan Beijing Tiantan Hospital, pusat neurologi terkemuka di Tiongkok. Kolaborasi ini menandai langkah strategis menuju inovasi terapi stroke dan penyakit saraf berbasis ilmu pengetahuan.
menitindonesia, BEIJING — Udara Beijing sore itu dingin dan berembus pelan di pelataran Beijing Tiantan Hospital, Rabu (5/11/2025). Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., bersama Deputi I dr. William Adi Teja, MD., BMed., MMed., dan Kepala Biro Kerjasama dan Humas BPOM Lynda Kurnia Wardhani, S.E., MSi, Ph.D., berjalan perlahan, beriringan. Di depan gedung utama rumah sakit yang dikenal sebagai pusat nasional neurologi itu, bendera merah-putih kecil berkibar berdampingan dengan bendera Tiongkok.
Pertemuan itu, bukan seremoni diplomatik biasa. Bagi Taruna, yang dikenal sebagai ilmuwan saraf dengan reputasi global, kunjungan ini merupakan langkah konkret memperluas jejaring riset klinis dan membangun diplomasi ilmiah antarbangsa.
“Kerja sama ini bukan hanya soal riset, tapi tentang masa depan kemanusiaan,” ucapnya membuka dialog dengan suara tenang, penuh keyakinan.
Menyatukan Ilmu dan Regulasi
Beijing Tiantan Hospital berdiri sebagai simbol kemajuan medis Tiongkok. Berafiliasi dengan Capital Medical University, rumah sakit ini menjadi pusat unggulan dalam riset stroke dan terapi neurologi. Di sinilah lahir inovasi medis berbasis teknologi tinggi, mulai dari cell and gene therapy hingga big data untuk riset penyakit saraf.
Dalam forum resmi itu, Taruna menekankan pentingnya membangun kolaborasi lintas batas: riset bersama tentang stroke iskemik, pertukaran pengetahuan bedah saraf, hingga pengembangan kapasitas evaluasi uji klinik. “BPOM kini bukan hanya regulator, tapi mitra ilmiah yang aktif memperkuat sistem riset dan memastikan inovasi berjalan dengan aman dan berbasis bukti,” ujarnya.
Ruijun Ji, perwakilan dari China National Clinical Research Center for Neurological Diseases, memaparkan capaian mereka. Dalam lima tahun terakhir, Tiantan telah menjalankan lima proyek terapi gen untuk pasien stroke akut. “Kami menyambut baik kolaborasi dengan BPOM. Kita bisa berbagi pengalaman dalam kebijakan regulatori dan pelaksanaan uji klinik multisenter,” katanya.
Di ruang rapat itu, sains dan diplomasi berpadu. Taruna mendengarkan dengan saksama, mencatat, lalu menimpali dengan ide membangun hospital-based research infrastructure di Indonesia. Gagasannya sederhana namun visioner: menjadikan rumah sakit bukan hanya tempat penyembuhan, tapi juga pusat inovasi ilmiah.
Misi Kemanusiaan Melintasi Batas
Di akhir pertemuan, Taruna Ikrar menutup sambutan dengan kalimat yang menggema di ruang diskusi: “Melalui kolaborasi ilmiah, kita tidak hanya mempercepat inovasi medis, tapi juga memperkaya peradaban manusia.”
Kalimat itu menjadi semacam manifestonya — bahwa diplomasi kesehatan bisa menjadi kekuatan lembut (soft power) Indonesia di panggung dunia. Melalui riset klinis, pertukaran pengetahuan, dan dialog ilmiah, Indonesia membangun jembatan kemanusiaan yang tak kasat mata namun kokoh.
Kunjungan ke Tiantan Hospital menjadi simbol bahwa sains bukan lagi urusan laboratorium semata, melainkan alat untuk membangun diplomasi antarbangsa. Dan di tengah pusaran itu, BPOM hadir bukan sekadar lembaga pengawas, melainkan katalis perubahan menuju masa depan kesehatan global yang lebih inklusif dan berbasis pengetahuan. (AE)